Showing posts with label Lain-lain. Show all posts
Showing posts with label Lain-lain. Show all posts

Saturday, September 15, 2018

MENGENAL ISTILAH THOUGHT STOPPING

mengenal-istilah-thought-stopping



A. Konsep Teknik Penghentian Pikiran Negatif
Thought Stopping Merupakan salah satu teknik yang efektif dan cepat untuk membantu Anda yang sedang terganggu pikiran negatif dan kekhawatiran yang sering menyertai gangguan panik, kecemasan dan agoraphobia.(Davis, M., Eshelman, E.R. and McKay, M.).
Kesalahan berpikir seringkali menimbulkan dampak yang besar bagi konseli.Awalnya masalah tersebut kecil tapi lama-kelamaan menjadi sulit dipecahkan. Thought stopping merupakan suatu teknik untuk mengatur pikiran negatif. Menurut Joseph Wolpe teknik penghentian pikian negatif adalah :
• Suatu teknik rahasia yang digunakan untuk menyembunyikan pemikiran negatif /pemikiran yang merusak diri
• Suatu teknik atau jalan yang sempurna untuk menghilangkan pemikiran negatif dalam diri
Sedangkan menurut GW Stuart, MT Laraia, dan MC Townsend thought stopping adalah :
• Proses penghentian pikiran yang mengganggu
• Prosedur yang digunakan untuk menghentikan pikiran yang mempengaruhi perilaku paksaan atau perilaku keinginan diri sendiri
• Mengganti pikiran tidak sehat menjadi pikiran sehat.
• Tindakan yang digunakan untuk mengubah kebiasaan/pola hidup tidak sehat.
• Kemampuan untuk menghentikan bayangan atas suatu gagasan, gambaran, pikiran, ketakutan atau stimulus yang menyebabkan perilaku yang ttidak sesuai.
• Teknik yang digunakan untuk mengurangi dampak negatif dari stress dan ketakutan
• Teknik pengurangan dampak dari stress yang pernah dialami
Jadi teknik penghentian pikiran negatif adalah salah satu teknik dalam pendekatan behavioral counseling untuk menghentikan pikiran negatif yang mempengaruhi tingkah laku konseli.


B. Karakteristik Thought Stopping
Karakteristik ini antara lain :
1. Model perlakuan kognitif
2. Bersifat instruksional (baik oleh orang lain/diri sendiri)
3. Verbalisasi dan pengisyaratan isi pikiran
4. Pemutusan alur pikiran
5. Interupsi yang bersifat mendadak

C. Tujuan
Tujuan dari penggunaan teknik ini adalah :
• Untuk melemahkan perilaku yang tidak dikehendaki oleh konseli
• Untuk menghentikan pikiran-pikiran negatif akibat pengalaman ynag telah lalu

D. Asumsi
Penggunaan teknik penghentian pikiran negatif ini dimaksudkan karena pikiran dan kepercayaan seseorang terkadang dapat menimbulkan perilaku negatif. Sehingga, perilaku bermasalah atau negatif tersebut dapat diubah melalui pengubahan pikiran dan kepercayaannya.

E. Relefansi
Thought stopping technique ini biasanya digunakan untuk konseli yang mengalami gangguan pikiran obsesif dan membayangkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi (misalnya khawatir bahwa kapal yang akan ditumpangi mereka dalam waktu dua minggu lagi akan mengalami kecelakaan atau khawatir bahwa mereka akan mengalami sakit jiwa ). Teknik ini juga cocok digunakan untuk menangani masalah stes yang berlebihan (tertawa sendiri dan menangis tiba-tiba), ketakutan yang berlebihan (takut pada kucing).

F. Prinsip
Prinsip yang digunakan dalam teknik ini antara lain :
• Penerapan individual lebih menguntungkan karena kalau teknik ini digunakan dalam situasi kelompok maka akan mengganggu konsentrasi dari konseli itu sendiri.
• Mempersyaratkan konsentrasi
• Memerlukan kondisi rileks
• Perancangan dan proses penggunaan teknik ini secara teratur dan berjangka
• Stimulus penghentian harus kuat
• Berikan keleluasaan pengembangan pikiran secara bebas

G. Manfaat Teknik Penghentian Pikiran Negatif
Manfaat dalam penggunaan teknik ini diantaranya adalah :
• Mengurangi perilaku maladaptive
• Mengefektifkan perilaku
• Dapat mengurangi kecemasan seseorang
• Mengurangi mengkritik diri yang tidak sehat
• Dapat membantu konseli dalam mengontrol pikiran negative dan halusinasi yang tidak produktif
• Bermanfaat untuk belajar melupakan pengalaman buruk
• Meningkatkan kontrol pikiran

H. Kendala Teknik Penghentian Pikiran Negatif
Kendala yang dihadapi dalam penggunaan teknik ini adalah :
- Stimulus yang diberikan kurang kuat
- Penggunaan waktu kurang efektif
- Lemahnya konsentrasi
- Ragu ketika belum tampak hasilnya
- Ketergesaan mulai sebelum rileks
- Tidak disiplin terhadap prosedur bertahap
- Kurang efektif bila digunakan dalam situasi kelompok
- Hambatan mental
- Setelah diberi interupsi pemikiran negatif pada konseli dapat muncul kembali

I. Prosedur Aplikasi
Langkah-langkah pelaksanaan :
1. Saat konseling ciptakan suasana santai
2. Biarkan konseli mengembangkan pikirannya sampai pikiran negatifnya muncul, diikuti dengan isyarat
3. Instruksi penghentian pikiran dilakukan saat ada isyarat pikiran negative muncul
Penghentian dalam arahan konselor
a. Overt : penghentian dengan kata
b. Covert : pengehentian dengan isyarat
Penghentian secara mandiri
a. Overt : penghentian dengan kata
b. Covert : pengehentian dengan isyarat
Dalam penghentian pikiran, konseli mula-mula disuruh untuk berkonsentrasi pada pikiran-pikiran obsesif dan yang menyebabkan kecemasan serta kemudian mengungkapkan pikiran-pikiran itu dengan suara lantang. Ketika konseli mulai memunculkan pikiran-pikiran itu, konselor tiba-tiba dengan suara keras berteriak “STOP”. Prosedur ini diulang beberapa kali sampai konseli melaporkan bahwa pikiran-pikiran negatifnya berhasil diinterupsi. Kemudian tanggung jawab untuk intervensi itu dialihkan kepada konseli sehingga konseli sekarang mengatakan kepada dirinya sendiri dengan suara keras “STOP” bila ia mulai berpikir tentang pikiran-pikiran yang menganggu. Segera setelah teriakan yang keras efektif dalam mengehntikan pikiran-pikiran yang menganggu itu, konseli kemudian memulai mempraktekkan sendiri perkataan “STOP” dalam hati (secara diam-diam) manakala pikiran-pikiran yang menganggu itu muncul.

HIPERTENSI

Pengertian Hipertensi tanda dan gejala


Hipertensi adalah penyebab kematian karena stroke dan faktor yang memperberat infark miokard (serangan jantung). Kondisi tersebut merupakan gangguan yang paling umum pada tekanan darah, hipertensi merupakan gangguan asimptomatik yang sering terjadi ditandai dengan peningkatan tekanan darah secara persisten (Potter & Perry, 2006). 

Hipertensi adalah sebagai tekanan persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg, hipertensi merupakan penyakit yang kedua yang banyak diderita oleh usia lanjut setelah artritis (Smeltzer & Bare, 2002). 

Menurut Word Health Organization (WHO) batas normal tekanan darah adalah 120-140 mmHg tekanan sistolik dan 80-90 mmHg tekanan diastolik. Seseorang dinyatakan menderita hipertensi bila tekanan darahnya lebih dari 140/90  mmHg. WHO menyatakan bahwa  penyakit yang pembunuh utama di kawasan negara berkembang sudah bergeser dari penyakit menular ke penyakit tidak menular.

Dari seluruh kematian didunia tahun 2000 (55.6994.000 kematian). Kecelakaan dan sisanya akibat penyakit menular serta penyakit lain. Salah satu peyakit tidak menular yang  prevalensinya cukup tinggi yaitu hipertensi. Hipertensi merupakan penyebab utama gagal jantung, stroke dan gagal ginjal (Smeltzer & Bare, 2002).

Seiring bertambahnya usia, kepekaan terhadap hipertensi akan semakin meningkat seiring bertambahnya umur seseorang. Individu yang berumur diatas 60 tahun, 50-60 % mempunyai tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg. Hal ini merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi pada orang yang lanjut usia atau lansia (Susilo & Wulandari, 2011).

Pengobatan hipertensi terdiri dari terapi farmakologis dan nonfarmakologis. Terapi farmakologis jenis-jenis obat anti hipertensi untuk terapi farmakologis yang dianjurkan oleh JNC 7 adalah jenis dieretika, terutama jenis Thiazide (Thiaz) atau Aldosterone Antagonist (Aldo Ant), Beta Blocker (BB), Calcium Channel Bloker atau Calcium antagonist (CCB), Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI), Angiotensin II Receptor Blocker atau ATi receptor antagonist/blocker (ARB). 

Terapi non farmakologis terdiri dari menghentikan merokok, menurunkan berat badan berlebih, menurunkan konsumsi alkohol berlebih, latihan fisik, menurunkan asupan garam, meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta menurunkan asupan lemak (Potter & Perry, 2009). Terapi non farmakologis selalu menjadi hal yang penting dilakukan pada penderita hipertensi berusia lanjut. 

Langkah awal pengobatan hipertensi secara non farmakologi adalah dengan menjalani gaya hidup sehat, salah satunya dengan terapi komplementer yang menggunakan bahan- bahan alami yang ada disekitar kita, seperti relaksasi otot progresif, meditasi, aromaterapi, terapi herbal, terapi nutrisi. Teknik relaksasi memberikan individu mengontrol diri ketika terjadi rasa tidak nyaman atau nyeri (Susilo & Wulandari, 2011).

1. Definisi
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan diastoliknya di atas 90 mmHg (Smeltzer dan Bare, 2001 dalam Ahmad, 2009).
Menurut WHO (World Health Organization), batas normal adalah 120-140 mmHg sistolik dan 80-90 mmHg diastolik. Jadi seseorang disebut mengidap hipertensi jika tekanan darah sistolik = 160 mmHg dan tekanan darah diastolik = 95 mmHg, dan tekanan darah perbatasan bila tekanan darah sistolik antara 140 mmHg-160 mmHg dan tekanan darah diastolik antara 90 mmHg-95 mmHg (Poerwati, 2008).
Sedangkan menurut lembaga-lembaga kesehatan nasional (The National Institutes of Health) mendefinisikan hipertensi sebagai tekanan sistolik yang sama atau di atas 140 dan tekanan diastolik yang sama atau di atas 90 (Diehl.2007).

