Showing posts with label Anak. Show all posts
Showing posts with label Anak. Show all posts

Saturday, December 23, 2017

KONSEP BERMAIN PADA ANAK

konsep bermain pada anak


KONSEP BERMAIN PADA ANAK

Pendahuluan 
Bermain merupakan kebutuhan yang mendasar dalam kehidupan anak, Perlu mendapat perhatian dari keluarga, Merangsang perkembangan motorik, kognitif dan bahasa.
Bermain adalah : cara alamiah bagi anak untuk mengungkapkan konflik dalam dirinya yang tidak disadari olehnya (Muller & Keane, 1983).

Bermain sama dengan bekerja pada dewasa, merupakan cara efektif menurunkan stress pada anak, meningkatkan kesejahteraan mental dan emosional anak (Chambell & Glase, 1995)
Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan sendiri/sukarela untuk memperoleh kesenangan (Foster, 1989). 

Bermain merupakan cerminan kemampuan fisik, inteketual, emosional, dan sosial. Bermain juga merupakan media belajar bagi anak karena dengan bermain, anak akan berkomunikasi, belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan apa yang dapat dilakukannya, dan mengenal waktu, jarak serta suara (Wong, 2000).   
Dapat disimpulkan bahwa bermain merupakan keinginan anak dalam mengatasi konflik yang tidak disadarinya serta untuk memperoleh kepuasan.

Hubungan Bermain Dengan Stimulasi Dalam Tumbuh Kembang Anak
Stimulasi (rangsangan) : perangsangan yang  yang datangnya dari lingkungan diluar individu anak. Bermain/alat bermaian merupakan media stimulasi tumbuh kembang anak. Anak dengan stimulasi optimal dan tepat akan lebih  berkembang. Stimulasi dapat juga sebagai  penguat (reinforcement). Stimulasi efektif jika sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain
• Tahap perkembangan
• Perkembangan motorik
• Status kesehatan
• Jenis kelamin
• Lingkungan
• Intelegensi
• Status sosio-ekonomi
• Waktu
• Alat permainan

Variasi Dan Keseimbangan Dalam Bermain 
• Harus seimbang antara bermain aktif dan pasif
• Bermain aktif : anak melakukan aktifitas bermain, dimana kesenangan diperoleh dari aktifitasnya sendiri.
• Bermain pasif : anak melakukan aktifitas bermain, dimana kesenangan diperoleh dari objek/orang lain.

Klasifikasi Bermain
Berdasarkan Variasi Keaktifan Anak :
1. Bermain Aktif
• Bermain mengamati / menyelidiki (explolatory play)
Perhatian pada alat, memperhatikan, mengocok, mencium,  meraba, menekan, dll.
• Bermain konstruksi (Construction Play)
Menyusun balok, pasir, dll.
• Bermain Drama (Dramatic Play)
Main sandiwara boneka, rumah-rumahan dengan saudara atau teman-temannya. 
2. Bermain fasip
• Anak berperan  pasif (melihat – mendengar)
• Ideal, bila dilakukan saat anak lelah bermain aktif.
Contoh :
Melihat gambar di buku/majalah
Mendengar cerita
Mendengar musik

Klasifikasi Bermain Menurut Isi :
1. Social Affective Play : dalam aktivitas bermain ini, anak belajar menerima respon dari luar dan lingkungannya. Misal dengan memanggil anak dengan nama kesayangan (sayang, manis, sholeh dll).
2. Sense of Pleasure Play : aktivitas bermain dimana anak mendapat keenangan dari objek yang ada disekitarnya. Misal : main air, main pasir dll.
3. Skill Play: aktivitas bermain dimana anak memperoleh pengalaman dalam mengembangkan keterampilannya. Misal : main sepeda, sepak bola, berenang, pake sepatu, naik turun tangga, dll.
4. Dramatic Play/Role Play : aktivitas bermain dengan melakukan bermain peran. Misal : meniru jadi seorang dokter, jadi guru atau jadi Perawat dll.
5. Games atau Permainan : Jenis permainan yang menggunakan alat tertentu  yang menggunakan perhitungan/skor.  Bisa dilakukan anak sendiri atau dengan temannya, misalnya :  congklak,

Klasifikasi Bermain Menurut Karakteristik Sosial :
1. Solitary Play : anak asyik bermain sendiri, walaupun didekatnya banyak anak lain dalam kelompok.
2. Paralel Play : anak bermain dalam satu kelompok dengan jenis mainan yang sama tetapi tidak terjadi interaksi satu sama lain.
3. Assosiative Play : bermain dalam satu kelompok dengan aktivitas sama tetapi belum terkoordinir secara baik.
4. Cooperative Play : anak bermain bersama dengan jenis aktivitas atau mainan yang sama dan terorganisasi dengan baik, biasanya terjadi pada kelompok usia adolescent.

Karakteristik Bermain Pada Tiap Tingkatan Usia
1. Bayi : Affective dan sense of pleasure play
2. Toddler : Paralel & solitary play
3. Preschooler  Assosiative Play
4. Sekolah dan Adolescencecence : kooperatif play

Fungsi Bermain
Aktivitas bermain pada anak mempunyai berbagai fungsi yang mengarah kepada rangsangan yang berkaitan perkembangan fungsi tubuhnya, diantaranya :
1. Perkembangan sensori motorik :
Membantu perkembangan gerak dengan memainkan objek tertentu. Misal : mengambil dan memegang pensil, memegang sendok dll.
2. Perkembangan kognitif :
Membantu mengenal benda-benda disekitar lingkungan anak beserta mengenal kegunaannya (misal : mengenal bentuk, warna dll), dan membantu perkembangan kemampuan berbahasa .
3. Mengembangkan kreativitas:
Membantu mengembangkan dan mencoba ide-ide baru. (misal : menyusun balok, mengelompokkan warna dan jenis benda yang sama).
4. Perkembangan Sosial :
Dapat diperoleh dengan belajar berinteraksi dengan orang lain dan mempelajari peran dalam kelompok, mendapat pengalaman yang berkaitan dengan perasaan. (misal: mendapat peran ketua kelompok dll).
5. Kesadaran diri (Self awarenes) :
Bermaian dapat memberi pengalaman pada anak untuk belajar memahami kemapuan diri, mengetahui kelemahan dan tingkah laku dirinya terhadap orang lain.
6. Perkembangan moral :
Dalam bermain terjadi interaksi dengan orang lain dimana anak belajar untuk bertingkah laku agar diterima dan disenangi sesuai harapan teman, berusaha untuk menyesuaikan dengan aturan kelompok dan belajar bertingkah laku sesuai harapan orang disekitarnya.
7. Pengobatan (terapi):
Dengan bermain memberi kesempatan pada anak untuk mengekspresikan perasaan yang tidak enak (misal: perasaan marah, benci dll).
8. Komunikasi:
Bermain sebagai alat untuk mengembangkan komunikasi terutama bagi anak yang belum dapat menyatakan secara verbal (misal dengan menggambar, bermain peran dll).

Keuntungan Bermain
• Membuang ekstra energi
• Mengoptimalkan pertumbuhan
• Meningkatkan napsu makan
• Belajar kontrol diri
• Perkembangan keterampilan
• Meningkatkan kreatifitas
• Menemukan arti benda sekitar
• Mengatasi kemarahan, kecemasan, iri dan duka
• Bergaul dengan anak lain
• Belajar menang – kalah
• Belajar aturan
• Mengembangkan intelektual

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Aktifitas Bermain Anak
• Ekstra energi
• Waktu
• Alat permainan
• Ruangan untuk bermain
• Pengetahuan cara bermain
• Teman bermain

Keseimbangan dalam bermain tidak dapat tercapai, bila :
• Kesehatan anak menurun
• Tidak ada variasi alat permainan.
• Tidak ada kesempatan belajar alat permainan.
• Tidak punya teman bermain

Bermain Untuk Anak Yang Dirawat Di Rumah Sakit
Perawatan di rumah sakit merupakan pengalaman yang penuh stress, untuk itu anak memerlukan media yang dapat mengekspresikan perasaan. Media yang paling efektif adalah melalui kegiatan permainan yang teurapeutik yang didasari oleh pandangan bahwa bermain bagi anak merupakan aktivitas yang sehat dan diperlukan untuk kelangsungan tumbuh kembang anak dan memungkinkan untuk dapat menggali dan mengekspresikan perasaan dan pikiran anak, mengalihkan rasa nyeri dan relaksasi. Dengan demikian kegiatan bermain harus menjadi bagian integral dari pelayanan kesehatan anak di rumah sakit (Breman, 1994).  Aktivitas bermain yang perlu dilakukan perawat pada anak di rumah sakit :
1. Meningkatkan hubungan antara klien, keluarga dan perawat,
2. Perawatan di rumah sakit akan membatasi kemampuan untuk mandiri. Aktivitas bermain yang terprogram akan memulihkan perasaan mandiri pada anak.
3. Permainan pada anak di rumah sakit tidak hanya akan memberikan rasa senang, tetapi juga akan membantu anak mengekspresikan perasaan, pikiran cemas dan takut, sedih, tegang, dan nyeri. 
4. Permainan yang teutapetik akan dapat meningkatkan kemampuan anak untuk melakukan tingkah laku yang positif.

