Showing posts with label Maternitas. Show all posts
Showing posts with label Maternitas. Show all posts

Monday, February 12, 2018

MENGENAL ISTILAH MENOPAUSE

mengenal istilah menopause


Mengenal istilah Menopause
  
Kata menopause berasal dari dua kata Yunani yang berarti "bulan” dan “penghentian sementara” yang lebih tepat disebut “menocease”.  Secara medis istilah menopause mengandung arti berhentinya masa menstruasi, bukan istirahat. 
  
Meski menopause mengandung arti akhir masa menstruasi, walaupun demikian dalam penggunaan secara umum menopause mempunyai makna masa transisi atau masa peralihan, dari beberapa tahun sebelum menstruasi terakhir sampai setahun sesudahnya. Hal itu disebabkan karena keluaran hormon dari ovarium (indung telur) berkurang, masa haid menjadi tidak teratur dan kemudian lenyap sama sekali. Dengan lenyapnya haid ini maka wanita sudah memasuki suatu masa peralihan yaitu masa Menopause.

Menopause adalah suatu tahapan dimana wanita tidak lagi mendapatkan siklus menstruasi yang menunjukkan berakhirnya kemampuan wanita untuk bereproduksi. Secara normal wanita akan mengalami menopause antara usia 40 tahun sampai 50 tahun. Pada saat menopause, wanita akan mengalami perubahan-perubahan di dalam organ tubuhnya yang disebabkan oleh bertambahnya usia. Usia dari hari ke hari akan terus berjalan dan setiap orang seiring dengan bertambahnya usia tidak akan lepas dari predikat tua. Dengan bertambahnya usia maka gerak-gerik, tingkah laku, cara berpakaian dan bentuk tubuh mengalami suatu perubahan.  

Secara singkat dapat dikatakan bahwa menopause merupakan suatu proses peralihan dari masa produktif menuju perubahan secara perlahan-lahan ke masa non produktif yang disebabkan oleh berkurangnya hormon estrogen dan progesteron seiring dengan bertambahnya usia. Sehubungan dengan terjadinya menopause pada lansia maka biasanya hal itu diikuti dengan berbagai gejolak atau perubahan yang meliputi aspek fisik maupun psikologis yang dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan si lansia tersebut.  

Perubahan apa saja yang terjadi pada wanita yang memasuki masa menopause.?

1. Perubhan Fisik 
Ketika seseorang memasuki masa menopause, fisik mengalami ketidaknyamanan seperti rasa kaku dan linu yang dapat terjadi secara tiba-tiba di sekujur tubuh, misalnya pada kepala, leher dan dada bagian atas. Kadang-kadang rasa kaku ini dapat diikuti dengan rasa panas atau dingin, pening, kelelahan, jengkel, resah, cepat marah, dan berdebar-debar (Hurlock, 1992). Beberapa keluhan fisik yang merupakan tanda dan gejala dari menopause yaitu: 

a. Tidak Teraturnya Siklus Haid  
Tanda paling umum adalah fluktuasi dalam siklus haid, kadang kala haid muncul tepat waktu, tetapi tidak pada siklus berikutnya. Ketidakteraturan ini sering disertai dengan jumlah darah yang sangat banyak, tidak seperti volume pendarahan haid yang normal. Keadaan ini sering mengesalkan wanita karena ia harus beberapa kali mengganti pembalut yang dipakainya. Normalnya haid akan berakhir setelah tiga sampai empat hari, namun pada keadaan ini haid baru dapat berakhir setelah satu minggu atau lebih. 

b. Rasa Panas 
Arus panas biasanya timbul pada saat darah haid mulai berkurang dan berlangsung sampai haid benar-benar berhenti. Sheldon H.C (dalam Rosetta Reitz, 1979) mengatakan “ kira-kira 60% wanita mengalami arus panas”. Arus panas ini disertai oleh rasa menggelitik disekitar jari-jari, kaki maupun tangan serta pada kepala, atau bahkan timbul secara menyeluruh. Munculnya hot flashes ini sering diawali pada daerah dada, leher atau wajah dan menjalar ke beberapa daerah tubuh yang lain. Hal ini berlangsung selama dua sampai tiga menit yang disertai pula oleh keringat yang banyak. Ketika terjadi pada malam hari, keringat ini dapat menggangu tidur dan bila hal ini sering terjadi akan menimbulkan rasa letih yang serius bahkan menjadi depresi. 

c. Kekeringan Vagina 
Kekeringan vagina terjadi karena leher rahim sedikit sekali mensekresikan lendir. Penyebabnya adalah kekurangan estrogen yang menyebabkan liang vagina menjadi lebih tipis, lebih kering dan kurang elastis. Alat kelamin mulai mengerut, Liang senggama kering sehingga menimbulkan nyeri pada saat senggama, keputihan, rasa sakit pada saat kencing. Keadaan ini membuat hubungan seksual akan terasa sakit. Keadaan ini sering kali menimbulkan keluhan pada wanita bahwa frekuensi buang air kecilnya meningkat dan tidak dapat menahan kencing terutama pada saat batuk, bersin, tertawa atau orgasme. 