2. Klasifikasi Hipertensi
Berdasarkan penyebab dikenal 2 jenis hipertensi, yaitu :
a. Hipertensi primer
Hipertensi primer juga disebut hipertensi ‘esensial’ atau ‘idiopatik’ dan merupakan 95% dari kasus-kasus hipertensi. Selama 75 tahun terakhir telah banyak penelitian untuk mencari etiologinya. Tekanan darah merupakan hasil curah jantung dan resistensi vascular, sehingga tekanan darah meningkat jika curah jantung meningkat, resistensi vascular perifer bertambah, atau keduanya. Beberapa faktor yang pernah dikemukakan relevan terhadap mekanisme penyebab hipertensi yaitu, genetik, lingkungan, jenis kelamin, dan natrium (gray.dkk, 2005).
b. Hipertensi renal atau hipertensi sekunder
Sekitar 5% kasus hipertensi telah diketahui penyebabnya, dan dapat dikelompokkan seperti, penyakit parengkim ginjal (3%) dimana setiap penyebab gagal ginjal (glomerulonefritis, pielonefritis, sebab-sebab penyumbatan) yang menyebabkan kerusakan parenkim akan cenderung  menimbulkan hipertensi dan hipertensi itu sendiri akan mengakibatkan  kerusakan ginjal. Penyakit renovaskular (1%) dimana terdiri atas penyakit yang menyebabkan gangguan pasokan darah ginjal dan secara umum di bagi atas aterosklerosis dan fibrodisplasia. Endokrin (1%) jika terdapa hipokalemia bersama hipertensi, tingginya kadar aldosteron dan rennin yang rendah akan mengakibatkan kelebihan-kelebihan (overload) natrium dan air (Gray.dkk, 2005).
c. kriteria hipertensi
Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, tekanan darah umumnya diukur dengan manometer air raksa yang dinyatakan sebagai rasio sistolik dan diastolik, misalnya 120/70, yang berarti tekanan sistolik adalah 120 mmHg dan diastolik 70 mmHg (Soeharto, 2004). Dari berbagai kepustakaan disebutkan kriteria tekanan darah orang dewasa sebagai berikut.
Normal : apabila tekanan diastolik <85 dan sistolik <130
Hipertensi ringan : apabila diastolik 86-99 dan sistolik 131-159
Hipertensi sedang : apabila diastolik 100-109 dan sistolik 160-179
Hipertensi berat : apabila diastolik 110-119 dan sistolik 180-209
Hipertensi sangat berat : apabila diastolik >120 dan sistolik >210
(AHA, Family Guide to Stroke)

4. Etiologi
Sebagian besar kasus tekanan darah  tinggi tidak dapat disembuhkan. Keadaan tersebut berasal dari suatu kecenderungan genetik yang bercampur dengan faktor-faktor risiko seperti stress, kegemukan, terlalu banyak makan garam, kurang gerak badan dan penyumbatan pembuluh darah. Ini disebut hipertensi esensial. Kalau seseorang mempunyai sejarah hipertensi keluarga dan mengidap hipertensi ringan, dia dapat mengurangi kemungkinan hipertensi berkembang lebih hebat dengan memberi perhatian khusus terhadap faktor-faktor risiko tersebut.untuk kasus-kasus yang lebih berat, diperlukan pengobatan untuk mengontrol tekanan darah. Jenis lain dari hipertensi dikenal sebagai hipertensi sekunder, yaitu kenaikan tekanan darah yang kronis terjadi akibat penyakit lain, seperti kerusakan ginjal, tumor, saraf, renovaskuler dan lain-lain (soeharto,2004).

5. Tanda dan Gejala
Secara umum, tekanan darah tinggi ringan tidak terasa dan tidak mempunyai tanda-tanda. Boleh jadi berlangsung selama beberapa tahun tanpa disadari oleh orang tersebut. Sering hal itu ketahuan tiba-tiba, misalnya pada waktu mengadakan pemeriksaan kesehatan, atau pada saat mengadakan pemeriksaan untuk asuransi jiwa. Kadang-kadang tanda-tanda tekanan darah tinggi yang digambarkan itu adalah sakit kepala, pusing, gugup, dan palpitasi (Knight, 2006).
Pada sebagian orang, tanda pertama naiknya tekanan darahnya ialah apabila terjadi komplikasi. Tanda yang umum ialah sesak nafas pada waktu kerja keras. Ini menunjukkan bahwa otot jantung itu sudah turut terpengaruh sehingga tenaganya sudah berkurang yang ditandai dengan sesak nafas. Pada pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti perdarahan, eksudat (kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat, edema pupil(edema pada diskus optikus) dan penglihatan kabur (Knight, 2006).
Hipertensi tidak memberikan tanda-tanda pada tingkat awal. Kebanyakan orang mengira bahwa sakit kepala terutama pada pagi hari, pusing, berdebar-debar, dan berdengung ditelinga merupakan tanda-tanda hipertensi. Tanda-tanda tersebut sesungguhnya dapat terjadi pada tekanan darah normal, bahkan seringkali tekanan darah yang relatif tinggi tidak memiliki tanda-tanda tersebut. Cara yang tepat untuk meyakinkan seseorang memiliki tekanan darah tinggi adalah dengan mengukur tekanannya. Hipertensi sudah mencapai taraf lanjut, yang berarti telah berlangsung beberapa tahun, akan menyebabkan sakit kepala, pusing, napas pendek, pandangan mata kabur, dan mengganggu tidur (Soeharto, 2004).

6. Faktor-Faktor Risiko Hipertensi
a. Genetik
Dibanding orang kulit putih, orang kulit hitam di negara barat lebih banyak menderita hipertensi, lebih tinggi hipertensinya, dan lebih besar tingkat morbiditasnya maupun mortilitasnya, sehingga diperkirakan ada kaitan hipertensi dengan perbedaan genetik. Beberapa peneliti mengatakan terdapat kelainan pada gen angiotensinogen tetapi mekanismenya mungkin bersifat poligenik (Gray.dkk, 2005)
b. Usia
Kebanyakan orang berusia di atas 60 tahun sering mengalami hipertensi, bagi mereka yang mengalami hipertensi, risiko stroke dan penyakit kardiovaskular yang lain akan meningkat bila tidak ditangani secara benar (Soeharto, 2004).
c. Jenis kelamin
Hipertensi lebih jarang ditemukan pada perempuan pra-monopause dibanding pria, yang menunjukkan adanya pengaruh hormon (Gray.dkk, 2005).
d. Geografi dan lingkungan
Terdapat perbedaan tekanan darah yang nyata antara populasi kelompok daerah kurang makmur dengan daerah maju, seperti bangsa Indian Amerika Selatan yang tekanan darahnya rendah dan tidak banyak meningkat sesuai dengan pertambahan usia disbanding masyarakat barat (Gray.dkk, 2005).
e. Pola hidup
Tingkah laku seseorang mempunyai peranan yang penting terhadap timbulnya hipertensi. Mereka yang kelebihan berat badan di atas 30% , mengkonsumsi banyak garam dapur, dan tidak melakukan latihan mudah terkena hipertensi (Soeharto, 2004).
f. Garam dapur
Sodium adalah mineral yang esensial bagi kesehatan. Ini mengatur keseimbangan air didalam system pembuluh darah. Sebagian sodium dalam diet datang dari makanan dalam bentuk garam dapur atau sodium chlorid (NaCl). Pemasukan sodium mempengaruhi tingkat hipertensi. Mengkonsumsi garam menyebabkan haus dan mendorong kita minum. Hal ini meningkatkan volume darah didalam tubuh, yang berarti jantung harus memompa lebih giat sehingga tekanan darah naik. Kenaikan ini berakibat bagi ginjal yang harus menyaring lebih banyak garam dapur dan air. Karena masukan (input) harus sama dengan pengeluaran (output) dalam system pembuluh darah, jantung harus memompa lebih kuat dengan tekanan darah tinggi (Soeharto, 2004).

g. Merokok
Merokok merupakan salah satu faktor yang dapat diubah, adapun hubungan merokok dengan hipertensi adalah nikotin akan menyebabkan peningkatan tekana darah karena nikotin akan diserap pembulu darah kecil dalam paru-paru dan diedarkan oleh pembuluh darah hingga ke otak, otak akan bereaksi terhadap nikotin dengan memberi sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas efinefrin (Adrenalin). Hormon yang kuat ini akan menyempitkan pembulu darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi.Selain itu, karbon monoksida dalam asap rokokmenggantikan oksigen dalam darah. Hal ini akan menagakibatkan tekana darah karena jantung dipaksa memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup kedalam organ dan jaringan tubuh ( Astawan, 2002 dalam wijaya, 2009 ).
7. Komplikasi
Stroke dapat timbul akibat perdarahan tekanan tinggi di otak, atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non otak yang terpajan tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertropi dan menebal, sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahinya berkurang. Arteri-arteri otak yang mengalami arterosklerosis dapat melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma (Corwin, 2005).
Gejala terkena stroke adalah sakit kepala secara tiba-tiba, seperti, orang bingung, limbung atau bertingkah laku seperti orang mabuk, salah satu bagian tubuh terasa lemah atau sulit digerakan (misalnya wajah, mulut, atau lengan terasa kaku, tidak dapat berbicara secara jelas) serta tidak sadarkan diri secara mendadak (Santoso, 2006).
Infark Miokard dapat terjadi apabila arteri koroner yang arterosklerosis tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk trombus yang menghambat aliran darah melalui pembuluh darah tersebut. Karena hipertensi kronik dan hipertensi ventrikel, maka kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat terpenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga hipertropi ventrikel dapat menimbulkan perubahan-perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan resiko pembentukan bekuan (Corwin, 2002). 
Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada kapiler-kepiler ginjal, glomerolus. Dengan rusaknya glomerolus, darah akan mengalir keunit-unit fungsional ginjal, nefron akan terganggu dan dapat berlanjut menjadi hipoksia dan kematian. Dengan rusaknya membran glomerolus, protein akan keluar melalui urin sehingga tekanan osmotik koloid plasma berkurang, menyebabkan edema yang sering dijumpai pada hipertensi kronik (Corwin, 2005).
Gagal jantung atau ketidakmampuan jantung dalam memompa darah yang kembalinya kejantung dengan cepat mengakibatkan cairan terkumpul di paru,kaki dan jaringan lain sering disebut edma.Cairan didalam paru – paru menyebabkan sesak napas,timbunan cairan ditungkai menyebabkan kaki bengkak atau sering dikatakan edema (Amir, 2002)
Ensefalopati dapat terjadi terjadi terutama pada hipertensi maligna (hipertensi yang cepat). Tekanan yang tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke dalam ruang intertisium diseluruh susunan saraf pusat. Neron- neron disekitarnya kolap dan terjadi koma serta kematian (Corwin, 2005).
8. Pengobatan Hipertensi
a. Umum
Setelah diagnosa hipertensi ditegakkan dan diklasifikasikan menurut golongan atau derajatnya, maka dapat dilakukan dua strategi penatalaknaan dasar yaitu :
1) Non farmakologik, yaitu tindakan untuk mengurangi faktor risiko yang telah diketahui akan menyebabkan atau menimbulkan komplikasi, misalnya menghilangkan obesitas, menghentikan kebiasaan merokok, alkohol, dan mengurangi asupan garam serta rileks.
2) Farmakologik, yaitu memberikan obat anti hipertensi ygang telah terbukti kegunaannya dan keamanannya bagi penderita. Obat-obatan yang digunakan pada hipertensi adalah :
a) Diuretik, contohnya furosemide, triamferena, spironolactone
b) Beta blockers, contohnya metaprolol, atenolol, timolol
c) ACE-inhibitor, contohnya  lisinopril, captopril, quinapril
d) Alpha-blockers, contohnya prazosin, terazosin
e) Antagonis kalsium, contohnya diltiazem, amlodipine, nifedipine
f) Vasodilator-direct, contohnya minixidil, mitralazine
g) Angiotensin reseptor antagonis, contohnya losartan.
h) False-neurotransmiter, contohnya clodine, metildopa, guanabens.
b. Khusus
Upaya terapi khusus ditujukan untuk penderita hipertensi sekunder yang jumlahnya kurang lebih 10 % dari total penderita hipertensi. Tanda- tanda dan penyebab hipertensi perlu dikenali sehingga penderita dapat di rujuk lebih dini dan terapi yang tepat dapat dilakukan dengan cepat. Perlu pemerikasaan dengan sarana yang canggih.