Prinsip Permainan Pada Anak Di Rumah Sakit
1. Tidak bertentangan dengan terapi dan perawatan yang sedang dijalankan
2. Tidak membutuhkan energi yang banyak
3. Harus mempertimbangkan keamanan anak
4. Dilakukan pada kelompok umur yang sama
5. Melibatkan orang tua

Ciri Alat Permainan Anak Dibawah Usia 5 Tahun 
1. Ciri alat bermain kelompok usia 0 – 12 bulan
Tujuan
• Melatih reflek : menghisap, menggenggam
• Melatih kerjasama mata dan tangan
• Melatih kerjasama mata dan telinga
• Melatih mencari objek yang ada tetapi tidak kelihatan
• Melatih mengenal sumber asal suara
• Melatih kepekaan perabaan
• Melatih keterampilan dengan gerakan berulang

Alat permainan yang dianjurkan :
• Benda yang aman untuk dimasukan mulut atau dipegang.
• Alat permainan yang berupa gambar atau bentuk muka
• Alat permainan lunak : boneka, binatang, dll
• Alat yang digoyangkan dan kelura suara
• Selimut dan boneka

2. Ciri alat bermain kelompok usia 12 – 24 bulan
Tujuan 
• Mencari sumber suara/mengikuti sumber suara.
• Memperkenalkan sumber suara
• Melatih mendorong dan menarik
• Melatih imajinasi
• Melatih melakukan kegiatan sehari-hari
• Kegiatannya harus menarik

Alat permainan yang dianjurkan : 
• Genderang, bola dengan pasir didalamnya.
• Alat yang dapat didorong dan ditarik
• Alat rumah tangga, balok, kardus, buku bergambar, kertas kosong, pensil, krayon, dll

3. Ciri alat bermain kelompok usia 24 – 32 bulan
Tujuan 
• Menyalurkan emosi / perasaan anak
• Mengembangkan keterampilan berbahasa
• Melatih motorik halus dan kasar
• Mengembangkan kecerdasan

Thursday, December 21, 2017

HOSPITALISASI PADA ANAK

mengenal pengertian dampak dan gambaran mengenai hospitalisasi



HOSPITALISASI PADA ANAK

Konsep Hospitalisasi
1. Pengertian
Hospitalisasi adalah penempatan pasien di rumah sakit untuk penelitian, diagnosis dan pengobatan (Scott, 2010).
Hospitalisasi adalah suatu proses karena alasan berencana atau darurat yang mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit untuk menjalani terapi dan perawatan (Supartini, 2004).
Hospitalisasi adalah suatu keadaan krisis pada anak saat anak sakit dan dirawat di rumah sakit. Keadaan ini terjadi karena anak berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan asing, yaitu rumah sakit, sehingga kondisi tersebut menjadi faktor stressor bagi anak, orang tua, maupun keluarga (Whaley&Wong,2002).

Menurut WHO Hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi individu karena stressor yang dihadapi dapat menimbulkan perasaan tidak aman, seperti:
1. Lingkungan yang asing
2. Berpisah dengan orang yang berarti
3. Kurang informasi
4. Kehilangan kebebasan dan kemandirian
5. Pengalaman yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan, semakin sering berhubungan dengan rumah sakit, maka bentuk kecemasan semakin kecil atau malah sebaliknya.
6. Perilaku petugas Rumah Sakit.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa hospitalisasi adalah suatu proses karena alasan berencana atau darurat yang ditandai dengan adanya beberapa perubahan psikis yang mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit untuk menjalani perawatan dan dapat menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada anak dan orang tua.

2. Gambaran Hospitalisasi
Dirawat di rumah sakit adalah kondisi yang tidak menyenangkan bagi anak. Wong, et. al .(2009) menyebutkan bahwa saat berada di rumah sakit, anak berada di lingkungan yang asing dengan berbagai peralatan kedokteran yang menakutkan, bertemu dengan orang-orang asing, menjalani prosedur medis yang menyakitkan sering membuat anak cemas dan ketakutan.

3. Dampak Hospitalisasi Bagi Anak Dan Orang Tua
Hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi setiap orang. Khususnya hospitalisasi pada anak merupakan stressor bagi anak itu sendiri maupun terhadap orang tua atau keluarga. Stress pada anak disebabkan karena mereka tidak mengerti mengapa mereka di rawat atau mengapa mereka terluka. Lingkungan yang asing, kebiasaan-kebiasaan yang berbeda, perpisahan dengan keluarga merupakan pengalaman yang dapat mempengaruhi perkembangan anak. Stress akibat hospitalisasi akan menimbulkan perasaan yang tidak nyaman baik pada anak maupun pada keluarga, hal ini akan memacu anak untuk menggunakan mekanisme koping dalam mengatasi stress. Jika anak tidak dapat menangani stress dapat berkembang menjadi krisis. (Supartini, 2004).
Dengan mengerti kebutuhan anak sesuai dengan tahap perkembangannya dan mampu memenuhi kebutuhan tersebut, perawat mampu mengurangi stress akibat hospitalisasi dan dapat meningkatkan perkembangan anak ke arah yang normal (Nursalam, 2005).

a. Reaksi anak terhadap hospitalisasi
Anak akan menunjukkan berbagai perilaku sebagai reaksi terhadap pengalaman hospitalisasi. Reksi tersebut bersifat individual, dan sangat bergantung pada tahapan usia perkembangan anak, pengalaman sebelumnya terhadap sakit, sistem pendukung yang tersedia, dan kemampuan koping yang dimilikinya. Pada umumnya, reaksi anak terhadap sakit adalah kecemasan karena perpisahan, kehilangan, perlukaan tubuh, dan rasa nyeri. Berikut ini reaksi anak terhadap sakit dan hospitalisasi sesuai dengan tahapan perkembangan anak :

1) Masa Bayi (0 - 1 Tahun)
Masalah yang utama terjadi adalah karena dampak dari perpisahan dengan orang tua sehingga ada gangguan pembentukan rasa percaya dan kasih sayang. Pada bayi usia 6 bulan sulit untuk memahami secara maksimal bagaimana reaksi bayi bila dirawat, karena bayi belum dapat mengungkapkan apa yang dirasakannya. Pada bayi yang usianya lebih dari 6 bulan terjadi stranger anxiety atau cemas apabila berhadapan dengan orang yang tidak dikenal. Reaksi yang sering muncul pada anak usia ini adalah menangis, marah, dan banyak melakukan gerakan sebagai sikap stranger anxiety. 
Disamping itu bayi juga telah merasa memiliki ibunya, sehingga bila berpisah dengan ibunya akan menimbulkan separation anxiety (cemas akan berpisah). Hal ini akan kelihatan jika bayi ditinggalkan oleh ibunya, maka akan menangis dan sangat ketergantungan pada ibunya. Respons terhadap nyeri atau adanya luka biasanya menangis keras, pergerakan tubuh yang banyak, dan ekspresi wajah yang tidak menyenangkan.

2) Masa Todler (2 - 3 tahun)
Anak usia todler belum mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang memadai dan pengertian terhadap realita terbatas.  Pada usia ini anak akan bereaksi terhadap hospitalisasi sesuai dengan sumber stressnya. Sumber stress yang utama adalah analityc depresion (cemas akibat perpisahan). Terdapat 3 tahap respons perilaku pada anak ditahap ini, yaitu tahap protes (Protest), putus asa (Despair), dan penolakan/denial (Detachment). 
Pada tahap protes, perilaku yang ditunjukkan adalah menangis kuat, menjerit memanggil orang tua atau menolak perhatian yang diberikan orang lain. Pada tahap putus asa, perilaku yang ditunjukkan adalah menangis berkurang, anak tidak aktif, kurang menunjukkan minat untuk bermain dan makan, sedih, dan apatis. Pada tahap penolakan/Denial, perilaku yang ditunjukkan adalah secara samar mulai menerima perpisahan, membina hubungan secara dangkal, dan anak mulai terlihat menyukai lingkungannya. 
Oleh karena adanya pembatasan terhadap pergerakannya, anak akan kehilangan kemampuannya untuk mengontrol diri dan anak menjadi tergantung pada lingkungannya. Akhirnya, anak akan kembali mundur pada kemampuan sebelumnya atau regresi. Terhadap perlukaan yang dialami atau nyeri yang dirasakan karena mendapatkan tindakan inpasive, seperti injeksi, infus, pengambilan darah, anak akan meringis, menggigit bibirnya, dan memukul. Walaupun demikian, anak dapat menunjukkan lokasi rasa nyeri dan mengkomunikasikan rasa nyerinya.

3) Masa Prasekolah (3 – 6 Tahun)
Anak usia Prasekolah telah dapat menerima perpisahan dengan orang tuanya dan juga telah dapat membentuk rasa percayaan dengan orang lain. Walaupun demikian anak tetap membutuhkan perlindungan dari keluarganya. Reaksi terhadap perpisahan yang ditunjukkan anak usia prasekolah adalah dengan menolak makan, sering bertanya, menangis walaupun secara perlahan, dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan. 
Perawatan di rumah sakit juga membuat anak kehilangan kontrol terhadap dirinya, hal ini terjadi karena adanya pembatas aktivitas sehari-hari dan karena kehilangan kekuatan diri. Perawatan di rumah sakit sering kali dipersepsikan anak prasekolah sebagai hukuman sehingga anak akan merasa malu, bersalah, atau takut. Ketakutan anak terhadap perlukaan muncul karena anak menganggap tindakan dan prosedurnya mengancam integritas tubuhnya. Oleh karena itu, hal ini menimbulkan reaksi agresif dengan marah dan berontak, ekspresi verbal dengan mengucapkan kata-kata marah, tidak mau bekerja sama dengan perawat, dan ketergantungan pada orang tua.