d. Perubahan Kulit 
Estrogen berperan dalam menjaga elastisitas kulit, ketika menstruasi berhenti maka kulit akan terasa lebih tipis, kurang elastis terutama pada daerah sekitar wajah, leher dan lengan. Kulit di bagian bawah mata menjadi mengembung seperti kantong, dan lingkaran hitam dibagian ini menjadi lebih permanen dan jelas (Hurlock, 1992) 

e. Keringat di Malam Hari 
Berkeringat malam hari,  bangun bersimbah peluh. Sehingga perlu mengganti pakaian dimalam hari. Berkeringat malam hari tidak saja menggangu tidur melainkan juga teman atau pasangan tidur. Akibatnya diantara keduanya merasa lelah dan lebih mudah tersinggung, karena tidak dapat tidur nyenyak. 

f. Insomnia/Sulit Tidur 
Insomnia (sulit tidur) lazim terjadi pada waktu menopause, tetapi hal ini mungkin ada kaitannya dengan rasa tegang akibat berkeringat malam hari, wajah memerah dan perubahan yang lain. 

g. Perubahan Pada Mulut 
Pada saat ini kemampuan mengecap pada wanita berubah menjadi kurang peka, sementara yang lain mengalami gangguan gusi dan gigi menjadi lebih mudah tanggal. 

h. Osteoporosis/Kerapuhan Tulang 
Rendahnya kadar estrogen merupakan penyebab proses osteoporosis (kerapuhan tulang). Osteoporosis merupakan penyakit kerangka yang paling umum dan merupakan persoalan bagi yang telah berumur, paling banyak menyerang wanita yang telah menopause. Biasanya kita kehilangan 1% tulang dalam setahun akibat proses penuaan (mungkin ini yang menyebabkan nyeri persendian), tetapi kadang setelah menopause kita kehilangan 2% setahunnya. John Hutton (1984:35) memperkirakan sekitar 25% wanita kehilangan tulang lebih cepat daripada proses menua. Menurunnya kadar estrogen akan diikuti dengan penurunan penyerapan kalsium yang terdapat dalam makanan. Kekurangan kalsium ini oleh tubuh diatasi dengan menyerap kembali kalsium yang terdapat dalam tulang, dan akibatnya tulang menjadi keropos dan rapuh. 

i. Badan Menjadi Gemuk 
Banyak wanita yang menjadi gemuk selama menopause. Rasa letih yang biasanya dialami pada masa menopause, diperburuk dengan perilaku makan yang sembarangan. Banyak wanita yang bertambah berat badannya pada masa menopause, hal ini disebabkan oleh faktor makanan ditambah lagi karena kurang berolahraga.   

j. Rentan Terhadap Penyakit 
Ada beberapa penyakit yang seringkali dialami oleh wanita menopause. Dari sudut pandang medik ada 2 (dua) perubahan paling penting  yang terjadi pada waktu menopause yaitu meningkatnya kemungkinan terjadi penyakit jantung, pembuluh darah serta hilangnya mineral dan protein di dalam tulang (osteoporosis). Penyakit jantung dan pembuluh darah dapat menimbulkan gangguan seperti stroke atau serangan jantung. Selain itu penyakit kanker juga lebih sering terjadi pada orang yang berusia lanjut.  Semakin lama kehidupan maka semakin besar kemungkinan penyakit itu menyerang. Misalnya kanker payudara, kanker rahim dan kanker ovarium. Kanker payudara lebih umum terjadi pada wanita yang telah melampaui masa menopause.

Kanker rahim adalah istilah luas untuk kanker yang terjadi di rahim, ada dua bagian rahim yang dapat menjadi tempat bermulanya kanker. Yang pertama adalah serviks, kanker ini terutama berjangkit pada wanita berusia diatas 30 tahun. Gejala yang harus diperhatikan adalah pendarahan vagina setelah persetubuhan, pergetahan vagina yang tidak biasa dan noda diantara haid. Sementara kanker indometrium (kanker tubuh rahim) terutama menjangkiti wanita diatas usia 45 tahun, yang paling menanggung resiko adalah yang pernah mendapat haid agak lambat, dan yang mempunyai kombinasi antara tekanan darah tinggi, diabetes, dan berat tubuh berlebih. Gejalanya adalah pendarahan tak normal, pendarahan antara haid, keluaran darah yang lebih lama atau lebih kental dibandingkan biasanya, dan pendarahan haid terakhir dalam menopause. 