9. Pencegahan
Pencegahan lebih baik daripada pengobatan, demikian juga terhadap hipertensi. Pada umumnya, orang berusaha mengenali hipertensi jika dirinya atau keluarganya sakit keras atau meninggal dunia akibat hipertensi. Tidak semua penderita hipertensi memerlukan obat. Apabila hipertensinya tergolong ringan maka masih dapat dikontrol melalui sikap hidup sehari-hari. Pengontrolan sikap hidup ini merupakan langkah pencegahan amat baik agar penderita hipertensi tidak kambuh gejala penyakitnya. Usaha pencegahan juga bermanfaat bagi penderita hipertensi agar penyakitnya tidak menjadi parah, tentunya harus disertai pemakaian obat-obatan yang ditentukan oleh dokter. Agar terhindar dari komplikasi fatal hipertensi, harus diambil tindakan pencegahan yang baik (Stop High Blood Pressure), antara lain dengan cara menghindari faktor risiko hipertensi.
a. Pola makan
Makanan merupakan faktor penting yang menentukan tekanan darah. Mengkonsumsi buah dan sayuran segar dan menerapkan pola makan yang rendah lemak jenuh, kolesterol, lemak total, serta kaya akan buah, sayur, serta produk susu rendah lemak telah terbukti secara klinis dapat menurunkan tekanan darah. Untuk menanggulangi keadaan tekanan darah yang tinggi, secara garis besar ada empat macam diet, yaitu :
1) Diet rendah garam
Ada tiga macam diet rendah garam (sodium) yaitu :
a) Diet ringan, boleh mengkonsumsi 1,5-3 gram sodium perhari, senilai dengan 3,75-7,5 gram garam dapur.
b) Diet menengah, boleh mengkonsumsi 0,5-1,5 gram sodium perhari, seniali 1,25-3,75 gram garam dapur.
c) Diet berat, hanya boleh mengkonsumsi dari 0,5 gram sodium atau kurang dari 1,25 gram garam dapur perhari.
Tujuan diet rendah garam untuk membantu menghilangkan retensi  (penahan) air dalam jaringan tubuh sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Walaupun rendah garam, yang penting diperhatikan dalam melakukan diet ini adalah komposisi makanan harus tetap mengandung cukup zat-zat gizi, baik kalori, protein, mineral maupun vitamin yang seimbang. 
2) Diet rendah kolesterol dan lemak terbatas
Diet ini bertujuan untuk menurunkan kadar kolesterol darah dan menurunkan berat badan bagi penderita yang kegemukan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengatur diet ini antara lain sebagai berikut :
a) Hindari penggunaan lemak hewan, margarin dan mentega terutama goreng-gorengan atau makanan yang digoreng dengan minyak.
b) Batasi konsumsi daging, hati, limpa, dan jenis lainnya serta sea food (udang, kepiting), minyak kelapa dan kelapa (santan).
c) Batasi konsumsi kuning telur, paling banyak tiga butir dalam seminggu.
d) Lebih sering mengkonsumsi tempe, tahu, dan jenis kacang.
e) Batasi penggunaan gula dan makanan yang manis manis, seperti sirup, dodol, kue, dan lain-lain.
f) Lebih banyak mengkonsumsi sayuran dan buah, kecuali durian dan nangka. Selain itu, juga harus memperhatikan gabungan makanan yang dikonsumsi karena perlu disesuaikan dengan kadar kolesterol darah.
3) Diet tinggi serat
Diet tekanan darah tinggi dianjurkan setiap hari mengkonsumsi makanan berserat tinggi. Beberapa contoh jenis bahan makanan yang mengandung serat tinggi yaitu :
a) Golongan buah-buahan, seperti jambu biji, belimbing, papaya, mangga, apel, semangka dan pisang.
b) Golongan sayuran, seperti bawang putih, daun kacang panjang, kacang panjang, daun singkong, tomat, wortel, touge.
c) Golongan protein nabati seperti kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai, kacang merah, dan biji-bijian.
d) Makanan lainnya seperti agar-agar dan rumput laut.
e) Diet rendah kalori bagi yang kegemukan
f) Orang yang berat badannya lebih (kegemukan) akan beresiko tinggi terkena hipertensi. Demikian juga orang yang berusia diatas usia 40 tahun.
Penanggulangan hipertensi dapat dilakukan dengan pembatasan asupan kalori, hal yang harus diperhatikan yaitu :
a) Asupan kalori dikurangi sekitar 25%
b) Menu makanan harus seimbang dan memenuhi kebutuhan zat gizi
c) Aktivitas olahraga dipilih yang ringan-sedang

b. Pola istirahat
Pemulihan anggota tubuh yang lelah beraktifitas sehari penuh untuk menetralisir tekanan darah.
c. Pola aktivitas
Tekanan darah. Jenis latihan yang dapat mengontrol tekanan darah yaitu : bejalan kaki, bersepeda, berenang, aerobik. Kegiatan atau pekerjaan sehari-hari yang lebih aktif baik fisik maupun mental memerlukan energi / kalori yang lebih banyak. Orang dengan gaya hidup yang tidak aktif akan rentan terhadap tekanan darah tinggi. Melakukan olahraga secara teratur tidak hanya menjaga bentuk dan berat badan, tetapi juga dapat menurunkan tekanan darah.  
d. Pengobatan
Hipertensi esensial tidak dapat diobati tetapi diberikan pengobatan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Langkah awal biasanya adalah merubah pola hidup penderita:
1) Penderita hipertensi yang mengalami kelebihan berat badannya sampai batas ideal.
2) Merubah pola makan pada penderita diabetes, kegemukan atau kadar kolesterol darah tinggi. Mengurangi pemakaian garam serta mengurangi alkohol.
3) olahraga
4) berhenti merokok (Malasari. 2008).

Tuesday, January 30, 2018

THERAPY COMPLEMENTER DALAM KEPERAWATAN


therapy complementer

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Setiap insan dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan organ tubuh yang canggih, seimbang dan teratur serta diberi anugrah pikiran, supaya dapat digunakan untuk menimbang mana sesuatu yang baik dan mana yang buruk untuk dirinya. Kesehatan adalah proses melalui mana kita membentuk kembali dasar asumsi dan pandangan dunia tentang kesejahteraan dan melihat kematian sebagai alami proses kehidupan (Dossey & Keegan, 2008). Ini adalah keadaan lengkap fisik, mental, kesejahteraan sosial, dan bukan hanya ketiadaan penyakit saja.
Keadaan ini adalah satu di mana individu (perawat, klien, keluarga, kelompok, atau masyarakat) mengalami rasa kesejahteraan, harmoni, dan kesatuan di mana pengalaman subjektif tentang kesehatan, keyakinan kesehatan, dan nilai-nilai yang dihormati. Budaya kerendahan hati ditujukan di mana perawat model nonjudgment, keterlibatan, dan keinginan untuk memahami dimensi budaya dan kesehatan perawatan. Untuk menjadi budaya rendah hati adalah untuk menunjukkan rasa hormat dan pemahaman orang lain yang mungkin memiliki praktik, nilai, dan perspektif yang berbeda dari seseorang sendiri. Ini meliputi kesediaan dengan budaya sendiri kritik seseorang dan motivasi untuk memahami budaya orang lain, memberikan perhatian pada kesamaan, perbedaan, dan kekuasaan. 
Terapi di keperawatan adalah konsep diri sebagai penyembuh harus dipahami dan dialami oleh setiap perawat untuk akan pengetahuan dan terampil dalam pengiriman,arahan,atau konseling,pasien dalam penggunaan berbagai terapi. Hal ini mencakup pemahaman kesehatan. Terapi Komplementer ini sudah dikenal secara luas serta telah digunakan sejak dulu dalam dunia kesehatan. Namun, dalam beberapa survei yang telah dilakukan mengenai penggunaan terapi komplementer, cakupan terapi komplementer sendiri masih agak terbatas. Seperti Thomas Friedman (2005) mengatakan; saat ini, dunia kesehatan, termasuk salah satunya praktisi keperawatan masih bingung tentang apa itu terapi komplementer. Memperluas pengetahuan tentang perspektif obat pelengkap seperti terapi komplementer, dilakukan oleh sebagian orang-orang dalam beberapa budaya di dunia yaitu sangat penting untuk perawatan kesehatan yang kompeten. 
Terapi komplementer adalah salah satu model terapi yang digunakan perawat dalam melakukan perawatan kepada pasien. Untuk perawat di seluruh dunia yang menggunakan terapi komplementer kepada pasien dapat memberikan layanan yang berkualitas holistik. Pelengkap & Alternatif Terapi di keperawatan dapat menggambarkan bagaimana perawat dapat membantu pasien dalam penyembuhannya. perawat mengakui bahwa penggunaan terapi komplementer dapat menyebabkan pemahaman pribadi dan makna yang lebih komplek. 
Dalam masing-masing terapi komplementer, komunikasi penyembuhan sering terjadi antara perawat dan pasien. Ini adalah aliran bebas dari verbal dan nonverbal pertukaran antara dua atau lebih orang dan mungkin juga memasukkan cerita terkait dengan makhluk yang signifikan, seperti hewan peliharaan, alam, dan Tuhan atau Life Force di mana makna dan pengalaman dapat menyebabkan saling memahami dan mengerti. Perawat harus mengintegrasikan kehadirannya. Kehadiran adalah hal penting dalam penyembuhan dan cara mendekati seorang individu dalam cara saling menghormati dan menghormati esensi nya. Hal ini berkaitan dengan cara yang mencerminkan kualitas dan kolaborasi dengan orang lain. Hal ini memungkinkan perawat untuk masuk ke dalam pengalaman yang mempromosikan potensi penyembuhan dan pengalaman kesejahteraan pasien. 
Terapi di Perawatan adalah bahwa konsep diri sebagai penyembuh harus dipahami dan dialami oleh setiap perawat untuk dia atau dia akan berpengetahuan dan terampil dalam pengiriman, arahan, atau konseling pasien dalam penggunaan terapi komplementer atau alternatif. Minat yang kuat dalam terapi penyembuhan efektif dan praktek dari negara dan budaya di seluruh dunia dalam penyediaan layanan kesehatan. Dunia menjadi semakin kecil, dengan ini perlu memahami penggunaan terapi CAM dan praktek adat untuk berbagai budaya dan populasi.
Perubahan ini dapat berfungsi untuk memperluas dan memperdalam pemahaman kita tentang dasar dan penggunaan terapi komplementer. Penggunaan terapi komplementer komplementer ini, manusia menjadi peduli dan berpengetahuan. Ini adalah keadaan moral di mana perawat membawa pasien ke dalam hubungan yang signifikan makhluk yang memperkuat makna dan pengalaman kesatuan dan persatuan. Bekerja dengan pasien untuk memilih dan menerapkan terapi ini adalah hak istimewa dan tanggung jawab. Hal ini bermanfaat bagi perawat masing-masing, yang memiliki pengalaman terapi sebelum menggunakannya sehingga dapat mengantisipasi berbagai emosi yang mungkin terwujud selama dan sesudah sesi. Perawat yang mengintegrasikan komplementer atau terapi alternatif yang menunjukkan kapasitas kepemimpinan untuk menginspirasi orang lain untuk bertindak untuk mengubah pelayanan kesehatan yang dapat menyebabkan orang sehat dan dunia yang sehat (Nightingale Initiative for Global Health, 2009). 
Untuk mengubah pelayanan kesehatan untuk memasukkan praktek yang berpusat pada pasien dan melibatkan perawat dalam hubungan yang memadukan terapi komplementer atau alternatif . Terapi ini menyebabkan perkembangan penyembuhan individu, organisasi, dan masyarakat. Mayoritas masyarakat sudah menggunakan terapi ini, dan permintaan hanya terus berkembang. Hal ini penting bagi perawat untuk memiliki sumber daya yang tersedia dan memberikan informasi terkini tentang pengobatan komplementer dan alternatif (CAM). Perawat perlu sumber daya untuk menyediakan pasien dengan dasar informasi serta jawaban atas pertanyaan mereka tentang CAM terapi, termasuk pertanyaan tentang keamanan dan kemanjuran. 
Perawat professional perlu informasi tentang potensi kontraindikasi untuk terapi ini serta potensi interaksi mereka dengan bersamaan ditentukan terapi medis konvensional. Kita juga perlu pengetahuan tentang terapi diri kita sendiri sehingga kita dapat menawarkan pasien sebagai pilihan yang diperluas untuk kenyamana. Perawat tidak kehilangan kesempatan untuk mempekerjakan terapi yang bisa menguntungkan pasien yang kesakitan (dapat meringankan) atau mencegah kegelisahan, juga penting bagi perawat untuk mengidentifikasi terapi yang mungkin disalahgunakan atau memiliki efek samping pada pengguna. 
Penggunaan terapi komplementer adalah sebuah usaha di mana perawat dapat integral terlibat. Banyak perawat telah menyediakan kepemimpinan dalam penelitian, pendidikan, dan praktek aplikasi terapi ini. Sebagai permintaan konsumen untuk penggunaan terapi komplementer terus meningkat, sangat penting bahwa perawat mendapatkan pengetahuan tentang terapi pelengkap, sehingga mereka dapat memilih dan memasukkan pasien dalam praktek, dan memberikan pasien dengan informasi tentang terapi, dihubungi tentang penelitian dan praktek pedoman yang berkaitan dengan pelengkap terapi, pasien waspada terhadap kontraindikasi mungkin dan bahkan menggabungkan beberapa terapi ini ke perawatan diri mereka.