4) Masa Sekolah (6 – 12 Tahun)
Anak usia sekolah yang dirawat di rumah sakit akan merasa perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya, takut kehilangan keterampilan merasa kesepian dan sendiri. Anak membutuhkan rasa aman dan perlindungan dari orang tua namun tidak selalu ditemani oleh orang tua.
Pada usia ini anak akan berusaha Independen dan Produktif. Akibat dirawat di rumah sakit akan menyebabkan perasaan kehilangan kontrol dan kekuatan. Hal ini terjadi karena adanya perubahan dalam peran, kelemahan fisik, takut mati dan kehilangan kegiatan dalam kelompok serta akibat kegiatan rutin rumah sakit seperti bedrest, penggunaan pispot, kurangnya privacy, pemakaian kursi roda, dll.
Pada usia ini anak telah dapat mengekspresikan perasaannya dan mampu bertoleransi terhadap rasa nyeri. Anak akan berusaha mengontrol tingkah lakunya pada waktu merasa nyeri/sakit dengan cara menggigit bibir atau menggenggam sesuatu dengan erat. Anak ingin tahu alasan tindakan yang dilakukan pada dirinya, sehingga ia selalu mengamati apa yang dikatakan perawat. 

5) Masa Remaja (12 – 18 Tahun)
Anak usia remaja memersepsikan perawatan di rumah sakit sebagai suatu penyebab timbulnya perasaan cemas karena harus berpisah dengan teman sebayanya. 
Sakit dan dirawat merupakan ancaman terhadap identitas diri, perkembangan dan kemampuan anak. Reaksi yang timbul bila anak remaja dirawat ia akan merasa kebebasannya terancam sehingga anak tidak kooperatif, menarik diri, marah dan frustasi.
Remaja sangat cepat mengalami perubahan body image selama perkembangannya. Adanya perubahan dalam body image akibat penyakit/pembedahan dapat menimbulkan stress atau perasaan tidak aman, cemas akan berespon dengan banyak bertanya, menarik diri dan menolak kehadiran orang lain (Supartini, 2004).

b. Reaksi Orang Tua Terhadap Hospitalisasi
Perawatan anak di rumah sakit tidak hanya menimbulkan masalah bagi anak, tetapi juga bagi orang tua (Supartini, 2004). Hospitalisasi merupakan situasi yang kurang nyaman bagi orang tua. Mereka dihadapkan pada lingkungan yang asing sehingga berbagai reaksi akan muncul. Reaksi orang tua ketika anak yang dirawat di rumah sakit menurut Nursalam, dkk (2005) yaitu:

1) Penolakan/Ketidak Percayaan (denial/disbelief)
Secara umum reaksi pertama yang akan diperlihatkan orang tua adalah menolak dan tidak percaya. Reaksi ini akan muncul ketika pertama kali mengetahui anak yang harus dirawat di rumah sakit dan hal ini terjadi terutama bila anak tiba-tiba sakit serius.

2) Marah dan rasa bersalah
Setelah mengetahui bahwa anaknya sakit, maka reaksi orang tua adalah marah dan menyalahkan dirinya sendiri. Mereka merasa tidak merawat anaknya dengan benar, mereka mengingat-ingat kembali mengenai hal yang telah mereka lakukan yang kemungkinan dapat mencegah anaknya agar tidak jatuh sakit, atau mengingat kembali tentang hal-hal yang menyebabkan anaknya sakit.
Dilain pihak, orang tua merasa bersalah dan bertanggung jawab atau merasa sebagai penyebab sakit pada anak sehingga harus dirawat. Mereka merasa kurang waspada saat anak sakit sehingga terlambat untuk membawa ke rumah sakit yang menyebabkan anak harus dirawat dengan penyakit yang lebih berat dan waktu perawatan yang lama.

3) Ketakutan, cemas, dan frustasi
Ketakutan dan rasa cemas dihubungkan dengan seriusnya penyakit dan tipe prosedur medis. Frustasi dihubungkan dengan kurangnya informasi mengenai prosedur dan pengobatan, atau tidak familiar dengan peraturan rumah sakit.

4) Depresi 
Biasanya depresi ini terjadi setelah masa krisis anak berlalu. Ibu sering mengeluh merasa lelah baik secara fisik maupun mental. Orang tua mulai merasa khawatir terhadap anak-anak mereka yang lain, yang dirawat oleh anggota keluarga lainnya, oleh teman atau tetangga. Hal-hal lain yang membuat orang tua cemas dan depresi adalah kesehatan anaknya di masa-masa akan datang, misalnya efek dari prosedur pengobatan dan juga biaya pengobatan.
Selain itu dalam penelitian Hallstrom dan Elander (1997) sebagaimana dikutip oleh Supartini (2004), menunjukkan bahwa orang tua mengalami kecemasan yang tinggi saat perawatan anaknya di rumah sakit walaupun beberapa orang tua juga dilaporkan ada yang tidak mengalami cemas karena perawatan anaknya dirasakan dapat mengatasi permasalahannya. Bahkan dalam penelitian Tiedeman (1997) sebagaimana dikutip oleh Supartini (2004), menunjukkan bahwa pada saat mendengarkan keputusan dokter tentang diagnosa penyakit anaknya merupakan kejadian yang sangat membuat stress dan cemas orang tua. Brewis dalam Supartini (2004), menambahkan bahwa rasa takut pada orang tua selama perawatan anak di rumah sakit, disebabkan terutama pada kondisi sakit anak yang terminal karena takut akan kehilangan anak yang dicintainya dan juga adanya perasaan berduka.

4. Pencegahan Dampak Hospitalisasi
Dirawat di rumah sakit bisa menjadi sesuatu yang menakutkan dan pengalaman yang mengerikan bagi anak-anak. Anak seringkali mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan selama di rumah sakit, mulai dari lingkungan rumah sakit yang asing, serta pengobatan maupun pemeriksaan yang kadang kala menyakitkan bagi si anak. Oleh karena itu, peran perawat sangat diperlukan dalam upaya pencegahan dampak tersebut.

1) Menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga
Dampak perpisahan dari keluarga, anak mengalami gangguan psikologis seperti kecemasan, ketakutan, kurangnya kasih sayang, gangguan ini akan menghambat proses penyembuhan anak dan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

2) Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak
Melalui peningkatan kontrol orang tua pada diri anak diharapkan anak mampu mandiri dalam kehidupannya. Anak akan selalu berhati-hati dalam melakukan aktivitas sehari-hari, selalu bersikap waspada dalam segala hal. Serta pendidikan terhadap kemampuan dan keterampilan orang tua dalam mengawasi perawatan anak.

3) Mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis)
Mengurangi nyeri merupakan tindakan yang harus dilakukan dalam keperawatan anak. Proses pengurangan rasa nyeri sering tidak bisa dihilangkan secara cepat akan tetapi dapat dikurangi melalui berbagai teknik misalnya distraksi, relaksasi, imaginary. Apabila tindakan pencegahan tidak dilakukan maka cedera dan nyeri akan berlangsung lama pada anak sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

4) Tidak melakukan kekerasan pada anak
Kekerasan pada anak akan menimbulkan gangguan psikologis yang sangat berarti dalam kehidupan anak. Apabila ini terjadi pada saat anak dalam proses tumbuh kembang maka kemungkinan pencapaian kematangan akan terhambat, dengan demikian tindakan kekerasan pada anak sangat tidak dianjurkan karena akan memperberat kondisi anak.

5) Modifikasi Lingkungan Fisik
Melalui modifikasi lingkungan fisik yang bernuansa anak dapat meningkatkan keceriaan, perasaan aman, dan nyaman bagi lingkungan anak sehingga anak selalu berkembang dan merasa nyaman di lingkungannya (Aziz, 2005).

MENGENAL IMUNISASI DAN VAKSINASI

mengenal imunisasi dan vaksinasi


IMUNISASI DAN VAKSIN

Pengertian Dan Konsep Dasar

Imunisasi adalah upaya pemberian kekebalan tubuh pada bayi dan anak terhadap penyakit tertentu. Imunisai juga bisa diartikan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya penyakit dengan cara memasukan organisme bibit penyakit kedalam tubuh yang telah dilemahkan (Vaksin) sehingga merangsang membentuk kekebalan tubuh dimasa yang akan datang. Vaksin adalah kuman atau bakteri yang dimasukan kedalam tubuh agar terbentuk kekebalan/antibody. Bila ada antigen yang masuk kedalam tubuh, maka tubuh akan  berusaha  menolaknya dengan membuat  zat anti (anti body) dan zat anti kuman (antitoxin). Reaksi tubuh terhadap antigen  berlangsung lamban, sehingga antibody yang terbentuk sedikit, maka  diperlukan imunisasi ulang.