2. Perubahan Psikologis 
Aspek psikologis yang terjadi pada lansia atau wanita menopause amat penting peranan dalam kehidupan sosial lansia terutama dalam menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan pensiun; hilangnya jabatan atau pekerjaan yang sebelumnya sangat menjadi kebanggaan sang lansia tersebut. Berbicara tentang aspek psikologis lansia dalam pendekatan eklektik holistik, sebenarnya tidak dapat dipisahkan antara aspek organ-biologis, psikologis, sosial, budaya dan spiritual dalam kehidupan lansia.
Beberapa gejala psikologis yang menonjol ketika menopause adalah mudah tersinggung, sukar tidur, tertekan, gugup, kesepian, tidak sabar, tegang (tension), cemas dan depresi. Ada juga lansia yang kehilangan harga diri karena menurunnya daya tarik fisik dan seksual, mereka merasa tidak dibutuhkan oleh suami dan anak-anak mereka, serta merasa kehilangan femininitas karena fungsi reproduksi yang hilang.  Beberapa keluhan psikologis yang merupakan tanda dan gejala dari menopause yaitu: 

a. Ingatan Menurun/Pikun 
Gelaja ini terlihat bahwa sebelum menopause wanita dapat mengingat dengan mudah, namun sesudah mengalami menopause terjadi kemunduran dalam mengingat, bahkan sering lupa pada hal-hal yang sederhana, padahal sebelumnya secara otomatis langsung ingat. 

b. Cemas
Banyak ibu-ibu yang mengeluh bahwa setelah menopause dan lansia merasa menjadi mudah cemas. Kecemasan yang timbul  sering dihubungkan dengan adanya kekhawatiran dalam menghadapi situasi yang sebelumnya tidak pernah dikhawatirkan. Misalnya kalau dulu biasa pergi sendirian ke luar kota sendiri, namun sekarang merasa cemas dan khawatir, hal itu sering juga diperkuat oleh larangan dari ana-anaknya. Kecemasan pada Ibu-ibu lansia yang telah menopause umumnya bersifat relatif, artinya ada orang yang cemas  dan dapat tenang kembali, setelah mendapatkan semangat/dukungan dari ornag di sekitarnya; namun ada juga yang terus-menerus cemas, meskipun orang-orang disekitarnya telah memberi dukungan. Akan tetapi banyak juga ibu-ibu yang mengalami menopause namun tidak mengalami perubahan yang berarti dalam kehidupannya. Menopause rupanya mirip atau sama juga dengan masa pubertas yang dialami seorang remaja sebagai awal berfungsinya alat-alat reproduksi, dimana ada remaja yang cemas, ada yang khawatir namun ada juga yang biasa-biasa sehingga tidak menimbulkan gejolak.

Adapun ciri-ciri psikologis adanya kecemasan bila ditinjau dari beberapa aspek, menurut Blackburn and Davidson (1990 :9) adalah sebagai berikut : 
• Suasana hati yaitu keadaan yang menunjukkan ketidaktenangan psikis, seperti: mudah marah, perasaan sangat tegang. 
• Pikiran yaitu keadaan pikiran yang tidak menentu, seperti: khawatir, sukar konsentrasi, pikiran kosong, membesar-besarkan ancaman, memandang diri sebagai sangat sensitif, merasa tidak berdaya. 
• Motivasi yaitu dorongan untuk mencapai sesuatu, seperti : menghindari situasi, ketergantungan yang tinggi, ingin melarikan diri, lari dari kenyataan. 
• Perilaku gelisah yaitu keadaan diri yang tidak terkendali seperti : gugup, kewaspadaan yang berlebihan, sangat sensitif dan agitasi. 
• Reaksi-reaksi biologis yang tidak terkendali, seperti : berkeringat, gemetar, pusing, berdebar-debar, mual, mulut kering. 
    
Gangguan kecemasan dianggap berasal dari suatu mekanisme pertahanann diri yang dipilih secara alamiah oleh makhluk hidup bila menghadapi sesuatu yang mengancam dan berbahaya. Kecemasan yang dialami dalam situasi semacam itu memberi isyarat kepada makhluk hidup agar melakukan tindakan mempertahankan diri untuk menghindari atau mengurangi bahaya atau ancaman.
Menjadi cemas pada tingkat tertentu dapat dianggap sebagai bagian dari respon normal untuk mengatasi masalah sehari-hari. Bagaimana juga, bila kecemasan ini berlebihan dan tidak sebanding dengan suatu situasi, hal itu dianggap sebagai hambatan dan dikenal sebagai masalah klinis.  

c. Mudah Tersinggug 
Gejala ini lebih mudah terlihat dibandingkan kecemasan. Wanita lebih mudah tersinggung dan marah terhadap sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak menggangu. Ini mungkin disebabkan dengan datangnya menopause maka wanita menjadi sangat menyadari proses mana yang sedang berlangsung dalam dirinya. Perasaannya menjadi sangat sensitif terhadap sikap dan perilaku orang-orang di sekitarnya, terutama jika sikap dan perilaku tersebut dipersepsikan sebagai menyinggung proses penerimaan yang sedang terjadi dalam dirinya. 

d. Cendrung Mudah Stress 
Tidak ada orang yang bisa lepas sama sekali dari rasa was-was dan cemas, termasuk para lansia menopause. Ketegangan perasaan atau stress selalu beredar dalam lingkungan pekerjaan, pergaulan sosial, kehidupan rumah tangga dan bahkan menyelusup ke dalam tidur. Kalau tidak ditanggulangi stress dapat menyita energi, mengurangi produktivitas kerja dan menurunkan kekebalan terhadap penyakit, artinya kalau dibiarkan dapat menggerogoti tubuh secara diam-diam. 