Therapy Complementer
1. Pengertian 
Menurut WHO (World Health Organization), Pengobatan komplementer adalah pengobatan non-konvensional yang bukan berasal dari negara yang bersangkutan, sehingga  untuk Indonesia jamu misalnya, bukan termasuk pengobatan komplementer tetapi merupakan pengobatan tradisional. Pengobatan tradisional yang dimaksud adalah pengobatan yang sudah dari zaman dahulu digunakan dan diturunkan secara turun – temurun pada suatu negara. Tetapi di Philipina misalnya, jamu Indonesia bisa dikategorikan sebagai pengobatan komplementer.
Terapi komplementer  adalah terapi yang digunakan secara bersama-sama dengan terapi lain dan bukan untuk menggantikan terapi medis. Terapi komplementer  dapat digunakan sebagai single therapy ketika digunakan untuk meningkatkan kesehatan (Sparber, 2005)
Terapi Komplementer  adalah cara Penanggulangan Penyakit yang dilakukan sebagai pendukung kepada pengobatan medis konvensional atau sebagai pengobatan pilihan lain diluar pengobatan medis yang Konvensional.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan definisi pengobatan Komplementer tradisional-alternatif adalah pengobatan non konvensional yang di tunjukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, meliputi upaya promotiv,preventive,kuratif, dan rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan, dan evektivitas yang tinggi berandaskan ilmu pengetahuan biomedik tapi belum diterima dalam kedokteran konvensional. Dalam penyelenggaraannya harus sinergis dan terintregrasi dengan pelayanan pengobatan konvensional dengan tenaga pelaksanaanya dokter,dokter gigi, dan tenaga kesehatan lainnya yang memiliki pendidikan dalam bidang pengobatan komplementer tradisional-alternatif. Jenis pengobatan komplementer tradisional-alternatif yang daoat diselenggarakan secara sinergis dan terintergrasi harus di tetapkan oleh menteri kesehatan setelah memalui pengkajian.

2. Strategi dalam menjalankan terapi komplementer
Setiap melakukan tindakan atau rencana, kita sudah barang tentu akan berhadapan dengan sebuah strategi. Strategi ini akan menentukan arah perjalanan tindakan atau rencana yang akan kita lakukan. Termasuk salah satunya adalah bagaimana strategi kita ketika ingin mendirikan terapi komplementer.
Strategi merupakan suatu kelompok keputusan, tentang tujuan-tujuan apa yang akan diupayakan pencapaiannya, tindakan-tindakan apa yang perlu dilakukan, dan bagaimana memamfaatkan sumber-sumber daya guna mencapai tujuan tersebut” (Jones, et al., 2003:2001)
Konsep strategi merupakan sebuah konsep yang perlu dipahami dan diterapkan oleh setiap entrepreneur maupun setiap manajer, dalam segala macam bidang usaha. Sejak beberapa tahun yang lampau, pengertian strategi makin banyak mendapatkan perhatian dan dibahas dalam literatur dalam menajemen. Aneka macam artikel bermunculan sehubungan dengan misalnya: strategi asortimen, produk-strategi, permasalahan strategi, sampai dengan diversifikasi-strategi bisnis. Di dalam mendirikan terapi komplementer sendiri, kita juga bisa berlandas pada elemen esensial sebagai berikut:
1. Tentukan terlebih dahulu tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran yang paling penting yang perlu dicapai.
2. Kebijakan yang paling penting yang mengarahkan atau membatasi kegiatan.
3.Tahapan-tahapan tindakan pokok atau program yang akan mencapai tujuan yang ditetapkan di dalam batas-batas yang digariskan.

Pelengkap terapi komplementer sering diberikan dalam konteks terapi lain. Hal ini membuat kita sulit untuk membedakan efek dari terapi komplementer dari orang-orang terhadap terapi lain yang diberikan secara bersamaan, sedangkan bedah termasuk efek dari penyakit lainnya secara proses dan perawatannya. Terapi komplementer mungkin memiliki efek langsung dan efek tidak langsung serta efek bermanfaat dan merugikan. Dan ini harus ditentukan melalui pengamatan sistematis dan penelitian.Walaupun mekanisme tindakan sudah banyak dilakukan, namun terapi komplemnter masih tetap sulit dipahami. Sulit untuk dimengerti efeknya tanpa melakukan framing terapi, baik di dalam budaya ataupun praktek tradisi penyembuhan. Begitu juga dengan syarat serta hasil yang mampu dicapai di seluruh budaya mungkin tidak sama, sehingga hambatan untuk transglobalkomunikasi dan  belajar dari pengalaman dan didukung bukti dasar. Sekedar mengetahui bahwa terapi bermanfaat, tidak cukup. Pertanyaan yang harus dijawab, misalnya: Kondisi dimana atau seperti apa yang membuat terapi komplementer efektif dilakukan? Apakah saja dosis-dosis yang dibutuhkan? Seberapa sering terapi harus diberikan untuk mencapai manfaat? Berapa lama efeknya? Berapa banyak asuransi terapi yang mencakup?
Kebutuhan studi pada efektivitas-biaya terapi komplementer  dan untuk penelitian yang membandingkan secara kontras tentang terapi komplementer dengan terapi konvensional lainnya (IOM, 2002). Pertimbangan Budaya Studi terapi relevan dengan penuaan populasi, populasi bervariasi tahap perkembangan, dan mereka yang memiliki latar belakang budaya yang beragam juga diperlukan. Populasi ini memberikan tantangan untuk desain, perekrutan, dan pelaksanaan studi. Subyek Lansia sering memiliki berbagai komorbiditas dan dapat mengambil beberapa obat. Bahasa dan kurangnya pemahaman budaya dapat menimbulkan hambatan bagi masuknya imigran baru. Akses ke anak-anak, remaja, orang dewasa yang rentan, dan isu-isu etis yang unik seputar perekrutan dan partisipasi mereka juga dapat dianggap sebagai hambatan bagi masuknya kelompok ini. Ada hasil lain yang ingin dicapai oleh konsumen perawatan kesehatan yaitu terapi ditampilkan memiliki efek kesehatan yang menguntungkan serta bukanlah satu-satunya alasan yang sah untuk penggunaannyaImigran cenderung menggunakan terapi komplementer yang pertama saja dan kemudian mencari bantuan medis konvensional jika ini tidak efektif (Garce's, Scarinici, & Harrison, 2006).
Terapi komplementer mungkin memiliki signifikansi budaya atau kondisi terikat dengan tradisi penyembuhan; terapi dapat menyebabkan perdamaian pikiran pasien. Jika mereka dari negara-negara lain datang ke Amerika Serikat, budaya kepercayaan dalam pengobatan terapi  komplementer tidak berubah. Dalam mempertimbangkan penggunaan terapi komplementer, biaya, risiko, dan nilai untuk penerimaanya merupakan permasalahan esensial yang harus diperhatikan terlebih dahulu.

3. Peran Perawat Dalam Terapi Komplementer
Dalam acara seminar bertema “Complementary Therapy dalam Praktik Keperawatan” di Auditorium Teaching Hospital Unpad, Jl. Prof. Eyckman No. 38, Sabtu (3/07). Hartiah mengatakan, perawat adalah salah satu pelaku dari terapi komplementer selain dokter dan praktisi terapi. Perawat dapat melakukan intervensi mandiri kepada pasien dalam fungsinya secara holistik yaitu dengan cara :
1. memberikan advocate dalam hal keamanan
2. memberikan kenyamanan dan secara ekonomi kepada pasien. 
“Dengan menguasai terapi komplementer, akan menjadi nilai tambah bagi seorang perawat sehingga bisa memajukan profesinya”.