Klasifikasi 
1. Imunisasi Dasar : pemeberian kekebalan I, II, dan III
2. Imunisasi Ulang : pemberian kekebalan setelah imunisasi dasar

Tujuan 
• Menurunkan angka kesakitan dan kematian
• Menghindari kecacatan
• Mencegah suatu penyakit tertenu

Jenis Kekebalan 
1. Kekebalan Aktif Kekebalan yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolaj suatu penyakit, prosesnya lambat, tapi dapat bertahan lama. Kekebalan aktif dibagi menjadi dua bagian :
• Kekebalan aktif alamiah 
Tubuh anak membuat kekebalan sendiri setelah mengalami/sembuh dari suatu penyakit.
• Kekebalan aktif buatan
Kekebalan yang dibuat tubuh setelah mendapatkab  vaksin (imunisasi), misalnya : BCG, DPT dan Polio.
2. Kekebalan Pasif Kekebalan yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolaj suatu penyakit, prosesnya lambat, tapi dapat bertahan lama. Kekebalan pasif diperoleh dengan 2 cara yaitu :
• Cara alamiah
Kekebalan yang diperoleh sejak lahir  dari ibunya, tetapi tidak berlangsung lama. (5 bulan setelah bayi lahir) : difteri, morbili dan tetanus.
• Cara buatan 
Kekebalan yang diperoleh setelah  mendapat suntikan  zat penolak : Anti tetanus Serum (ATS)

Klasifikasi Vaksin
1. Vaksin dari kuman hidup yang dilemahkan
Vaksin campak dalam vaksin campak, virus polio dalam jenis sabin pada vaksin polio

2. Vaksin dari kuman yang dimatikan 
• Bakteri pertusis dalam  DPT
• Virus polio  jenis  Salk  dalam vaksin polio
• Racun kuman tetanus Toxoid (TT), Differs Toxoid (DT) dalam  DPT.
• Vaksin yang dibuat dari protein : Hepatitis

Syarat  Pemberian Vaksin
• Bayi & anak sehat
• Vaksin harus baik, disimpan dalam lemari es dan belum lewat masa berlakunya.
• Pemberian dengan teknik yang tepat
• Mengetahui jadwal imunisasi dengan melihat umur dan jenis  imuniasi yang telah diterima.
• Teliti sebelum pemberian
• Memperhatikan dosis yang akan diberikan

Reaksi Yang Mungkin Terjadi
• Reaksi Lokal
Pada tempat penyuntikan terjadi pembengkakan.  Kadang-kadang disertai demam, agak sakit.  Pada keadaan seperti ini ibu tidak usah panik sebab panas akan sembuh dan berarti kekebalan sudah dimiliki bayi.
• Reaksi Umum
Dapat terjadi kejang-kejang, shock.  Pada keadaan ini ibu dapat  konsultasi ke dokter/bidan/perawat.
Ada 6 (enam) penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi Dasar: TBC, Difteri, Tetanus, Polio, Campak dan pertusis.

1. Vaksin BCG
Membuat kekebalan aktif terhadap penyakit TBC. Mengandung kuman Bacillus Of Calmette Guerin yang dibuat dari kuman hidup yang sudah dilemahkan.
Vaksin dilarutkan dengan NaCl 0,9 % sebanyak 4 cc, setelah larut  digunakan dalam waktu 3 jam.
Jadwalnya Bayi 0-11 bulan.  Sebaiknya diberikan pada usia 0-2 bulan dengan dosis 0,5 cc. Sebelumnya dilakukan Mantouk test dulu. Vaksinasi ulang pada usia 5 tahun.

Kontra indikasi : Anak yang mempunyai penyakit kulit / infeksi ditempat penyuntikan.
Anak dengan mantouk test Positif (+)

Yang harus diperhatikan : Pelarut yang digunakan harus pada suhu 0,8  C, Suntikan dengan teknik Intra Cutan (IC). Satu jarum (Spuit) untuk setiap suntikan. Dan Sisa vaksin yang tidak digunakan harus dibuang. 

2. Vaksin DPT
Memberi kekebalan aktif secara bersamaan (simultan) terhadap Diftheri, Pertusis dan Tetanus.
Vaksin pertusis terbuat dari  kuman Bordotella Pertusis yang telah dimatikan, kemudian dikemas dengan  vaksin diftheri, pertusis dan tetanus.
Vaksin Tetanus  dikenal ada 2 macam :
Vaksin untuk imuniasi aktif yaitu Tetanus Toxoid (TT). Kuman tetanus yang telah dilemahkan ada 3 macam, Kemasan tunggal, Kamasan dengan vaksin diftheri dan Kemasan dengan vaksin diftheri, Tetanus dan Pertusis (DPT). Kuman yang telah dimatikan  digunakan untuk imunisasi pasif, yaitu Anti tetanus Serum (ATS). 

Jadwal Pemberian : 
• Pada bayi usia 2-11 bulan sebanyak 3 x, dengan elang waktu 4 minggu, secara IM/SC.
• Imunisasi ulang setelah  usia 1,5 – 2 tahun.
• Diulang kembali dengan vaksin DT pada usia 5-6 tahun (kelas 1 SD).
• Diulang kembali pada usia 10 tahun (menjelang tamat SD kelas VI).
• Anak yang telah mendapat  DPT waktu bayi diberi  DT 1 x 0,5 cc IM.
• Anak yang tidak mendapat  DPT waktu bayi/ragu-ragu  diberi DT 2 x 0,5 cc dengan jarak 4 minggu secara IM.

Reaksi Yang ditimbulkan : 
• Demam ringan
• Pembengkakan dan rasa nyeri pada tempat penyuntikan selama 1- 2 hari.
• Kadang-kadang reaksi yang lebih berat  berupa demam tinggi dan kejang yang disebabkan oleh unsur pertusisnya.
Kekebalan yang diperoleh dari vaksin DPT :
• Vaksin Diphteri 80 – 95 %
• Vaksin Pertusis 50 – 60 %
• Vaksin Tetanus 90 – 95 %

Kontra Indikasi : Anak sedang sakit parah, Riwayat kejang demam, Panas tinggi sampai 38°C, dan Defisiensi Immunologi (penyakit gangguan kekebalan).

Yang perlu diperhatikan : Pemberian 3 x dengan dosis 0,5 cc interval 4 minggu secara IM. Vaksin yang  digunakan jangan sampai beku. Sisa vaksin yang sudah dibuka harus dibuang. Dan Vaksin disimpan pada suhu 4-8°C.

3. Vaksin Polio
Untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit poliomyelitis. Vaksin yang mengandung virus polio yang sudah dilemahkan (vaksin salk) yang cara pemberiannya dengan suntikan. Vaksin yang mengandung virus polio yang masih hidup yang telah dilemahkan (virus sabin) cara pemberiannya melalui oral/mulut dalam bentuk cairan (pill).

Jadwal Pemberian : 
• Pada bayi umur 2 – 22 bulan  sebanyak 3 x pemberian, dengan dosis 2 tetes, interval  4 minggu.
• Pemberian ulang  pada umur 1,5 – 2 tahun.
• Menjelang usia 5 tahun
• Pada umur 10 tahun
• Vaksin polio diberikan bersama-sama dengan  vaksin DPT.  Kekebalan yang diperoleh  dari vaksinasi polio 45 – 100%

Kontra Indikasi : Diare berat, Anak sakit berat, dan Defisiensi kekebalan. Adapun efek samping dari vaksin ini hamper tidak ada atau berak-berak ringan.

4. Vaksin Campak 
Untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit campak. Mengandung virus campak hidup yang sudah dilemahkan. Dapat diperoleh dalam kemasan  kering tunggal atau kombinasi dengan vaksin gondongan mumps dan rubella (di Amerika : meastes, mumps, rubella).

Jadwal Pemberian : Anak 0 – 11 bulan 1 x pemberian, dosis 0,5 cc Bila pemberian campak pada usia 9 bulan, harus diulangi pada usia 11 bulan. Kekebalan yang diperoleh 96-99%.

Reaksi Yang Timbul : 
• Demam ringan
• Sedikit bercak merah pada pipi, dibawah telinga pada hari ke 7 dan ke 8 setelah penyuntikan.
• Pembengkakan pada area penyuntikan.
• Kejang-kejang pada hari ke 10 – 12  setelah penyuntikan ( tidak berbahaya ).

Kontra Indikasi :
• Anak sakit parah
• Menderita TBC tanpa pengobatan
• Defisiensi gizi berat
• Defisiensi kekebalan
• Demam sampai 38°C
• Anak dengan riwayat kejang, tetap diberikan dengan pengawasan ketat.

5. Vaksin Hepatitis B
Disebabkan virus hepatitis B dapat menular secara vertikal dan horizontal, adapun Gejalanya tidak khas : anoreksia, mual, ikterik, Sejak 1992, menjadi program di Indonesia, Belum merata  pelaksanaanya disemua provinsi karena mahal. Diberikan pada bayi 0 – 11 bulan.

nah itu tadi sedikit penjelasan mengenai vaksin dan imunisasi, mudah-mudahan bermanfaat ya bun...