Namun demikian stress tidak hanya memberikan dampak negatif, tapi bisa juga memberikan dampak positif. Apakah kemudian dampak itu positif atau negatif, tergantung pada bagaimana individu memandang dan mengendalikannya. Stress adalah suatu keadaan atau tantangan yang kapasitasnya diluar kemampuan seseorang oleh karena itu, stress sangat individual sifatnya. 

Respon orang terhadap sumber stress sangat beragam, suatu rentang waktu bisa tiba-tiba jadi pencetus stress yang temporer. Stress dapat juga bersifat kronis misalnya konflik keluarga. Reaksi kita terhadap pencetus stress dapat digolongkan dalam dua kategori psikologis dan fisiologis. 

Di tingkat psikologis, respon orang terhadap sumber stress tidak bisa diramalkan, sebagaimana perbedaan suasana hati dan emosi kita dapat menimbulkan beragam reaksi, mulai dari hanya ekspresi marah sampai akhirnya ke hal-hal lain yang lebih sulit untuk dikendalikan. Di tingkat psikologis, respon orang terhadap sumber stress ini tergantung pada beberapa faktor, termasuk keadaan emosi pada saat itu dan sikap orang itu dalam menanggapi stress tersebut.  

e. Depresi 
Dari penelitian-penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa diperkirakan 9% s/d 26% wanita dan 5% s/d 12% pria pernah menderita penyakit depresi yang gawat di dalam kehidupan mereka. Setiap saat, diperkirakan bahwa 4,5% s/d 9,3% wanita dan 2,3% s/d 3,2% pria akan menderita karena gangguan ini. Dengan demikian secara kasar dapat dikatakan bahwa wanita dua kali lebih besar kemungkinan akan menderita depresi daripada pria. 

Wanita yang mengalami depresi sering merasa sedih, karena kehilangan kemampuan untuk bereproduksi, sedih karena kehilangan kesempatan untuk memiliki anak, sedih karena kehilangan daya tarik. Wanita merasa tertekan karena kehilangan seluruh perannya sebagai wanita dan harus menghadapi masa tuanya. 
Depresi dapat menyerang wanita untuk satu kali, kadang-kadang depresi merupakan respon terhadap perubahan sosial dan fisik yang sering kali dialami dalam fase kehidupan tertentu, akan tetapi beberapa wanita mungkin mengembangkan rasa depresi yang dalam yang tidak sesuai atau proporsional dengan lingkungan pribadi mereka dan mungkin sulit dihindarkan. 

Simton-simton psikologis adanya depresi bila ditinjau dari beberapa aspek, menurut Marie Blakburn dan Kate Davidson (1990:5) adalah sebagai berikut : 
• Suasana hati, ditandai dengan kesedihan, kecemasan, mudah marah. 
• Berpikir, ditandai dengan mudah hilang konsentrasi, lambat dan kacau dalam berpikir, menyalahkan diri sendiri, ragu-ragu, harga diri rendah. 
• Motivasi, ditandai dengan kurang minat bekerja dan menekuni hobi, menghindari kegiatan kerja dan sosial, ingin melarikan diri, ketergantungan tinggi pada orang lain. 
• Perilaku gelisah terlihat dari gerakan yang lamban, sering mondar-mandir, menangis, mengeluh. 
• Sintom biologis, ditandai dengan hilang nafsu makan atau nafsu makan bertambah, hilang hasrat sesksual, tidur terganggu,  gelisah. 

Mungkin masih banyak lagi gejala-gejala fisik maupun psikologis lain yang menyertai menopause. Gejala-gejala tersebut diatas sangat perlu dipahami supaya tidak terjadi kesalah pahaman dalam memperlakukan para lansia. Dengan memahami gejala tersebut diharapkan lansia dapat mengerti apa yang sedang terjadi dalam diri mereka. Selain itu pihak keluarga pun diharapkan dapat merespon secara tepat sehingga tidak membuat lansia merasa dikucilkan atau disia-siakan. Mari kita bantu para lansia kita dengan memahami berbagai gejala fisik maupun psikologis sehingga tahu bagaimana cara terbaik untuk membantu mereka.

Semoga Bermanfaat ...

Tuesday, January 30, 2018

MENGENAL KISTA OVARIUM/ KISTOMA OVARII

mengenal kista ovarium


A. DEFINISI
Kista adalah kantong berisi cairan, kista seperti balon berisi air, dapat tumbuh di mana saja dan jenisnya bermacam-macam (Jacoeb, 2007).
Kista adalah suatu bentukan yang kurang lebih bulat dengan dinding tipis, berisi cairan atau bahan setengah cair (Soemadi, 2006).
Kista ovarium adalah pengumpulan cairan yang terjadi pada indung telur atau ovarium. Cairan ini dibungkus oleh semacam selaput yang terbentuk dari lapisan terluar dari ovarium (Agusfarly, 2008).
Kista ovarium merupakan pertumbuhan sel abnormal pada ovarium yang membentuk seperti kantong. Kista ovarium secara fungsional adalah kista yang dapat bertahan dari pengaruh hormonal dengan siklus mentsruasi. (Lowdermilk, dkk. 2005)