4. Pengobatan Alternatif & Komplementer 
• Pengobatan Alternatif adalah jenis pengobatan yang tidak dilakukan oleh paramedis/dokter pada umumnya, tetapi oleh seorang ahli atau praktisi yang menguasai keahliannya tersebut melalui pendidikan yang lain/non medis.
•   Pengobatan Komplementer adalah pengobatan tradisional yang sudah diakui dan dapat dipakai sebagai pendamping terapi konvesional/medis.
Menurut  National Center for Complementary and Alternative Medicine (NCCAM) Pengobatan di atas dapat dikategorikan menjadi 5 kategori yang kadangkala satu jenis pengobatan bisa mencakup beberapa kategori.  (Wikipedia-Alternative Medicine) Sistemnya adalah:
1. Alternative Medical System/ Healing System – non medis
Terdiri dari Homeopathy, Naturopathy, Ayurveda dan Traditional Chinese Medicine (selanjutnya disingkat TCM) seven chakras-ayurveda..
2. Mind Body Intervention
Terdiri atas Meditasi, Autogenics, Relaksasi Progresif, Terapi Kreatif, Visualisasi Kreatif, Hypnotherapy, Neurolinguistik Programming (NLP), Brain Gym, dan Bach Flower Remedy.
3. Terapi Biologis
Terdiri dari Terapi Herbal, Terapi Nutrisi, Food Combining, Terapi Jus, Makrobiotik, Terapi Urine, Colon Hydrotherapy.
4. Manipulasi Anggota Tubuh
Terdiri atas Pijat/Massage, Aromatherapy, Hydrotherapy, Pilates, Chiropractic, Yoga, Terapi Craniosacral, Teknik Buteyko.
5. Terapi Energi
Terdiri dari Akupunktur, Akupressur, Refleksiologi, Chi Kung, Tai Chi, Reiki, dan Prana healing.

Sedangkan untuk pengobatan konvensional maupun pilihan diagnosa ada pula yang dilakukan seperti pengobatan alternatif :
1. hyperbaric oxygen chamber
2. Pengobatan konvensional/medis – Gaya alternatif
Terdiri atas Terapi khelasi, Terapi Oksigen Hiperbarik, dan EECP.
3. Diagnosa Alternatif
Melalui Foto aura, Iridologi, Radiestesi, Kinesiologi, dan Diagnosa TCM.

Kesimpulan

Terapi Komplementer adalah semua terapi yang digunakan sebagai tambahan untuk terapi konvesional yang direkomendasikan oleh penyelenggara pelayanan kesehatan induvidu.
Terapi komplementer bertujuan untuk memperbaiki fungsi dari sistem-sistem tubuh, terutama sistem kekebalan dan pertahanan tubuh, agar tubuh dapat menyembuhkan dirinya sendiri yang sedang sakit, karena tubuh kita sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri, asalkan kita mau mendengarkannya dan memberikan respon dengan asupan nutrisi yang baik dan lengkap serta perawatan yang tepat. 
Ada banyak jenis metode dalam terapi komplementer ini, seperti akupuntur, chiropractic, pijat refleksi, yoga, tanaman obat/ herbal, homeopati, naturopati, terapi polaritas atau reiki, teknik-teknik relaksasi, termasuk hipnoterapi, meditasi, visualisasi, dan sebagainya. Obat- obat yang digunakan bersifat natural/ mengambil bahan dari alam, seperti jamu-jamuan, rempah yang sudah dikenal (jahe, kunyit, temu lawak dan sebagainya), sampai bahan yang dirahasiakan. Pendekatan lain seperti menggunakan energi tertentu yang mampu mempercepat proses penyembuhan, hingga menggunakan doa tertentu yang diyakini secara spiritual memiliki kekuatan penyembuhan.


Thursday, December 21, 2017

HOSPITALISASI PADA ANAK

mengenal pengertian dampak dan gambaran mengenai hospitalisasi



HOSPITALISASI PADA ANAK

Konsep Hospitalisasi
1. Pengertian
Hospitalisasi adalah penempatan pasien di rumah sakit untuk penelitian, diagnosis dan pengobatan (Scott, 2010).
Hospitalisasi adalah suatu proses karena alasan berencana atau darurat yang mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit untuk menjalani terapi dan perawatan (Supartini, 2004).
Hospitalisasi adalah suatu keadaan krisis pada anak saat anak sakit dan dirawat di rumah sakit. Keadaan ini terjadi karena anak berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan asing, yaitu rumah sakit, sehingga kondisi tersebut menjadi faktor stressor bagi anak, orang tua, maupun keluarga (Whaley&Wong,2002).

Menurut WHO Hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi individu karena stressor yang dihadapi dapat menimbulkan perasaan tidak aman, seperti:
1. Lingkungan yang asing
2. Berpisah dengan orang yang berarti
3. Kurang informasi
4. Kehilangan kebebasan dan kemandirian
5. Pengalaman yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan, semakin sering berhubungan dengan rumah sakit, maka bentuk kecemasan semakin kecil atau malah sebaliknya.
6. Perilaku petugas Rumah Sakit.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa hospitalisasi adalah suatu proses karena alasan berencana atau darurat yang ditandai dengan adanya beberapa perubahan psikis yang mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit untuk menjalani perawatan dan dapat menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada anak dan orang tua.

2. Gambaran Hospitalisasi
Dirawat di rumah sakit adalah kondisi yang tidak menyenangkan bagi anak. Wong, et. al .(2009) menyebutkan bahwa saat berada di rumah sakit, anak berada di lingkungan yang asing dengan berbagai peralatan kedokteran yang menakutkan, bertemu dengan orang-orang asing, menjalani prosedur medis yang menyakitkan sering membuat anak cemas dan ketakutan.

3. Dampak Hospitalisasi Bagi Anak Dan Orang Tua
Hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi setiap orang. Khususnya hospitalisasi pada anak merupakan stressor bagi anak itu sendiri maupun terhadap orang tua atau keluarga. Stress pada anak disebabkan karena mereka tidak mengerti mengapa mereka di rawat atau mengapa mereka terluka. Lingkungan yang asing, kebiasaan-kebiasaan yang berbeda, perpisahan dengan keluarga merupakan pengalaman yang dapat mempengaruhi perkembangan anak. Stress akibat hospitalisasi akan menimbulkan perasaan yang tidak nyaman baik pada anak maupun pada keluarga, hal ini akan memacu anak untuk menggunakan mekanisme koping dalam mengatasi stress. Jika anak tidak dapat menangani stress dapat berkembang menjadi krisis. (Supartini, 2004).
Dengan mengerti kebutuhan anak sesuai dengan tahap perkembangannya dan mampu memenuhi kebutuhan tersebut, perawat mampu mengurangi stress akibat hospitalisasi dan dapat meningkatkan perkembangan anak ke arah yang normal (Nursalam, 2005).

a. Reaksi anak terhadap hospitalisasi
Anak akan menunjukkan berbagai perilaku sebagai reaksi terhadap pengalaman hospitalisasi. Reksi tersebut bersifat individual, dan sangat bergantung pada tahapan usia perkembangan anak, pengalaman sebelumnya terhadap sakit, sistem pendukung yang tersedia, dan kemampuan koping yang dimilikinya. Pada umumnya, reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan, kehilangan, perlukaan tubuh, dan rasa nyeri. Berikut ini reaksi anak terhadap sakit dan hospitalisasi sesuai dengan tahapan perkembangan anak :

1) Masa Bayi (0 - 1 Tahun)
Masalah yang utama terjadi adalah karena dampak dari perpisahan dengan orang tua sehingga ada gangguan pembentukan rasa percaya dan kasih sayang. Pada bayi usia 6 bulan sulit untuk memahami secara maksimal bagaimana reaksi bayi bila dirawat, karena bayi belum dapat mengungkapkan apa yang dirasakannya. Pada bayi yang usianya lebih dari 6 bulan terjadi stranger anxiety atau cemas apabila berhadapan dengan orang yang tidak dikenal. Reaksi yang sering muncul pada anak usia ini adalah menangis, marah, dan banyak melakukan gerakan sebagai sikap stranger anxiety. 
Disamping itu bayi juga telah merasa memiliki ibunya, sehingga bila berpisah dengan ibunya akan menimbulkan separation anxiety (cemas akan berpisah). Hal ini akan kelihatan jika bayi ditinggalkan oleh ibunya, maka akan menangis dan sangat ketergantungan pada ibunya. Respons terhadap nyeri atau adanya luka biasanya menangis keras, pergerakan tubuh yang banyak, dan ekspresi wajah yang tidak menyenangkan.

2) Masa Todler (2 - 3 tahun)
Anak usia todler belum mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang memadai dan pengertian terhadap realita terbatas.  Pada usia ini anak akan bereaksi terhadap hospitalisasi sesuai dengan sumber stressnya. Sumber stress yang utama adalah analityc depresion (cemas akibat perpisahan). Terdapat 3 tahap respons perilaku pada anak ditahap ini, yaitu tahap protes (Protest), putus asa (Despair), dan penolakan/denial (Detachment). 
Pada tahap protes, perilaku yang ditunjukkan adalah menangis kuat, menjerit memanggil orang tua atau menolak perhatian yang diberikan orang lain. Pada tahap putus asa, perilaku yang ditunjukkan adalah menangis berkurang, anak tidak aktif, kurang menunjukkan minat untuk bermain dan makan, sedih, dan apatis. Pada tahap penolakan/Denial, perilaku yang ditunjukkan adalah secara samar mulai menerima perpisahan, membina hubungan secara dangkal, dan anak mulai terlihat menyukai lingkungannya. 
Oleh karena adanya pembatasan terhadap pergerakannya, anak akan kehilangan kemampuannya untuk mengontrol diri dan anak menjadi tergantung pada lingkungannya. Akhirnya, anak akan kembali mundur pada kemampuan sebelumnya atau regresi. Terhadap perlukaan yang dialami atau nyeri yang dirasakan karena mendapatkan tindakan inpasive, seperti injeksi, infus, pengambilan darah, anak akan meringis, menggigit bibirnya, dan memukul. Walaupun demikian, anak dapat menunjukkan lokasi rasa nyeri dan mengkomunikasikan rasa nyerinya.

3) Masa Prasekolah (3 – 6 Tahun)
Anak usia Prasekolah telah dapat menerima perpisahan dengan orang tuanya dan juga telah dapat membentuk rasa percayaan dengan orang lain. Walaupun demikian anak tetap membutuhkan perlindungan dari keluarganya. Reaksi terhadap perpisahan yang ditunjukkan anak usia prasekolah adalah dengan menolak makan, sering bertanya, menangis walaupun secara perlahan, dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan. 
Perawatan di rumah sakit juga membuat anak kehilangan kontrol terhadap dirinya, hal ini terjadi karena adanya pembatas aktivitas sehari-hari dan karena kehilangan kekuatan diri. Perawatan di rumah sakit sering kali dipersepsikan anak prasekolah sebagai hukuman sehingga anak akan merasa malu, bersalah, atau takut. Ketakutan anak terhadap perlukaan muncul karena anak menganggap tindakan dan prosedurnya mengancam integritas tubuhnya. Oleh karena itu, hal ini menimbulkan reaksi agresif dengan marah dan berontak, ekspresi verbal dengan mengucapkan kata-kata marah, tidak mau bekerja sama dengan perawat, dan ketergantungan pada orang tua.