Monday, December 18, 2017

KONSEP KOMUNIKASI PADA ANAK

cara komunikasi yang baik dan benar pada anak-anak


Konsep Komunikasi Pada Anak
Komunikasi adalah pengiriman pesan atau tukar menukar informasi atau ide/gagasan (Oxford Dictionary)
Komunikasi adalah suatu proses ketika informasi disampaikan pada orang lain melalui simbol, tanda atau tingkah laku (Haber, 1987)
Komunikasi anak merupakan proses pertukaran informasi yang disampaikan oleh anak kepada orang lain dengan harapan kebutuhannya akan terpenuhi (Hidayat, 2005)

Unsur-unsur Komunikasi
• Komunikator
• Pesan
• Komunikan
• Media
• Respon/umpan balik

Faktor yang mempengaruhi komunikasi
• Situasi/Suasana
• Waktu
• Kejelasan Peran: Komunikator Harus Memahami Pesan Sebelum Menyampaikannya Kepada Pada Komunikan, Dapat Dimengerti Komunikan Dan Menggunakan Artikulasi Dan Intonasi Kalimat Yang Jelas

Sikap dalam Komunikasi
• Sikap berhadapan
• Sikap mempertahankan kontak
• Sikap membungkuk ke arah klien
• Sikap terbuka
• Sikap tetap rileks
• Sikap kesejatian
• Sikap empati
• Sikap hormat
• Sikap konkret

Komunikasi Pada Anak Sesuai Tahap Perkembangan

1. Masa bayi
lebih banyak menggunakan komunikasi non verbal. Bayi berekspresi dengan menangis, berespon terhadap sentuhan, dekapan, gendongan, dan suara yang lemah lembut. Untuk komunikasi dengan anak usia enam bulan ke atas, lakukan komunikasi dengan ibu terlebih dahulu

2. Masa balita (1-5 tahun)
Karakteristik egosentris, perasaan takut pada hal yang tidak diketahuinya, belum mampu berbicara secara fasih Oleh karena itu jelaskan prosedur pada anak dengan bahasa yang sederhana, singkat dan gunakan istilah-istilah yang dikenalnya, berikan kesempatan untuk mengenal alat-alat pemeriksaan, posisi tubuh jongkok (sejajarkan pandangan mata), puji hal-hal yang telah dicapainya

3. Masa 5-8 tahun
peka terhadap stimulus, di ungkapkan dengan pertanyaan: untuk  apa? Bagaimana caranya dilakukan?

4. Masa 8- 12 tahun
lebih mampu berkomunikasi dengan orang dewasa. Apabila melakukan tindakan bisa mendemonstrasikan pada mainan anak

5. Masa remaja
pola pikir merupakan peralihan dari anak-anak menjadi orang dewasa. Menghargai keberadaan identitas diri dan harga dirinya


Teknik berkomunikasi dengan anak
• Melalui orang ketiga
• Bercerita sebagai alat komunikasi
• Fasilitasi anak untuk berespon
• Meminta anak untuk menyebutkan keinginannya
• Biblioterapi
• Pilihan pro dan kontra
• Penggunaan skala peringkat
• Minta anak untuk menulis
• Minta anak untuk menggambar
• Laksanakan program bermain

Teknik berkomunikasi dengan orang tua
• Mendorong orang tua untuk berbicara
• Memfokuskan pembicaraan
• Mendengar secara aktif
• Empati
• Diam
• Meyakinkan kembali
• Merumuskan masalah bersama
• Pemecahan masalah
• Antisipasi kemungkinan yang akan terjadi

Hambatan Komunikasi
• Pendidikan
• Pengetahuan
• Sikap
• Usia tumbuh kembang
• Status kesehatan anak
• Sistem sosial
• Saluran: intonasi suara, sikap tubuh
• Lingkungan

KONSEP TUMBUH KEMBANG

konsep tumbuh kembang yang dimulai sejak bayi hingga remaja

Pengertian Tumbuh Kembang
1. Pertumbuhan 
Pertumbuhan yaitu terjadi perubahan fisik yang ditandai dengan pertambahan ukuran sel.
Pertumbuhan merupakan suatu proses perubahan fisik (anatomi) yang ditandai bertambahnya ukuran berbagai organ tubuh yang disebabkan adanya pembesaran sel-sel tubuh.
2. Perkembangan 
Perkembangan merupakan berlangsungnya proses kematangan, proses menuju kedewasaan yang ditandai bertambahnya kemampuan/keterampilan dan fungsi tubuh yang berkaitan dengan aspek non fisik.

Tahapan Tumbuh Kembang
Menurut Usia
• Tahap pranatal : dari konsepsi hingga lahir
• Tahap bayi (infant): dari lahir hingga usia 12 bulan
• Tahap kanak-kanak awal (toddler): dari usia 1 – 3 tahun
• Tahap preschool: dari usia 3 – 6 tahun
• Tahap school: dari usia 6 – 12 tahun
• Tahap masa remaja: usia 12 – 18 tahun 

Pola Arah Perkembangan 
1. Pola Perkembangan Fisik Yang Terarah
a. Cephalocaudal : pola pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari kepala yang ditandai dengan perubahan ukuran kepala yang lebih besar, kemudian berkembang kemampuan untuk menggerakkan lebih cepat dengan menggelengkan kepala dan dilanjutkan ke bagian ekstremitas bawah lengan ,tangan dan kaki
b. Proximaldistal : pola pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dengan menggerakkan anggota gerak yang paling dekat dengan pusat/sumbu tengah, seperti menggerakkan bahu dahulu baru kemudian jari-jari.
2. Pola Perkembangan Dari Umum Ke Khusus
Yaitu pola pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dengan menggerakkan daerah yang lebih umum (sederhana) dahulu baru kemudian daerah yang lebih kompleks. Misalnya melambaikan tangan kemudian memainkan jari.

Perkembangan Anak 
• Peningkatan fungsi-fungsi individu
1. sensorik (dengar, lihat, raba, rasa, cium) 
2. motorik (gerak kasar, halus)
3. kognitif (pengetahuan, kecerdasan)
4. komunikasi / berbahasa
5. emosi - sosial
6. kemandirian
7. kreativitas
8. kerjasama dan kepemimpinan
9. etika, budi pekerti, moral-spiritual

• Faktor Penentu Perkembangan Anak
1. internal : genetik + proses sejak kehamilan
2. eksternal : gizi, penyakit, kualitas pengasuh /keluarga, teman, sekolah

Pertumbuhan Dan Perkembangan Bayi

Pertumbuhan 
a. Tinggi badan
• 0 – 6 bln: 2,5 cm/bln hingga rata-rata 63,8 cm
• 6 – 12 bln: meningkat 50 %, hingga rata-rata 72,5 cm 
b. Berat badan
• 0 – 6 bln: bertambah 650 gr/bln, rata-rata 6 bln adalah 7,3 Kg
• 6 – 12 bln: bertambah 341 gr/bln, rata-rata 12 bln 9,8 Kg

Perkembangan Motorik
• Motorik Kasar
• Memutar kepala dari sisi satu ke sisi yg lain
• Mengangkat kepala di usia 3 bln
• Berguling sekitar usia 5 bln
• Duduk bersandar di usia 7 bln
• Duduk tanpa ditopang di usia 8 bln
• Naik untuk berdiri di usia 9 bln
• Berjalan merambat pd usia 10 bln
• Berjalan dengan bantuan sso pd usia 12 bln 
• Motorik Halus
• Genggaman yg kuat di usia 1 bln, refleks ini menghilang sktr 3 bln
• Menggenggam scr sadar pd usia 5 bln
• Memindahkan barang dari tangan 1 ke yg lain di usia 5 bln
• Menggenggam dg ibu jari dan jari lain di usia 7 – 8 bln
• Gerakan menjepit di usia 9 – 10 bln
• Membangun menara dua blok di usia 12 bln

Perkembangan Psikososial 
Menurut Erickson : Masa “Percaya vs tidak percaya”
Bayi sudah terbentuk rasa percaya kepada seseorang baik orang tua maupun orang yang mengasuhnya ataupun tenaga kesehatan yang merawatnya. Kegagalan pada tahap ini apabila terjadi kesalahan dalam mengasuh atau merawat maka akan timbul rasa tidak percaya.

Menurut Freud : Tahap Oral
Pada masa ini kepuasan dan kesenangan, kenikmatan dapat melalui dengan cara menghisap, menggigit, mengunyah atau bersuara, ketergantungan sangat tinggi dan selalu minta dilindungi untuk mendapatkan rasa aman. Masalah yang diperoleh pada tahap ini adalah menyapih dan makanan.

Perkembangan Kognitif 

Menurut Piaget : Tahap sensori motoric (0-2 thn)
Anak mempunyai kemampuan dalam mengasimilasi dan mengakomodasi informasi dengan cara melihat, mendengar, menyentuh dan kativitas motorik. Semua gerakan akan diarahkan ke mulut dengan merasakan keingintahuan sesuatu dari apa yang dilihat, didengar, disentuh dll.

Pertumbuhan Dan Perkembangan Usia Toddler

Pertumbuhan
a. Tinggi Badan
Rata-rata bertambah 7,5 cm/tahun, di usia 2 th sekitar setengah dari tinggi badan org dewasa
b. Berat Badan
Rata-rata bertambah 1,8 – 2,7 kg/th, pd usia 2,5 th mencapai 4 x berat lahir.