B. JENIS - JENIS KISTA OVARIUM
Dilihat dari etiologi, kista ovarium dapat dibagi menjadi 2, yaitu : 
1. Kista non neoplasma. Disebabkan karena ketidak seimbangan hormon esterogen dan progresterone diantaranya adalah :
• Kista non fungsional. Kista serosa inklusi, berasal dari permukaan epitelium yang berkurang di dalam korteks.
• Kista fungsional
• Kista folikel, disebabkan karena folikel yang matang menjadi ruptur atau folikel yang tidak matang direabsorbsi cairan folikuler di antara siklus menstruasi. Banyak terjadi pada wanita yang menarche kurang dari 12 tahun.
• Kista korpus luteum, terjadi karena bertambahnya sekresi progesterone setelah ovulasi.
• Kista tuba lutein, disebabkan karena meningkatnya kadar HCG terdapat pada mola hidatidosa.
• Kista stein laventhal, disebabkan karena peningkatan kadar LH yang menyebabkan hiperstimuli ovarium.

2. Kista neoplasma
• Kistoma ovarii simpleks adalah suatu jenis kista deroma serosum yang kehilangan epitel kelenjarnya karena tekanan cairan dalam kista.
• Kistodenoma ovarii musinoum. Asal kista ini belum pasti, mungkin berasal dari suatu teratoma yang pertumbuhanya I elemen mengalahkan elemen yang lain
• Kistadenoma ovarii serosum. Berasal dari epitel permukaan ovarium (Germinal ovarium)
• Kista Endrometreid. Belum diketahui penyebab dan tidak ada hubungannya dengan endometroid
• Kista dermoid. Tumor berasal dari sel telur melalui proses patogenesis

C. ETIOLOGI
Kista ovarium terbentuk oleh bermacam sebab. Penyebab inilah yang nantinya akan menentukan tipe dari kista. Diantara beberapa tipe kista ovarium, tipe folikuler merupakan tipe kista yang paling banyak ditemukan. Kista jenis ini terbentuk oleh karena pertumbuhan folikel ovarium yang tidak terkontrol. Folikel adalah suatu rongga cairan yang normal terdapat dalam ovarium. Pada keadaan normal, folikel yang berisi sel telur ini akan terbuka saat siklus menstruasi untuk melepaskan sel telur. Namun pada beberapa kasus, folikel ini tidak terbuka sehingga menimbulkan bendungan carian yang nantinya akan menjadi kista.Cairan yang mengisi kista sebagian besar berupa darah yang keluar akibatdari perlukaan yang terjadi pada pembuluh darah kecil ovarium. Pada beberapa kasus, kista dapat pula diisi oleh jaringan abnormal tubuh seperti rambut dan gigi.Kista jenis ini disebut dengan Kista Dermoid.

D. TANDA DAN GEJALA
Sebagian besar kista ovarium tidak menimbulkan gejala, atau hanya sedikit nyeri yang tidak berbahaya. Tetapi adapula kista yang berkembang menjadi besar dan menimpulkan nyeri yang tajam. Pemastian penyakit tidak bisa dilihat dari gejala-gejala saja karena mungkin gejalanya mirip dengan keadaan lain seperti endometriosis, radang panggul, kehamilan ektopik (di luar rahim) atau kanker ovarium.
Meski demikian, penting untuk memperhatikan setiap gejala atau perubahan ditubuh Anda untuk mengetahui gejala mana yang serius. Gejala-gejala berikut mungkin muncul bila anda mempunyai kista ovarium :
1. Perut terasa penuh, berat, kembung
2. Tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil)
3. Haid tidak teratur
4. Nyeri panggul yang menetap atau kambuhan yang dapat menyebar ke punggung bawah dan paha.
5. Nyeri senggama
6. Mual, ingin muntah, atau pengerasan payudara mirip seperti pada saat hamil.
Gejala-gejala berikut memberikan petunjuk diperlukan penanganan kesehatan segera:
1. Nyeri perut yang tajam dan tiba-tiba
2. Nyeri bersamaan dengan demam
3. Rasa ingin muntah

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemastian diagnosis untuk kista ovarium dapat dilakukan dengan pemeriksaan:
1. Ultrasonografi (USG)
Tindakan ini tidak menyakitkan, alat peraba (transducer) digunakan untuk mengirim dan menerima gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasound) yang menembus bagian panggul, dan menampilkan gambaran rahim dan ovarium di layar monitor. Gambaran ini dapat dicetak dan dianalisis oleh dokter untuk memastikan keberadaan kista, membantu mengenali lokasinya dan menentukan apakah isi kista cairan atau padat. Kista berisi cairan cenderung lebih jinak, kista berisi material padat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
2. Laparoskopi 
Dengan laparoskopi (alat teropong ringan dan tipis dimasukkan melalui pembedahan kecil di bawah pusar) dokter dapat melihat ovarium, menghisap cairan dari kista atau mengambil bahan percontoh untuk biopsi.
3. Hitung darah lengkap
Penurunan Hb dapat menunjukkan anemia kronis.