4) Masa Sekolah (6 – 12 Tahun)
Anak usia sekolah yang dirawat di rumah sakit akan merasa perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya, takut kehilangan keterampilan merasa kesepian dan sendiri. Anak membutuhkan rasa aman dan perlindungan dari orang tua namun tidak selalu ditemani oleh orang tua.
Pada usia ini anak akan berusaha Independen dan Produktif. Akibat dirawat di rumah sakit akan menyebabkan perasaan kehilangan kontrol dan kekuatan. Hal ini terjadi karena adanya perubahan dalam peran, kelemahan fisik, takut mati dan kehilangan kegiatan dalam kelompok serta akibat kegiatan rutin rumah sakit seperti bedrest, penggunaan pispot, kurangnya privacy, pemakaian kursi roda, dll.
Pada usia ini anak telah dapat mengekspresikan perasaannya dan mampu bertoleransi terhadap rasa nyeri. Anak akan berusaha mengontrol tingkah lakunya pada waktu merasa nyeri/sakit dengan cara menggigit bibir atau menggenggam sesuatu dengan erat. Anak ingin tahu alasan tindakan yang dilakukan pada dirinya, sehingga ia selalu mengamati apa yang dikatakan perawat. 

5) Masa Remaja (12 – 18 Tahun)
Anak usia remaja memersepsikan perawatan di rumah sakit sebagai suatu penyebab timbulnya perasaan cemas karena harus berpisah dengan teman sebayanya. 
Sakit dan dirawat merupakan ancaman terhadap identitas diri, perkembangan dan kemampuan anak. Reaksi yang timbul bila anak remaja dirawat ia akan merasa kebebasannya terancam sehingga anak tidak kooperatif, menarik diri, marah dan frustasi.
Remaja sangat cepat mengalami perubahan body image selama perkembangannya. Adanya perubahan dalam body image akibat penyakit/pembedahan dapat menimbulkan stress atau perasaan tidak aman, cemas akan berespon dengan banyak bertanya, menarik diri dan menolak kehadiran orang lain (Supartini, 2004).

b. Reaksi Orang Tua Terhadap Hospitalisasi
Perawatan anak di rumah sakit tidak hanya menimbulkan masalah bagi anak, tetapi juga bagi orang tua (Supartini, 2004). Hospitalisasi merupakan situasi yang kurang nyaman bagi orang tua. Mereka dihadapkan pada lingkungan yang asing sehingga berbagai reaksi akan muncul. Reaksi orang tua ketika anak yang dirawat di rumah sakit menurut Nursalam, dkk (2005) yaitu:

1) Penolakan/Ketidak Percayaan (denial/disbelief)
Secara umum reaksi pertama yang akan diperlihatkan orang tua adalah menolak dan tidak percaya. Reaksi ini akan muncul ketika pertama kali mengetahui anak yang harus dirawat di rumah sakit dan hal ini terjadi terutama bila anak tiba-tiba sakit serius.

2) Marah dan rasa bersalah
Setelah mengetahui bahwa anaknya sakit, maka reaksi orang tua adalah marah dan menyalahkan dirinya sendiri. Mereka merasa tidak merawat anaknya dengan benar, mereka mengingat-ingat kembali mengenai hal yang telah mereka lakukan yang kemungkinan dapat mencegah anaknya agar tidak jatuh sakit, atau mengingat kembali tentang hal-hal yang menyebabkan anaknya sakit.
Dilain pihak, orang tua merasa bersalah dan bertanggung jawab atau merasa sebagai penyebab sakit pada anak sehingga harus dirawat. Mereka merasa kurang waspada saat anak sakit sehingga terlambat untuk membawa ke rumah sakit yang menyebabkan anak harus dirawat dengan penyakit yang lebih berat dan waktu perawatan yang lama.

3) Ketakutan, cemas, dan frustasi
Ketakutan dan rasa cemas dihubungkan dengan seriusnya penyakit dan tipe prosedur medis. Frustasi dihubungkan dengan kurangnya informasi mengenai prosedur dan pengobatan, atau tidak familiar dengan peraturan rumah sakit.

4) Depresi 
Biasanya depresi ini terjadi setelah masa krisis anak berlalu. Ibu sering mengeluh merasa lelah baik secara fisik maupun mental. Orang tua mulai merasa khawatir terhadap anak-anak mereka yang lain, yang dirawat oleh anggota keluarga lainnya, oleh teman atau tetangga. Hal-hal lain yang membuat orang tua cemas dan depresi adalah kesehatan anaknya di masa-masa akan datang, misalnya efek dari prosedur pengobatan dan juga biaya pengobatan.
Selain itu dalam penelitian Hallstrom dan Elander (1997) sebagaimana dikutip oleh Supartini (2004), menunjukkan bahwa orang tua mengalami kecemasan yang tinggi saat perawatan anaknya di rumah sakit walaupun beberapa orang tua juga dilaporkan ada yang tidak mengalami cemas karena perawatan anaknya dirasakan dapat mengatasi permasalahannya. Bahkan dalam penelitian Tiedeman (1997) sebagaimana dikutip oleh Supartini (2004), menunjukkan bahwa pada saat mendengarkan keputusan dokter tentang diagnosa penyakit anaknya merupakan kejadian yang sangat membuat stress dan cemas orang tua. Brewis dalam Supartini (2004), menambahkan bahwa rasa takut pada orang tua selama perawatan anak di rumah sakit, disebabkan terutama pada kondisi sakit anak yang terminal karena takut akan kehilangan anak yang dicintainya dan juga adanya perasaan berduka.

4. Pencegahan Dampak Hospitalisasi
Dirawat di rumah sakit bisa menjadi sesuatu yang menakutkan dan pengalaman yang mengerikan bagi anak-anak. Anak seringkali mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan selama di rumah sakit, mulai dari lingkungan rumah sakit yang asing, serta pengobatan maupun pemeriksaan yang kadang kala menyakitkan bagi si anak. Oleh karena itu, peran perawat sangat diperlukan dalam upaya pencegahan dampak tersebut.

1) Menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga
Dampak perpisahan dari keluarga, anak mengalami gangguan psikologis seperti kecemasan, ketakutan, kurangnya kasih sayang, gangguan ini akan menghambat proses penyembuhan anak dan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

2) Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak
Melalui peningkatan kontrol orang tua pada diri anak diharapkan anak mampu mandiri dalam kehidupannya. Anak akan selalu berhati-hati dalam melakukan aktivitas sehari-hari, selalu bersikap waspada dalam segala hal. Serta pendidikan terhadap kemampuan dan keterampilan orang tua dalam mengawasi perawatan anak.

3) Mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis)
Mengurangi nyeri merupakan tindakan yang harus dilakukan dalam keperawatan anak. Proses pengurangan rasa nyeri sering tidak bisa dihilangkan secara cepat akan tetapi dapat dikurangi melalui berbagai teknik misalnya distraksi, relaksasi, imaginary. Apabila tindakan pencegahan tidak dilakukan maka cedera dan nyeri akan berlangsung lama pada anak sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

4) Tidak melakukan kekerasan pada anak
Kekerasan pada anak akan menimbulkan gangguan psikologis yang sangat berarti dalam kehidupan anak. Apabila ini terjadi pada saat anak dalam proses tumbuh kembang maka kemungkinan pencapaian kematangan akan terhambat, dengan demikian tindakan kekerasan pada anak sangat tidak dianjurkan karena akan memperberat kondisi anak.

5) Modifikasi Lingkungan Fisik
Melalui modifikasi lingkungan fisik yang bernuansa anak dapat meningkatkan keceriaan, perasaan aman, dan nyaman bagi lingkungan anak sehingga anak selalu berkembang dan merasa nyaman di lingkungannya (Aziz, 2005).

MENGENAL IMUNISASI DAN VAKSINASI

mengenal imunisasi dan vaksinasi


IMUNISASI DAN VAKSIN

Pengertian Dan Konsep Dasar

Imunisasi adalah upaya pemberian kekebalan tubuh pada bayi dan anak terhadap penyakit tertentu. Imunisai juga bisa diartikan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya penyakit dengan cara memasukan organisme bibit penyakit kedalam tubuh yang telah dilemahkan (Vaksin) sehingga merangsang membentuk kekebalan tubuh dimasa yang akan datang. Vaksin adalah kuman atau bakteri yang dimasukan kedalam tubuh agar terbentuk kekebalan/antibody. Bila ada antigen yang masuk kedalam tubuh, maka tubuh akan  berusaha  menolaknya dengan membuat  zat anti (anti body) dan zat anti kuman (antitoxin). Reaksi tubuh terhadap antigen  berlangsung lamban, sehingga antibody yang terbentuk sedikit, maka  diperlukan imunisasi ulang.

Klasifikasi 
1. Imunisasi Dasar : pemeberian kekebalan I, II, dan III
2. Imunisasi Ulang : pemberian kekebalan setelah imunisasi dasar

Tujuan 
• Menurunkan angka kesakitan dan kematian
• Menghindari kecacatan
• Mencegah suatu penyakit tertenu

Jenis Kekebalan 
1. Kekebalan Aktif Kekebalan yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolaj suatu penyakit, prosesnya lambat, tapi dapat bertahan lama. Kekebalan aktif dibagi menjadi dua bagian :
• Kekebalan aktif alamiah 
Tubuh anak membuat kekebalan sendiri setelah mengalami/sembuh dari suatu penyakit.
• Kekebalan aktif buatan
Kekebalan yang dibuat tubuh setelah mendapatkab  vaksin (imunisasi), misalnya : BCG, DPT dan Polio.
2. Kekebalan Pasif Kekebalan yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolaj suatu penyakit, prosesnya lambat, tapi dapat bertahan lama. Kekebalan pasif diperoleh dengan 2 cara yaitu :
• Cara alamiah
Kekebalan yang diperoleh sejak lahir  dari ibunya, tetapi tidak berlangsung lama. (5 bulan setelah bayi lahir) : difteri, morbili dan tetanus.
• Cara buatan 
Kekebalan yang diperoleh setelah  mendapat suntikan  zat penolak : Anti tetanus Serum (ATS)

Klasifikasi Vaksin
1. Vaksin dari kuman hidup yang dilemahkan
Vaksin campak dalam vaksin campak, virus polio dalam jenis sabin pada vaksin polio

2. Vaksin dari kuman yang dimatikan 
• Bakteri pertusis dalam  DPT
• Virus polio  jenis  Salk  dalam vaksin polio
• Racun kuman tetanus Toxoid (TT), Differs Toxoid (DT) dalam  DPT.
• Vaksin yang dibuat dari protein : Hepatitis

Syarat  Pemberian Vaksin
• Bayi & anak sehat
• Vaksin harus baik, disimpan dalam lemari es dan belum lewat masa berlakunya.
• Pemberian dengan teknik yang tepat
• Mengetahui jadwal imunisasi dengan melihat umur dan jenis  imuniasi yang telah diterima.
• Teliti sebelum pemberian
• Memperhatikan dosis yang akan diberikan

Reaksi Yang Mungkin Terjadi
• Reaksi Lokal
Pada tempat penyuntikan terjadi pembengkakan.  Kadang-kadang disertai demam, agak sakit.  Pada keadaan seperti ini ibu tidak usah panik sebab panas akan sembuh dan berarti kekebalan sudah dimiliki bayi.
• Reaksi Umum
Dapat terjadi kejang-kejang, shock.  Pada keadaan ini ibu dapat  konsultasi ke dokter/bidan/perawat.
Ada 6 (enam) penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi Dasar: TBC, Difteri, Tetanus, Polio, Campak dan pertusis.