Perkembangan Motoric
Motorik Kasar
• Berjalan tanpa bantuan di usia 15 bln
• Menaiki tangga dg berpegangan pd satu tangan di usia 18 bln
• Melompat dengan 2 kaki pd usia 30 bln
Motorik Halus
• Membangun menara 2 blok dan mencorat-coret secara spontan di usia 15 bln
• Membangun menara 3 – 4 blok di usia 18 bln

Perkembangan Psikososial
Menurut Erikson: Otonomi vs Rasa ragu
Anak sudah mulai mencoba dan mandiri dalam tugas tumbuh kembang seperti kemampuan motorik dan bahasa. Pada tahap ini jika anak tidak diberikan kebebasan anak akanmerasa malu.

Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget: Tahap sensorimotorik
Menurut Freud: Tahap Anal
Kepuasan pada fase ini adalah pada pengeluaran tinja.Anak akan menunjukkan keakuannya dan sikapnya sangat narsistik yaitu cinta terhadap dirinya sendiri dan sangat egosentrik, mulai mempelajari struktur tubuhnya. Masalah pada saat ini adalah obesitas, introvet, kurang pengendalian diri dan tidak rapi.
Pertumbuhan dan perkembangan Anak Preschool
Tinggi badan, pertambahan sekitar 6 – 7,5 cm/th dan pada usia 4 tahun sekitar 101,25 cm. 
Berat badan bertambah sekitar 2,3 kg/th dan di usia 4 tahun mencapai rata-rata 16,8 Kg.

Perkembangan Motorik Kasar
• Usia 3 tahun: mulai mengendarai sepeda roda tiga, menaiki tangga dengan kaki yang bergantian, berdiri satu kaki dalam beberapa detik, melompat dengan jarak yang lebar.
• Usia 4 tahun: melompat dengan satu kaki, menangkap bola, menuruni tangga dengan kaki yang bergantian
• Usia 5 tahun, anak dapat melempar dan menangkap bola, melangkah dengan mata tertutup, melompati tali.
Perkembangan Motorik Halus
• Usia 3 tahun: dapat membuat menara dari 9 – 10 balok, meniru lingkaran, dan meniru garis silang.
• Usia 4 tahun: anak belajar menalikan sepatunya, meniru gambar kotak, menggambar bentuk.
• Usia 5 tahun: anak bisa mengikat tali sepatunya, menggunakan gunting dengan baik, meniru gambar segitiga, menulis beberapa kata dan angka juga nama panggilannya.

Perkembangan Bahasa
• Usia 3 tahun, anak dapat mengucapkan 900 kata, menggunakan 3 – 4 kalimat. 
• Usia 4 tahun menguasai 1500 kata, bercerita, menyanyikan lagu, di usia ini anak banyak menggunakan kata “kenapa”.
• Usia 5 tahun anak menguasai 2100 kata, mengenal warna, nama-nama hari dalam seminggu, dan nama bulan.

Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget, ada dlm fase pemikiran preoperasional, anak mulai menggunakan klasifikasi sederhana, menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa yang lain.

Perkembangan Psikososial
Menurut Erikson, ada dalam tahap “Initiative VS Guilt” . Anak akan mulai inisiatif dalam belajar mencari pengalaman baru secara aktif dalam aktivitasnya. Apabila pada tahap ini anak dilarang akan timbul rasa bersalah.

Perkembangan Psikososial
Menurut Freud, pada tahap Phalik kesenangan anak berpusat pada genitalia. 
Fase Oedipal terjadi ditandai dengan rasa bersaing dengan orang tua yang sama jenis kelaminnya dan lebih dekat dengan orang tua yang berbeda jenis kelaminnnya. 

Pertumuhan Dan Perkembangan Anak Usia School

Pertumbuhan
Rata-rata TB bertambah 5 cm/tahun, dan BB bertambah 2 – 3 kg/tahun.

Perkembangan Motorik
Motorik kasar : mengendarai sepeda, bersepatu roda atau menggunkan skateboard, peningkatan yang progresif dalam keterampilan melompat, berlari, dan berenang.
Motorik halus : menulis dengan baik, menulis kalimat. Mereka memiliki kemampuan yang lebh baik dalam keterampilan tangan, dan mulai bisa mengoperasikan komputer.

Perkembangan Bahasa
Usia 7-9 tahun anak sudah dapat berkomunikasi dengan pola pembicaraan orang dewasa, Belajar menyusun kata-kata menjadi struktur kalimat yang baik.

Perkembangan Kognitif
Usia 7 – 11 tahun menurut Piaget berada pada tahap “Concrete Operations”, ditandai dengan anak dapat membuat alasan yang induktif, kegiatan operasional logik, dan pemikiran konkrit. Aktivitas yang khusus pada anak ini adalah mengumpulkan dan mengoleksi benda-benda seperti boneka, kelereng.

Perkembangan Psikososial
Tahap “Industri VS Inferiority”. Hal penting untuk anak adalah lingkungan sekolah. 
“Industri” anak ditunjukkan dengan adanya keinginan untuk mencapai sesuatu yang nyata, belajar bagaimana berkompetisi dengan orang lain dan bagaimana cara meraih sesuatu. Rasa “Inferiority” dirasakan ketika anak tidak dapat meraih apa yang mereka inginkan.

Perkembangan Psikoseksual
Freud : usia 5 – 12 tahun relatif tidak memperhatikan masalah seksual sebelum masa pubertas atau dewasa Selama masa ini, pengembangan harga diri sejalan dengan peningkatan keingintahuan dalam hal konsep dan nilai-nilai.

Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak Remaja

Pertumbuhan
Pada usia remaja sekitar 20 – 25 % tinggi badan untuk orang dewasa sudah diraih. Berat badan selama masa remaja sudah mencapai 30 – 50 % berat orang dewasa.
Motorik kasar sudah mencapai level orang dewasa dan motorik halus dilanjutkan untuk menjada lebih baik.

Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget, usia 11 – 15 tahun, memasuki masa perkembangan operasional formal, anak mengembangkan alasan-alasan yang abstrak. Anak mengembangkan pendekatan yang sistematis pada saat menyelesaikan masalah.

Perkembangan Psikososial
Pada masa ini yang menjadi hal penting adalah kelompok teman sebaya. Mereka mengembangkan konsep diri dan peran yang dapat diaplikasikan.

Psikoseksual
Konsentrasi inti pada masa ini termasuk perkembangan gambaran diri dan penerimaan dari teman yang berlainan jenis kelamin.



Friday, November 24, 2017

MELATIH ANAK TENTANG TOILET TRAINING (LATIHAN BERKEMIH)

MENGENAL TENTANG LATIHAN TOILET TREINING PADA ANAK

Hai bunda ketemu lagi dengan saya, dalam pembahasan kali ini saya akan menjelaskan tentang toilet training atau latihan berkemih pada anak. 

Mungkin bunda pernah mengalami dan merasa kesal dengan anak yang sering ngompol atau bab sembarangan, nah oleh sebab itu bunda perlu sekali mengajarkan kepada anak tentang toilet training.

Apa itu toilet training?
Latihan pada anak yang dilakukan oleh perawat / orang tua berupa latihan mengontrol sfingter anus (latihan defekasi) dan sfingter urethra (latihan berkemih/miksi). Suatu usaha untuk melatih anak mampu mengontrol dalam melakukan bab / bak.

Yang harus di perhatikan pada saat melatih anak toilet training adalah :
• Toilet training merupakan tugas perkembangan anak usia toddler
• Pada usia toddler kemampuan sfingter urethra dan sfingter ani untuk mengontrol  rasa ingin defekasi dan berkemih berkurang.
• sejalan dengan anak mampu  berjalan , kedua sfingter tersebut  semakin mampu mengontrol  rasa ingin berkemih dan defekasi.
• Kontrol rasa defeksai lebih dulu tercapai dari kontrol rasa ingin berkemih.

Toilet Training Pada Anak
• Gunakan pot kecil  yang bisa diduduki anak ( jika ada ), atau langsung ke toilet pada jam tertentu secara reguler.
• Anak didukan pada toilet atau pot  yang bisa diduduki  dengan cara manapakkan  kaki pada lantai untuk membantu mengejan.
• Latihan merangsang rasa untuk mengejan ini dapat dilakukan 5 – 10 menit
• Awasai anak selama latihan
• Kenakan pakaian yang mudah dibuka.

Tanda Kesiapan Anak  Mampu Mengontrol Rasa Ingin Berkemih Dan  Defekasi
Kesiapan fisik
• Usia 18 – 24 bulan.
• Dapat duduk dan jongkok lebih dari 2 jam
• Ada gerakan usus yang reguler
• Kemampuan motorik kasar
• Kemampuan motorik halus

Kesiapan mental
• Mengenal rasa  untuk berkemih / defekasi.
• Komunikasi secara verbal dan non-verbal jika merasa ingin berkemih
• Kemmapauan kognitif untuk mengikuti perintah dan meniru

Kesiapan psikologis
• Dapat duduk dan jongkok di toilet selama 5-10 menit tanpa berdiri dulu.
• Memiliki rasa penasaran/ingin tahu terhadap kebiasaan orang dewasa
• Merasa tidak betah  dengan kondisi basah dan adanya benda padat di celana, dan ingin diganti segera

Kesiapan orang tua
• Mengenal tingkat kesiapan anak.
• Ada keinginan untuk menluangka waktu melatih anak
• Tidak mengalami stress konflik keluarga yang berat

nah itu tadi sedikit penjelasan mengenai toilet training, mudah-mudahan dapat bermanfaat....