F. PENATALAKSANAAN MEDIS
Pengobatan kiste ovarii yang besar biasanya adalah pengangkatan melalui tindakan bedah. Jika ukuran lebar kiste kurang dari 5 cm dan tampak terisi oleh cairan atau fisiologis pada pasien muda yang sehat, kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan menghilangkan kiste. 
Perawatan paska operatif setelah pembedahan serupa dengan perawatan pembedahan abdomen. Penurukan tekanan intraabdomen yang diakibatkan oleh pengangkatan kiste yang besar biasanya mengarah pada distensi abdomen yang berat, komplikasi ini dapat dicegah dengan pemakaian gurita abdomen yang ketat.

G. KOMPLIKASI
Beberapa ahli mencurigai kista ovarium bertanggung jawab atas terjadinya kanker ovarium pada wanita diatas 40 tahun. Mekanisme terjadinya kanker masih belum jelas namun dianjurkan pada wanita yang berusia diatas 40 tahun untuk melakukan skrining atau deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya kanker ovarium. 
Faktor resiko lain yang dicurigai adalah penggunaan kontrasepsi oral terutama yang berfungsi menekan terjadinya ovulasi. Maka dari itu bila seorang wanita usia subur menggunakan metode konstrasepsi ini dan kemudian mengalami keluhan pada siklus menstruasi, lebih baik segera melakukan pemeriksaan lengkap atas kemungkinan terjadinya kanker ovarium.

KEHAMILAN DENGAN ANEMIA

kehamilan dengan anemia



1. Definisi
Anemia dalam kehamilan adalah Kondisi ibu dengan kadar Haemoglobin < 11 gr% pada trimester I dan II kehamilan atau kadar haemoglobin < 10 gr % Pada trimester ke III. nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil terjadi karena adanya proses hemodelusi.
Wanita hamil harus selalu dalam keadaan sehat dan bugar serta memiliki kemampuan yang baik untuk mengangkut oksigen agar tubuhnya dapat memasok kebutuhan janin akan oksigen. Anemia selama kehamilan menyebabkan ibu hamil tidak begitu mampu untuk menghadapi kehilangan darah dan membuatmya lebih rentan terhadap infeksi. Jika anemianya berat, kegagalan jantung cenderung akan terjadi. Anemia juga dapat menimbulkan hipoksia fetal dan persalinan premature. 
Kemungkinan anemia harus diperiksa, jika kadar hemoglobin menurun sampai 11g % (75%) atau kurang. Anemia tidak selalu terlihat dari tanda-tanda eksternal; gejala yang terjadi biasanya samara-samar (keluhab tidak enak badan, pusing, berdebar-debar dll.) karena alas an inilah, pengukuran kadar hemoglobin harus dilakukan pada kunjungan pertama ke klinik antenatal dan pengukuran berikutnya dikerjakan apabila terdapat indikasi. Pada kebanyakan kasus, pemberian nutrisi yang memadai dan terapi profilaksis dengan tablet zat besi membawa hasil yang memuaskan dalam mengatasi anemia fisiologis (hemodilusi) pada kehamilan.

2. Kalsifikasi anemia dalam kehamilan 
• Anemia ringan : 9-10 gr %
• Anemia sedang : 7-8 gr %
• Anemia berat : < 7 gr %
Dimana Hb 11 gr % dikatakan normal untuk ibu hamil
Namun demikian, anemia yang sudah ada sebelumnya merupakan permaslahan yang memerlukan intervensi secara aktif. Ada tiga penyebab keadaan ini :
a. Defisiensi Besi
Bentuk anemia ini bisa disebabkan oleh asupan zat besi dari makanan yang tidak memadai, absorpsi yang jelek, hiperemesis, kehilangan darah haid yang banyak, kehamilan yang sering dan berkali-kali bahkan kehilangan darah yang sedikit-sedikit tapi terus menerus (misalnya, pada hemoroid) dapat menjadi penyebab anemia tersebut. 
Anemia defisiensi besi diobati dengan pemberian zat besi dan pengaturan diet. Jika tidak terlihat respons yang cepat terhadap terapi zat besi atau bila kadar hemoglobinnya kurang dari 8 g% (55%), transfusi dengan packed cells dapat diberikan.
b. Defisiensi Asam Folat
Asam folat diperlukan untuk pertumbuhan jaringan dan produksi sel-sel darah merah. Kebutuhan wanita hamil akan asam folat mengalami peningkatan sebanyak lima kali lipat daripada kebutuhan wanita yang tidak hamil. Diet yang kaya akan sayuran hijau dan protein hewani biasanya sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat itu. 
Sebagian besar wanita hamil yang beresiko adalah para wanita yang memiliki riwayat perdarahan antepartum atau retardasi pertumbuhaan pada bayinya, wanita – wanita deangan kondisi sosioekonomi yang buruk, wanita dengan kehamilan kembar atau multigravida dengan empat atau lebih kehamilan sebelumnya.
Penanganan spesifik untuk anemia defisiensi folat adalah pembeian tablet asam folat setiap hari yang dikombinasi dengan perbaikan diet jika diperlukan. Sebagian dokter akan meresepkan asam folat setiap hari sebagai tindakan preventif bagi semua pasiennya ; sebagiab lain hanya memberikan padapasien – pasien yang beresiko.
c. Talasemia minor
Kelainan ini merupakan defek bawaan yang terjadi pada orang-orang mediterranean. Secara spesifik, talasemia minor ditemukan pada 6 % wanita yang lahir di Yunani dan pada 4 % wanita yang lahir di Italia. Pada keadaan ini terdapat sintesis hemoglobin yang abnormal sehingga menurunkan jumlah sel darah merah dan menimbulkan hemilisis dini. 
Normalnya, penyakit talasemia terjadi tanpa gejala, kecuali pada wanita dengan kadar hemoglobin yang rendah. Selama kehamilan akan terjadi penurunan lebih lanjut kadar hemoglobin dan wanita tersebut tidak mampu menanggung tambahan stres fisiologis. Sebagai contoh, infeksi yang tidak begitu berat sudah dapat memicu kegagalan jantung. 
Karena talasemia minor bukan anemia defisiensi desi, keadaan ini tidak dapat diobati dengan pemberian zat besi. Asam folat diberikan sebagai tindakan profilaksis untuk memastikan tidak adanya defisiensi asam folat yang dapat mempersulit keadaan. Wanita hamil yang menderita talasemia minor harus diamati dengan cermat selama periode antenatal sehingga infeksi serta stres jasmani lainnya dapat dicegah.
Transfusi darah akan menaikkan kadar hemoglobin, tapi tindakan ini baru dilakukan pada keadaan krisis. 