1. Vaksin BCG
Membuat kekebalan aktif terhadap penyakit TBC. Mengandung kuman Bacillus Of Calmette Guerin yang dibuat dari kuman hidup yang sudah dilemahkan.
Vaksin dilarutkan dengan NaCl 0,9 % sebanyak 4 cc, setelah larut  digunakan dalam waktu 3 jam.
Jadwalnya Bayi 0-11 bulan.  Sebaiknya diberikan pada usia 0-2 bulan dengan dosis 0,5 cc. Sebelumnya dilakukan Mantouk test dulu. Vaksinasi ulang pada usia 5 tahun.

Kontra indikasi : Anak yang mempunyai penyakit kulit / infeksi ditempat penyuntikan.
Anak dengan mantouk test Positif (+)

Yang harus diperhatikan : Pelarut yang digunakan harus pada suhu 0,8  C, Suntikan dengan teknik Intra Cutan (IC). Satu jarum (Spuit) untuk setiap suntikan. Dan Sisa vaksin yang tidak digunakan harus dibuang. 

2. Vaksin DPT
Memberi kekebalan aktif secara bersamaan (simultan) terhadap Diftheri, Pertusis dan Tetanus.
Vaksin pertusis terbuat dari  kuman Bordotella Pertusis yang telah dimatikan, kemudian dikemas dengan  vaksin diftheri, pertusis dan tetanus.
Vaksin Tetanus  dikenal ada 2 macam :
Vaksin untuk imuniasi aktif yaitu Tetanus Toxoid (TT). Kuman tetanus yang telah dilemahkan ada 3 macam, Kemasan tunggal, Kamasan dengan vaksin diftheri dan Kemasan dengan vaksin diftheri, Tetanus dan Pertusis (DPT). Kuman yang telah dimatikan  digunakan untuk imunisasi pasif, yaitu Anti tetanus Serum (ATS). 

Jadwal Pemberian : 
• Pada bayi usia 2-11 bulan sebanyak 3 x, dengan elang waktu 4 minggu, secara IM/SC.
• Imunisasi ulang setelah  usia 1,5 – 2 tahun.
• Diulang kembali dengan vaksin DT pada usia 5-6 tahun (kelas 1 SD).
• Diulang kembali pada usia 10 tahun (menjelang tamat SD kelas VI).
• Anak yang telah mendapat  DPT waktu bayi diberi  DT 1 x 0,5 cc IM.
• Anak yang tidak mendapat  DPT waktu bayi/ragu-ragu  diberi DT 2 x 0,5 cc dengan jarak 4 minggu secara IM.

Reaksi Yang ditimbulkan : 
• Demam ringan
• Pembengkakan dan rasa nyeri pada tempat penyuntikan selama 1- 2 hari.
• Kadang-kadang reaksi yang lebih berat  berupa demam tinggi dan kejang yang disebabkan oleh unsur pertusisnya.
Kekebalan yang diperoleh dari vaksin DPT :
• Vaksin Diphteri 80 – 95 %
• Vaksin Pertusis 50 – 60 %
• Vaksin Tetanus 90 – 95 %

Kontra Indikasi : Anak sedang sakit parah, Riwayat kejang demam, Panas tinggi sampai 38°C, dan Defisiensi Immunologi (penyakit gangguan kekebalan).

Yang perlu diperhatikan : Pemberian 3 x dengan dosis 0,5 cc interval 4 minggu secara IM. Vaksin yang  digunakan jangan sampai beku. Sisa vaksin yang sudah dibuka harus dibuang. Dan Vaksin disimpan pada suhu 4-8°C.

3. Vaksin Polio
Untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit poliomyelitis. Vaksin yang mengandung virus polio yang sudah dilemahkan (vaksin salk) yang cara pemberiannya dengan suntikan. Vaksin yang mengandung virus polio yang masih hidup yang telah dilemahkan (virus sabin) cara pemberiannya melalui oral/mulut dalam bentuk cairan (pill).

Jadwal Pemberian : 
• Pada bayi umur 2 – 22 bulan  sebanyak 3 x pemberian, dengan dosis 2 tetes, interval  4 minggu.
• Pemberian ulang  pada umur 1,5 – 2 tahun.
• Menjelang usia 5 tahun
• Pada umur 10 tahun
• Vaksin polio diberikan bersama-sama dengan  vaksin DPT.  Kekebalan yang diperoleh  dari vaksinasi polio 45 – 100%

Kontra Indikasi : Diare berat, Anak sakit berat, dan Defisiensi kekebalan. Adapun efek samping dari vaksin ini hamper tidak ada atau berak-berak ringan.

4. Vaksin Campak 
Untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit campak. Mengandung virus campak hidup yang sudah dilemahkan. Dapat diperoleh dalam kemasan  kering tunggal atau kombinasi dengan vaksin gondongan mumps dan rubella (di Amerika : meastes, mumps, rubella).

Jadwal Pemberian : Anak 0 – 11 bulan 1 x pemberian, dosis 0,5 cc Bila pemberian campak pada usia 9 bulan, harus diulangi pada usia 11 bulan. Kekebalan yang diperoleh 96-99%.

Reaksi Yang Timbul : 
• Demam ringan
• Sedikit bercak merah pada pipi, dibawah telinga pada hari ke 7 dan ke 8 setelah penyuntikan.
• Pembengkakan pada area penyuntikan.
• Kejang-kejang pada hari ke 10 – 12  setelah penyuntikan ( tidak berbahaya ).

Kontra Indikasi :
• Anak sakit parah
• Menderita TBC tanpa pengobatan
• Defisiensi gizi berat
• Defisiensi kekebalan
• Demam sampai 38°C
• Anak dengan riwayat kejang, tetap diberikan dengan pengawasan ketat.

5. Vaksin Hepatitis B
Disebabkan virus hepatitis B dapat menular secara vertikal dan horizontal, adapun Gejalanya tidak khas : anoreksia, mual, ikterik, Sejak 1992, menjadi program di Indonesia, Belum merata  pelaksanaanya disemua provinsi karena mahal. Diberikan pada bayi 0 – 11 bulan.

nah itu tadi sedikit penjelasan mengenai vaksin dan imunisasi, mudah-mudahan bermanfaat ya bun...

Monday, December 18, 2017

TEKNIK KOMUNIKASI TERAPETIK YANG BAIK DAN BENAR

suatu cara berkomunikasi antara perawat dengan pasien yang baik dan benar


KOMUNIKASI TERAPETIK PERAWAT – PASIEN

PENGERTIAN
Komunikasi adalah Suatu proses penyampaian pesan  atau informasi dari seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan) baik verbal maupun non verbal yang berkesinambungan untuk mencapai tujuan tertentu.
Komunikasi terapeutik adalah Komunikasi yang ditekankan pada seluruh perilaku inidvidu yang disadari/ tidak , yang dapat mempengaruhi orang lain( Ruesch).
Purwanto (1994) komunikasi terapeuti adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan, dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien.
bagan kompenen komunikasi terapetik


TUJUAN 
1. Memperjelas dan mengurangi beban pikiran, perasaan serta  dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang tidak menyenangkan
2. Mengurangi keraguan dan membantu  dalam mengambil tindakan yang efektif
3. Mempengaruhi orang lain dan lingkungan untuk kesembuhan klien

TEKNIK KOMUNIKASI TERAPETIK
1. Mendengarkan dengan penuh perhatian, Berusaha mengerti klien denga mendengarkan apa yang disampaikannya.
Sikap  menjadi pendengar yang baik  : 
• pandang klien saat sedang bicara, 
• tidak menyilangkan kaki dan tangan, 
• hindari yang tidak perlu, anggukkan kepala  jika klien membicarakan hal yang penting atau  memerlukan umpan balik

2. Pertanyaan terbuka (broad opening)
Perawat memberi kesempatan pada klien untuk memilih atau mengemukakan pikiran dan perasaannya secara bebas
Contoh : Apa yang sedang ibu pikirkan,? Bagaimana perasaan ibu hari ini.? dll

3. Menunjukan penerimaan, Tidak berarti menyetujui. 
Bersedia  mendengarkan  tanpa menunjukkan keraguan atau ketidak setujuan. 
Waspada ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang menyatakan tidak setuju, seperti mengerutkan kening atau menggeleng yang menyatakan tidak percaya.

Berikut ini adalah sikap perawat yang menyatakan penerimaan : 

• mendengarkan tanpa memutus pembicaraan.
• memberikan umpan balik verbal yang menyatakan pengertian
• memastikan bahwa isyarat non verbal cocok dengan komunikasi verbal 
• menghindari perdebatan, ekspresi keraguan atau usaha untuk mengubah pikiran klien.

4. Klarifikasi
Dilakukan bila perawat ragu, tidak jelas, tidak mendengar atau klien malu  mengemukakan informasi, informasi tidak lengkap atau mengemukakannya berpindah-pindah.
Contoh : Dapatkah anda jelaskan kembali tentang… 
         apa yang anda maksudkan dengan…

5. Memfocuskan 
Membantu klien bicara pada topik yang telah dipilih, membatasi pembicaraan sehingga menjadi lebih spesifik dan dimengerti. Contoh : Hal ini tampaknya penting, mari kita   bicarakan lebih dalam lagi. Seperti apa yang sudah kita sepakati, bahwa…….

6. Membagi Persepsi
Meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan  atau pikirkan. Perawat dapat meminta umpan balik dan memberi informasi. Contoh : Anda tampak tegang ? atau Anda tampak tidak tenang bila……………

7. Menawarkan Informasi
Memberikan tambahan informasi merupakan tidakan penyuluhan kesehatan untuk klien. Bertujuan untuk memfasilitasi klien dalam mengambil keputusan.

8. Diam 
Dilakukan setelah mengajukan pertanyaan. Bertujuan memberi kesempatan klien untuk berpikir, atau berbicara dengan dirinya sendiri. Berguna pada saat klien harus mengambil keputusan

9. Meringkas
Pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat. Membantu perawat untuk mengulang aspek penting  sehingga dapat melanjutkan pada interaksi berikutnya.
Contoh : Selama lima belas menit ini anda dan saya telah  membicarakan………………

10. Memberikan Penghargaan 
Penghargaan jangan sampai menjadi beban bagi klien, artinya jangan sampai klien berusaha keras untuk melakukan segalanya demi mendapatkan pujian. 
Contoh : “Ibu tampak cocok sekali mengenakan baju berwarna kuning ini”

11. Memberi kesempatan untuk memulai pembicaraan
Pada klien yang merasa ragu dan tidak pasti tentang perannya dalam interaksi, perawat dapat menstimulusnya untuk berinisiatif membuka pembicaraan. 
Contoh : “Adakah sesuatu yang ingin anda bicarakan?” atau “Apakah yang sedang anda pikirkan”.

12. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan 
Menunjukkan bahwa perawat mengikuti apa yang sedang dibicarakan dan tertarik dengan  yang akan dibicaraka selanjutnya.

13. Restating 
Mengulang ucapan klien dengan menggunkan kata-kata sendiri.
Contoh : klien “ saya tidak dapat tidur, sepanjang malam saya terjaga.”
Perawat “ saudara menglami kesulitan untuk tidur…….?”