PENATALAKSANAAN PADA BAYI DENGAN HIPERBILIRUBIN/KUNING DI RUMAH


penatalaksnaan hiperbilirubin atau penyakit kuning pada bayi di rumah

Penatalaksanaan perawatan pada bayi hiperbilirubin/Kuning dirumah

Sewaktu bayi  janin berada dalam rahim maka tugas membuang bilirubin dari darah janin dilakukan oleh plasenta. Hati/liver si janin tidak perlu membuang bilirubin. Ketika bayi sudah lahir, maka tugas ini langsung diambil alih oleh hati. Karena hati bayi  belum terbiasa melakukannya, maka terkadang memerlukan beberapa minggu untuk penyesuaian. Selama hati bayi  bekerja keras untuk menghilangkan bilirubin dari darahnya, jumlah bilirubin yang tersisa akan terus menumpuk di tubuhnya. Sehingga menimbulkan ikterus pada bayi.
Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. Pada sebagian neonatus, ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan pada 80% bayi kurang bulan.

1. Pengertian Hiperbilirubin
Hiperblirubinemia adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam daarah meningkat (Bobak, Maternity Health Care, 2002) Hyperblirubinemia adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah bayi melebihi batas normal yang disertai ikterus (kuning) yang tampak pada kulit, mukosa, sclera mata, dan urine.
Jaundice atau ikterus : warna kuning pada kulit dan atau sclera mata akibat penumpukan bilirubin indirek akibat dari hasil pemecahan sel darah merah.

2. Penyebab
a. Siklus sel darah merah pada bayi lebih pendek daripada orang dewasa. Ini berarti lebih banyak bilirubin yang dilepaskan melalui organ hati bayi anda. Kadang-kadang hati bayi belum cukup matang untuk mengatasi jumlah birubin yang berlebih.
b. Hiperbilirubin terjadi ketika organ hati bayi tidak bisa menghilangkan bilirubin dari darah secara cepat. Bilirubin yang berlebih yang tidak dapat keluar dari tubuh kemudian berkumpul pada kulit bagian putih bola mata.
c. Kejadian ini umum terjadi pada bayi yang memiliki golongan darah yang berbeda dengan ibunya, misalnya ibu memiliki rhesus positif sedangkan bayi memiliki rhesus negatif atau ibu memiliki golongan darah O sedangkan bayi memiliki golongan darah A, B, atau AB.
d. Selain dari golongan darah bayi yang lahir premature, karena kurang matangnya fungsi hati, bayi yang memiliki kelainan pada hati dan gangguan kesehatan lainnya, bayi yang mengalami infeksi juga dapat mengalami gangguan fungsi hati, bayi yang kekurangan cairan, juga bayi yang kekurangan enzym G6PD (Glukosa 6 Phospate Dehidrogenase), yaitu enzim Yang bertugas memperkuat dinding sel darah merah

3. Tanda dan Gejala
Menurut Surasmi (2003) gejala hiperbilirubinemia dikelompokkan menjadi :
a. Gejala akut : gejala yang dianggap sebagai fase pertama kernikterus pada neonatus adalah letargi, tidak mau minum dan hipotoni.
b. Gejala kronik : tangisan yang melengking (high pitch cry) meliputi hipertonus dan opistonus (bayi yang selamat biasanya menderita gejala sisa berupa paralysis serebral dengan atetosis, gengguan pendengaran, paralysis sebagian otot mata dan displasia dentalis).
Sedangkan menurut Handoko (2003) gejalanya adalah warna kuning (ikterik) pada kulit, membrane mukosa dan bagian putih (sclera) mata terlihat saat kadar bilirubin darah mencapai sekitar 40 µmol/l.
Tanda dan gejala lainnya seperti :
- Warna tinja pucat atau seperti tanah liat
- Urin berwarna kuning atau kecoklatan
- Nafsu makan berkurang
- Reflek hisap kurang

4. Cara Penanganan Dirumah
a. Waspada dan telitilah setiap perubahan pada tubuh, tangan, kuku dan muka bayi yang baru lahir.
Kadang sering kali orang tua tidak menyadari bahwa bayinya sedang mengalami kuning. Dibeberapa kasus orang tua tidak menyadari karena memang belum sadar dan masih awam perubahan dan tanda-tanda kuning pada bayi. Yang lainya adalah disebabkan oleh tata cahaya pada ruangan yang remang dan menyebabkan tidak terlihat jelasnya kuning pada si bayi. Sebagai tindakan antisipasi mengatasi gejala kuning pada bayi, sering-sering membawa bayi ke ruang yang terang sehingga bisa terlihat perubahan warna kulit.
b. Perhatikan gerak-gerik sang bayi
bayi yang baru lahir memang menghabiskan sebagian besar waktu dengan tidur, namun tentu para orang tua bisa melihat tangis yang menandakan si bayi haus, atau mungkin popok yang basah. Jika si bayi teralu asyik tidur, tanda ini patut diwaspadai bayi yang aktif tidur tanpa ada jeda menyusui adalah gejala awal kuning, jika didiamkan kuning akan semakn menjadi. Asupan susu ASI yang rutin setiap 2 jam adalah cara ampuh untuk mengatasi kuning pada bayi baru lahir.
c. Disiplin memberikan asupan asi tanpa terkecuali
Sering kali orang tua baru, menyerah begitu si bayi mulai menghentikan minumnya karena asyik tidur, perasaan tidak tega kadang muncul. Namun perlu diketahui pemberian susu ASI mutlak diperlukan secara rutin, bayi yang kekurangan asupan asi beresiko tinggi mengalami kuning apalagi umur bayi yang belum sampai 2 minggu.
d. Jemur dimatahari pagi pukul 7-8 pagi
sinar matahari sangat bagus untuk mengatasi kuning pada bayi baru lahir, sisi positif lainnya sang bayi juga akan merasakan hangat sehingga timbul rasa haus dimana bayipun kan segera lahap untuk menyusu.
e. Untuk amannya sangat dianjurkan periksa ke dokter seminggu setelah bayi lahir dan dilakukan rutin sesuai kebutuhan

Tuesday, November 14, 2017

CARA DAN MANFAAT MENYUSUI

posisi yang benar pada saat menyusui bayi cara dan manfaat menyusui

Hai bunda ketemu lagi dengan saya, kali ini saya akan menjelaskan tentang cara dan manfaat menyusui. 
Penting untuk diketahui nih bun kalo menyusui itu sangat banyak sekali manfaatnya khususnya untuk bayi umumnya untuk ibunya sendiri. Penasaran apa saja manfaatnya.? Yooo kita simak dibawah ini..

Sebelum kita mengetahui cara dan manfaat menyusui, bunda tahu gak laktasi itu apa..?

Laktasi adalah suatu proses menyusui dimulai dari produksi ASI sampai dengan ASI dihisap dan ditelan oleh bayi.

ASI (Air Susu Ibu) merupakan cairan putih yang dihasilkan oleh suatu kelenjar pada payudara wanita melalui proses laktasi.
Perlu bunda ketahui juga kalau produksi ASI pada setia ibu perbeda-beda, ada yang banyak ada juga yang sedikit, berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI :
• Frekuensi Penyusuan (Disarankan 8x selama awal menyusui)
• Berat Lahir (Berhubungan dengan kemampuan menghisap )
• Umur Kehamilan saat Melahirkan
• Stres dan Penyakit Akut (Yang dapat mengganggu proses laktasi)
• Konsumsi Rokok (Dapat Menghambat pengeluaran hormone)
• Konsumsi Alkohol

Sebelum bunda menyusui, alangkah baiknya bunda mempersiapkan kebersihan terutama pada area puting dan memperhatikan posisi senyaman mungkin baik untuk bunda maupun bagi bayi bunda.

Posisi Menyusui Yang Benar

• kepala dan tubuh bayi dalam posisi lurus.
• bayi menghadap ke payudara ibu dengan hidung menempel pada puting payudara.
• mulut bayi terbuka lebar dengan dagu menyentuh payudara ibu.
• tubuh ibu dan bayi menempel.
• ibu menahan seluruh tubuh bayi, bukan hanya bagian kepala dan bahu

untuk lebih jelasnya bunda bisa lihat gambar dibawah ini

posisi yang benar pada saat menyusui

posisi yang benar pada saat menyusui bayi

 
Manfaat Menyusui
 
1. Manfaat bagi bayi
• Komposisi sesuai kebutuhan
• Kalori dari ASI memenuhi kebutuhan bayi sampai usia enam bulan .
• ASI mengandung zat pelindung .
• Perkembangan psikomotorik lebih cepat .
• Menunjang perkembangan kognitif .
• Menunjang perkembangan penglihatan .
• Memperkuat ikatan batin ibu-anak .
• Dasar untuk perkembangan emosi yang hangat .
• Dasar untuk perkembangan kepribadian dan percaya diri.