3. Faktor predisposisi
a. Status sosial ekonomi dan pendidikan rendah
b. BB yang Kurang
c. Masa remaja
d. Jarak kehamilan yang pendek (kurang dari 2 tahun dari lahir sampai kehamilan berikutnya)
e. Multi paritas
f. Multi gestasional
g. Operasi pada tahun terakhir
h. Infeksi kronis
i. Pemakaian obat-obatan
j. Merokok
k. Ras

4. Tanda dan gejala
Gejala subjektif :
a. Lelah, lemah kecenderungan untuk tidur meningkat (rasa kantuk tinggi)
b. Mata berkunang-kunang
c. Kepala terasa ringan, vertigo, syncope
d. Mood yang berubah-ubah, gelisah, bingung pelupa, hilang konsentrasi
e. Flu berat
f. Mudah memar
g. Kuku mudah patah, kasar dan mulut kering
h. Kulit kering
i. Anoreksia, mual, perut panas, pencernaan terganggu
j. Dyspagia, sakit perut, diare
k. BB menurun
Gejala Objektif :
a. TTV : TD, nadi berubah-ubah, takikardia
b. Mata : konjungtiva pucat
c. KGB : Lymphadenopati
d. Rambut : tipi, pecah-pecah, dan mudah patah
e. Mulut/lidah : kering, pecah-pecah, lidah pucat
f. Jantung : takikardi, jantung berdebar
g. Paru : dispneu
h. Kulit : purpura, ptekie
i. Anus : hemoroid

5. Komplikasi
Terjadi tergantung pada tingkat parahnya anemia yang diderita dan tinggkat kadar pengurangan oksigen dalam darah. Pada tingkat anemia menengah sampai akut dapat terjadi persalinan prematur BBLR. Komplikasi-komplikasi obstetrik yang mungkin dapat mungkin dapat berhubungan dengan anemi:
a. Kehamilan
a. Abortus
b. Hiperemesis gravidarum
c. Kelahiran dengan hipertensi
d. Kelahiran prematur

b. Janin
a. Neural defect
b. Still brith
c. BBLR
d. IQ rendah
e. Kematian neonatus

c. Persalinan
a. Inersia uteri
b. Infeksi intrapartum

d. Nifas
a. Infeksi nifas
b. Produksi asi berkurang
c. Penyembuhan luka yang lambat

6. Pengobatan
1. Trimester I
a. Berikan preparat zat besi 30 mg/harinya jika hb 9,0-10,9 gr/dl
b. Lakukan evaluasi haemoglobin jika tidak ada penambahan Hb setelah diberikan preparat zat besi, sarankan untuk melakukan evaluasi medis tambahan, jika didapatkan hasil hb normal turunkan dosis preparat zat besi mencapai 30 mg/hari.
2. Trimester II
a. Berikan preparat zat besi 30 mg/hari jika Hb 10,5 gr/dl
b. Berikan preparat zat besi 60-120 mg/hari. Jika hb 9,0-10,4 gr/dl
c. Lakukan evaluasi medis jika hb < 9,0 gr/dl. Konsentrasi turun selama trimester II tetapi kadar peritin dapat berguna dalam melakukan penilaian dengan interpretasi hasil hemoglobin.
3. Trimester III
a. Berikan preparat zat besi 30 mg/hari jika Hb 11,0 gr/dl atau lebih
b. Berikan preparat zat besi 60-120 mg/hari jika hb 9,0-10,9 gr/dl
c. Lakukan evalusi medis jika hb < 9,0 gr/dl
Transfusi darah sebagai pengobatan anemia dalam kehamilan sangat jarang diberikan walaupun HB nya kurang dari 6 gr/ 100 ml apabila tidak terjadi perdarahan yang lebih dari biasa walaupun tidak terjadi perdarahan yang lebih dari biasa walaupun tidak lebih dari 100 ml.
Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dekstran sebanyak 1000mg (20ml) intravena atau 2x10 im/ml pada gleteus dapat eningkatkan hb relatif lebih cepat yaitu 2 gr%. Pemberian parenteral ini digunakan jika mempunyai indikasi toleransi besi pada trakrus gastrointestinal, anemia yang berat dan kepatihan yang buruk. Efek samping utama yaitu reaksi alergi, untuk mengetahuinya dapat diberikan dosis 0,5 cc/im dan bila tidak ada reaksi dapat diberikan seluruh dosis.
Efek samping dari pemberian preparat zat besi adalah gangguan gastrointestinal seperti mual dan feses warna hitam.