14. Menanyakan pertanyaan yang berkaitan
Untuk mendapatkan informasi yang sfesifik mngenai apa yang disampaikan klien.
Contoh : “ tandi ibu mengatakan memiliki 3 orang soudara, siapa yang ibu rasa paling dekat dengan ibu…?”

15. Refleksi 
Memberi kesempatan  klien untuk mengemukakan dan menerima ide serta perasaannya sebagai bagian dari dirinya.
Contoh Klien : “Apakah menurut anda saya Harus mengatakannya kepada dokter?”
Perawat      : “Apakah menurut anda sendiri anda harus  mengatakannya”
Refleksi isi : memvalidasi apa yang didengar
Refleksi Perasaan : memberi respon pada perasaan klie agar klien mengetahui dan menerima perasaannya.

16. Meringkas 
Meringkas adalah pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat, bermanfaat untuk membantu mengingat topik yang telah dibahas sebelum meneruskan pembicaraan berikutnya.
Contoh : “Selama lima belas menit ini anda dan saya telah membicarakan …….”

17. Memberikan penghargaan 
Jangan sampai menjadi beban untuk klien dalam arti jangan sampai klien berusaha keras dan melakukan segalanya demi untuk mendapatkan pujian atau persetujuan atas perbuatannya.
Contoh : “Ibu tampak cocok sekali mengenakan baju berwarna kuning ini”.

18. Konfrontasi 
Merupakan ekspresi perasaan perawat tentang perilaku klien yang tidak sesuai, berguna untuk meningkatkan kesadaran klien akan kesesuaian perasaan, sikap dan perilakunya. Dilakukan bila telah terbina trust dan harus diikuti dengan pemecahan masalah.

19. Identifikasi tema 
Latar belakang masalah yang dialami klien yang muncul selama percakapan berguna untuk meningkatkan pengertian dan mengeksplorasi masalah penting.
Contoh : “Saya lihat dari semua keterangan yang anda jelaskan, anda telah disakiti. Apakah ini latar belakang masalahnya?. “

20. Kesimpulan 
Untuk menentukan pokok pembicaraan dan menentukan perencanaan interfensi selanjutnta.


SIKAP KOMUNIKASI TERAPETIK

1. Berhadapan
   Artinya  “Saya siap untuk Anda”
2. Mempertahankan kontak mata 
   Kontak mata pada level yang sama berati menghargai klien dan mentakan keinginan untuk terap berkomunikasi.
3. Membungkuk ke arah klien 
   Posisi ini menunjukan keinginan untuk mengatakan atau mendengarkan sesuatu
4. Mempertahankan sikap terbuka 
   Tidak melipat kaki atau tangan menunjukan keterbukaan yntuk berkomunikasi.
5. Tetap rileks
   Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respons pada klien.

TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA TAHAPAN HUBUNGAN TERAPEUTIK

1. PRA INTERAKSI 
Merupakan masa persiapan sebelum berinteraksi dan berkomunikasi dengan Klien. Perawat perlu mengevaluasi diri  tentang kemampuan yang  dimiliki. Jika Perawat telah siap, maka perlu membuat rencana interaksi  dengan klien.
a) Evaluasi diri
Coba jawab pertanyaan berikut :
• Apa pengetahuan yang saya miliki tentang keperawatan klien?
• Apa yang akan saya ucapkan saat bertemu dengan klien?
• Bagaimana respons saya selanjutnya jika klien diam, menolak, marah atau inkoheren?
• Adakah pengalaman interaksi dengan klien yang negatif/buruk / tidak menyenangkan?
• Jika ada lakukan koreksi dengan cara membaca cara-cara berhubungan dengan klien, konsultasi dengan teman atau kepala ruangan, dan diskusikan. 
• Bagaimana tingkat kecemasan, atau perasaan saya?
• Jika cemas ringan, laksanakan interaksi.
• Jika cemas sedang sampai berat, konsulatsi dengan kepala ruangan  dan tunda kontak dengan klien sampai perawat dapat mengatasi kecemasan

b) Penetapan tahapan hubunagn/interaksi
• Apakah pertemuan/ kontrak pertama/ lanjutan
• Apa tujuan pertemuan  : pengkajian, pemantauan, tindakan atau terminasi
• Berapa lama interaksi yang akan dilakukan, temapatnya dimana?

c) Rencana interaksi
• Siapkan rencana percakapan yang akan saudara lakukan pada saat berinteraksi dan bekomunikasi dengan pasien
• Teknik komunikasi apa yang akan  digunakan, kaitkan dengan tujuan. Hal ini berhubungan dengan tahapan hubungan  yang  akan dilakukan.
• Teknik Observasi apa yang akan  dilakukan selama berhubungan dengan pasien. Setelah saudara membuat rencana interaksi berarti saudara sudah siap bertemu dan berkomunikasi dengan pasien.

2. PERKENALAN
Hal-hal yan gperlu dilakukan adalah :
• Memberi salam
Selamat pagi/siang/sore/malam atau sesuai   latar belakang sosial budaya-spiritual, disertai dengan mengulurkan tangan untuk  berjabat tangan. Memperkenalkan diri perawat  Nama saya Budiono, saya senang dipanggil Budi

• Menayakan nama pasien 
  Nama Bapak/Ibu Saudara siapa? Apa panggilan kesenangannya?  

• Menyepakati pertemuan (kontrak)
• Topik
• Tempat
• Waktu
• Melengkapi kontrak
tentang identitas saudara serta tujuan interaksi agar pasien percaya pada saudara 
Contoh Komunikasi : Saya perawat yang bekerja di……., saya akan merawat Tuti selama 8 hari, mulai hari ini s/d……… saya datang jam 07.00 dan pulang jam 14.00 
• untuk menyepakati tujuan interaksi
Saya akan membantu Tuti untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi atau Kita akan bersama-sama menyelesaikan masalah yang Tuti Hadapi.
• Memulai percakapan awal 
pengkajian keluhan utama atau alasan masuk rumah sakit. 
Contoh Komunikasi untuk mengkaji keluhan utama :
Apa yang terjadi di rumah sampai Tuti dibawa kemari?
Apa yang Tuti rasakan sampai Tuti datang kemari?
Apa yang Tuti susahkan saat ini?
Apa masalah yang Tuti rasakan?
Jika klien menjawab lanjutkan eksplorasi terkait kelut dan sesuai  format pengkajian

3. ORIENTASI 
Fase orientasi dilaksanakan pada awal setiap pertemuan kedua dan sterusnya. Tujuan fase orientasi adalah memvalidasi keakuratan data, rencana yang telah dibuat dengan keadaan pasien saat ini dan mengevaluasi hasil tindakan yang lalu. Umumnya   dikaitkan dengan hal yang telah dilakukan bersama pasien.
Jika klien tidak menjawab :
• Saya tidak dapat membantu Tuti jika Tuti tidak menceritakan hal yang Tuti hadapi
• Tampaknya Tuti belum mau cerita, kita akan duduk saja bersama + 10 menit.
Menyepakati masalah pasien 
Contoh Komunikasi :
Dari percakapan kita tadi, tampaknya Tuti …… (sesuai dengan kesimpulan maslah/kebutuhan yang dimiliki klien)
Gunakan bahasa yang dimengerti pasien, misalnua tampaknya Tuti merasa sungkan berhubungan dengan orang lain.
• Memvalidasi keadaan pasien
Bagaimana perasaan Tuti hari ini?
Coba Tuti ceritakan perasaannya hari ini
Adalah hasil yang terjadi selama kita tidak bertemu? Coba ceritakan

• Mengingatkan kontrak 
  Setiap berinteraksi dengan pasien dikaitkan dengan kontrak   
  pada pertemuan sebelumnya
• Tuti masih ingat jam berapa kita bertemu hari ini/pagi ini/siang  ini/sore ini?
  Sesuai dengan  janji kita yang lalu kita akan bertemu jam ….. (sebutkan sesuai perjanjian)
• Tuti masih ingat apa yang kita bicarakan/lakukan  sekarang?
• Sesuai dengan janji kita yang lalu sekarang kita akan bicarakan/lakukan …. (sesuai perjanjian)

4. FASE KERJA 
   Terkait  dengan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan sesuai  tujuan yang akan dicapai.

Tujuan 

1) Meningkatkan pengertian dan pengenalan klien akan dirinya, perasaannya, pikirannya dan perilakunya disebut tujuan kognitif
2) Mengembangkan, mempertahankan dan meningkatkan kemampuan klien seara mandiri dalam menyelesaikan msaalah yang di hadapai disebut tujuan afektif dan psikomotor
Contoh Komunikasi terkait tujuan :
Ad. 1 :
Apa yang menyebabkan Tuti marah?
Apa tanda atau gejala yang Tuti rasakan saat marah?

Ad. 2 :
Apa yang Tuti lakukan saat marah?
Apakah dengan cara itu msalah Tuti selsai?
Apakah dengan cara iotu keinginan Tuti tercapai?
Apa kira-kira cara lain yang lebih baik?
Bagaimana kalau kita bicarakan beberapa cara baru, jelaskan
Tuti ingin mencoba cara yang mana?
Baik saya akan berikan contoh (lakukan demonstrasi)
• Coba Tuti tirukan cara tadi 
• Bagus, Tuti dapat melakukannya dengan baik
• Bagaimana perasaan Tuti setelah mencobanya
• Bagaimana kalau Tuti coba sendiri

Tindakan keperawatan yang dilakukan secara umum dapat di bagi 4 :

a) Observasi dan monitoring
b) Terapi ke perawatan 
c) Pendidikan kesehatan
d) Tindakan kolaborasi
5. FASE TERMINASI 
   
a) Terminasi sementara

Isi percakapan :
1) Evaluasi hasil.
Coba Tuti sebutkan hal-hal yang sudah kita bicarakan
Apa saja yang Tuti telah dapat dari percakapan kita tadi?

2) Tindak lanjut 
Bagaimana kalau Tuti coba lakukan di ruangan/rumah?
Yang mana yang ingin tuti coba?
3) Kontrak yang akan datang

Waktu
• kapan kita bertemu lagi ?
• Bagaimana kalau nanti jam …. Kita bertemu lagi
• Kita akan bertemu lagi besok pagi

Topik 
• Apa saja yang akan kita bicarakan nanti/besok?
• Bagaimana kalau kita bicara … (sebutkan)

a) Terminasi akhir 
Terminasi akhir terjadi jika klien akan pulang dari rumah sakit atau perawat selesai praktek di rumah sakit.
Isi Percakapan

1) Evaluasi hasil 
• Coba sebutkan kemampuan yang didapat setelah di rawat disini?
• Apa saja yang sudah Tuti ketahui selama di rawat di sini?
• Saya melihat Tuti sudah dapat melakukan _ (sebutkan sesuai hasil observasi pada tiap diagnosa keperawatan)

2) Tindak lanjut 
• Apa rencana kegiatan Tuti di rumah?
• Sudahkah Tuti ketahui waktu dan tempat kontrol lembali 
• Apa gejala dan tanda yang perlu di perhatikan di rumah

3) Eksplorasi perasaan 
• bagaimana  perasaan Tuti berpisah dengan saya/meninggalkan rumah sakit?

4) Hal yang sama dengan 1, 2, 3 dilakukan juga pada keluarga