2. Manfaat Bagi Ibu
• Mencegah perdarahan pasca persalinan dan mempercepat kembalinya rahim ke bentuk semula .
• Mencegah anemia defisiensi zat besi
• Mempercepat ibu kembali ke berat sebelum hamil .
• Menunda kesuburan .
• Menimbulkan perasaan dibutuhkan .
• Mengurangi kemungkinan kanker payudara dan ovarium .


Nah itu tadi cara dan manfaat menyusui, mudah-mudahan bermanfaat ya bun….


Baca Juga CARA PERAWATAN PAYUDARA (BREST CARE)

Tuesday, November 7, 2017

MENGENAL BRONCHOPNEUMONIA

mengenat pengertian, penyebab tanda dan gejala penyakit bronchopneumonia

Orang tua sebaiknya waspada bila anak mengalami batuk dan gangguan pernapasan karena bisa saja menjadi tanda awal pneumonia.

Apa itu Bronchopneumonia.? 
Penyakit yang satu ini merupakan bagian dari penyakit yang cukup serius dan seringkali menjadi salah satu penyebab kematian paling berbahaya. Ironisnya, faktor dan resiko irama dari kematian ini rupanya lebih banyak diakibatkan karena kurang sadarnya kondisi kesehatan atau dalam kata lain keterlambatan diagnosa seringkali disebabkan oleh kurang cepatnya respon terhadap gejala yang dinampakan.
Dalam kesempatan kali ini saya akan menjelaskan tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala serta cara penanganannya. untuk lebih lengkapnya kita bisa lihata penjelasannya dibawah ini.
Bunda tahu gak apa itu Bronchopneumonia.?

Bronchopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan oleh bakteri,virus, jamur dan benda asing.

Bunda tahu gak peneyebabnya apa.?

Bronkopneumonia  ini umumnya disebabkan oleh :
1) Bakteri : Diplococus Pneumonia, Pneumococcus, Stretococcus Hemoliticus Aureus, Haemophilus Influenza, Basilus Friendlander (Klebsial Pneumoni), Mycobacterium Tuberculosis.
2) Virus : Respiratory syntical virus, virus influenza, virus sitomegalik.
3) Jamur : Citoplasma Capsulatum, Criptococcus Nepromas, Blastomices Dermatides, Cocedirides Immitis, Aspergillus Sp, Candinda Albicans, Mycoplasma Pneumonia. Aspirasi benda asing.
4) Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya Bronchopnemonia adalah daya tahan tubuh yang menurun misalnya akibat malnutrisi energi protein (MEP), penyakit menahun, pengobatan antibiotik yang tidak sempurna.

Bunda tahu gak tanda dan gejalanya seperti apa.?


Tanda dan gejala broncho pneumonia diantaranya :
1). Sesak nafas
2). Batuk
3). Demam tinggi (39-40O C disertai menggigil).
4). Gelisah
5). Diare
6). Kejang, sakit kepala, dan nyeri otot
7). Kebiruan pada hidung dan mulut
8). Anoreksia dan susah menelan

Bunda tahu gak cara mencegahnya.?

1) Cegah anak terkena udara dingin
2) Jika anak terkena flu segera periksa ke Puskesmas atau Dokter terdekat
3) Rumah harus bebas dari debu
4) Usahakan bagian dalam rumah terkena sinar matahari
5) Buka jendela rumah tiap pagi
6) Jika anak tersedak minuman segera periksakan ke Puskesmas atau Dokter terdekat

Bunda tahu gak cara penanganannya.?
 
1) Berikan kompres hangat pada ketiak dan leher jika anak demam
2) Tidurkan anak dengan posisi setengah duduk/diganjal dengan bantal
3) Bila anak batuk berdahak, suruh anak mengeluarkan dahaknya dengan cara dibatukkan
4) Bila dahak susah dikeluarkan dengan cara dibatukkan, keluarkan dahak dengan cara tepukan pada punggung dan dada
5) Bujuk agar anak mau makan
6) Berikan minum ASI yang cukup, bagi anak yang masih menyusui.

Nah itu tadi penjelasan mengenai penyakit bronchopneumonia, mudah-mudahan bermanfaat ya bun….

Tuesday, October 24, 2017

WASPADA DIARE PADA ANAK DIMUSIM HUJAN

penanganan diare pada anak

Musim hujan telah tiba, artinya peluang anak untuk terkena sakit juga semakin besar. kita waspadai penyakit yang biasa menyerang anak di musim hujan, terutama diare. 

Penyakit diare masih menjadi masalah global dengan derajat kesakitan dan kematian yang tinggi di berbagai negara terutama di negara berkembang. Penyakit diare ini biasanya berhubungan dengan konsumsi makanan si kecil. Biasanya kuman dan virus yang ada di makanan bisa menjadi pemicu diare. Selain itu, pada musim hujan tentunya risiko banjir akan lebih besar. Nah, air kotor pada banjir ini bisa saja mencemari air di rumah dan memicu virus yang menimbulkan diare. Agar si kecil tidak terkena diare, ada baiknya selalu menjaga kebersihan si kecil. Minumlah air mineral yang bersih dan terjamin higienis, selalu bersihkan rumah terutama sehabis hujan, hindari tumpukan sampah di sekitar rumah, dan selalu cuci tangan si kecil setiap mau makan dan setelah buang air.

Apa Itu Diare ?
 
Diare adalah buang air besar dalam bentuk cair atau encer sebanyak 3 kali atau lebih dalam 1 hari atau 24 jam.

Gejala apa yang dapat timbul akibat diare ?
 
a. Buang air besar dalam bentuk encer atau cair lebih dari 3 kali dalam 1 hari
b. Gelisah dan rewel
c. Badan lemah, lesu dan tidak mau makan
d. Rasa haus
e. Badan lunglai

Gejala lain yang dapat menyertai penyakit diare adalah demam dan muntah. Jika diare dan muntah terjadi terus menerus dapat menyebabkan anak kekurangan cairan (dehidrasi).

Tanda awal anak mengalami dehidrasi adalah anak akan merasa haus. Jika hal ini tidak segera mendapat pertolongan, dehidrasi akan bertambah berat dengan ditandai dengan :
1. Kencing mulai berkurang dan jarang.
2. Mata tampak cekung, pada bayi ubun-ubun cekung, bibir dan lidah kering, tidak tampak air mata walaupun menangis.
3. Turgor berkurang yaitu bila kulit perut dicubit tetap berkerut.
4. Anak cengeng, gelisah, dan bias tidak sadarkan diri pada dehidrasi berat.
5. Nadi melemah sampai tak teraba, tangan dan kaki teraba dingin.
6. Nafas tampak sesak
7. Kejang

Tips Mencegah Diare


Kita harus memperhatikan lingkungan agar tetap terhindar dari potensi timbulnya penyakit. Kuman atau bibit penyakit akan tumbuh subur pada lingkungan yang kotor. Pada keadaan tersebut kalau kita perhatikan lingkungan sekitar bahwa lalat dan kecoa akan lebih banyak. Kita tahu bahwa lalat dan kecoa merupakan vector penting membawa kuman penyakit, terutama kuman penyakit yang menyerang pencernaan kita.
Saat musim hujan, permukaan air naik. Jika air tersebut tercemar dan masuk ke dalam sumur atau sumber air lainnya yang dikonsumsi masyarakat, maka rentan terserang diare.
Berikut beberapa tips untuk mencegah diare :
1. Saat hujan turun tiap hari, selokan-selokan yang tersumbat biasanya meluap, dan membawa parasit cacing serta amoeba turut terangkat. Untuk mencegah diare biasakan untuk menjaga kebersihan dengan cuci tangan dan kaki setelah berpergian. Cuci tangan sebelum makan dengan sabun.
2. Kenakan alas kaki untuk mencegah penyebaran dan masuknya kotoran atau parasit lewat kulit.
3. Hindari membeli makanan di sembarang tempat. Minumlah hanya minum air matang atau air yang sudah mendidih, mengkonsumsi makanan yang telah dimasak. Tutup makanan yang disajikan dengan tudung saji.
4. Jaga kebersihan lingkungan dengan membersihkan selokan, terutama yang tersumbat, buang sampah pada tempatnya.
5. Perbanyak minum vitamin dan asupan nutrisi untuk menjaga kondisi tubuh.
6. Sediakan selalu oralit dirumah.

Membuat Larutan Gula Dan Garam Untuk Diare
Bahan dan alat yang diperlukan
• Gula pasir sebanyak 1 (satu)  sendok teh munjung
• Garam dapur yang halus sebanyak ¼ (seperempat) sendok teh
• Air masak atau air teh yang hangat (tidak selagi mendidih) sebanyak 1 (satu) gelas
• Gelas belimbing / lainnya yang sama ukurannya, dan sendok teh
Cara membuat larutan gula garam (LGG)
1. Sebelum membuat, cucilah tangan sampai bersih
2. Tuangkan air masak, atau air teh ke dalam gelas sebanyak 1 (satu) gelas
3. Masukkanlah “gula pasir” dan “garam” menurut takaran yang telah ditentukan
4. Aduklah sampai gula dan garam menjadi larut semua
5. Minumlah sebanyak anak mau. Bila habis dibuatkan lagi dengan cara yang sama.

Mencegah lebih baik dari pada mengobati…iya kan bu..