7. Pencagahan
1. Memberikan preparat zat besi 30 mg/hari pada ibu hamil trimester II. Dosis biasanya tersedia secara terpisah dan terkandung dalam vitamin prenatal
2. Untuk mengurangi resiko neural tube defect dianjurkan pada setiap wanita yang merencanakan kehamilan untuk mengkonsumsi multivitamin yang mengandung asam folik dengan dosis 0,4-0,8 mg dimulai dari 1 bulan sebelum konsepsi dan berlanjut sampai trimester 1
3. Melakukan pemeriksaan lab ( Hb, tinja) sebelun hamil sehingga dapat diketahui data-data dasar kesehatan umum calon ibu tersebut

KEHAMILAN DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM

kehamilan dengan hiperemesis gravidarum


1. Definisi
Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum ibu menjadi buruk. ( sarwono, ilmu kebidanan: 1999).
Sekitar 75% dari semua wanita mengalami mual – mual pada awal kehamilan. Hal yang disebut sebagai morning sickness ini biasanya menghilang sekitar minggu keduabelas sebagaimana tubuh wanita hamil telah terbiasa dengan perubahan yang terjadi saat kehamilan(6 minggu setelah HPHT). Pada sekitar 3,5 dalam 1000 kehamilan, bagaimanapun, terjadi muntah-muntah yang terus menerus menyebabkan dehidrasi berat, berat badan sangat menurun, turgot kulit berkurang dan kelaparan. Kondisi yang demikian disebut hiperemesis gravidarum (muntah-muntah yang berlebihan pada kehamilan).

2. Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui pasti perubahan-perubahan anatomi pada otak, jantung, hati, susunan syaraf disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat system pencernaan tidak mencerna dengan baik. Beberapa factor predisposisi dan factor lain yang ditemukan:
a. Masuknya vili korialis dalam sirkurasi maternal dan perubahan metabolic akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu tersebut dan perubahan ini merupakan factor perubahan organic.
b. Alergi, sebagai salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak juga disebut salah satu factor organic
c. Factor psikologik, memegang peranan yang penting dalam penyakit ini biasanya rumah tangga yang retak , kehilangan pekerjaan, takut pada kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil.  Tidak jarang dengan memberikan suasana yang baru dapat membantu mengurangi frekuensi muntah klien

3. Patofisiologi
Satu penyebab yang pasti dari reaksi ini belum ditemukan, tetapi pada sebagian besar pasien ketika kadar hormone gonadotropin meningkat dan ketika kelenjar endokrin mengalami perubahan drastic dan mungkin juga karena system saraf pusat tau pengosongan lambung yang berkutang. Pada beberapa orang muntah adalah respons habitual terhadap stress. Hal ini diperkirakan bahwa ketika pasien dengan kebiasaan ini mengalami mual-mual ringan yang normal pada awal kehamilan, mereka bereaksi dengan cara eksagresi dan mulai muntah. Sekali mereka mengalami pola muntah-muntah, mereka tak akan berhenti.
Hiperemesis gravidarum biasanya dimulai dengan morning sickness dan menjadi demikian berat sampai pasien yang mengalaminya tidak dapat makan atau minum. Ia kehilangan berat badan dan mulai mengalami dehidrasi. Tanda-tanda defisiensi vitamin seperti polyneuritis dapat juga berkembang. Tanda-tanda serius lainnya meliputi ikterik yang disebabkan oleh kerusakan hepar dan kebutuhan yang disebabkan oleh hormone ragi retina. Kejang-kejang dan kematian juga diketahui terjadi. 
Dahulu penyakit ini dikelompokan ke dalam penyakit toksemia gravidarum, karena diduga adanya semacam racun yang berasal dari janin atau kehamilannya. Pada umumnya factor psikis, kematangan jiwa, dan penerimaan ibu terhadap kehamilannya sangat berpengaruh pada berat ringannya gejala yang timbul.

4. Tanda dan gejala
Hiperemesis gravidarum menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam 3 tingkatan yaitu:
a. Tingkatan I
Muntah yang terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, BB turun, dan nyeri pada epigastrium, nadi meningkat sekitar 100x/menit, TD sistol menurun, turgor kulit berkurang, lidah mongering dan mata cekung.
b. Tingkatan II
Penderita tampak lebih lems dan apatis, turgor kulit lebih berkurang, lidah mengering dan Nampak kotor, nadi kecil dan cepat, sushu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterus, BB menurun, mata cekung, tensi rendah, konstipasi. Aseton dapat tercium dalam hawa pernafasan karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam urin.
c. Tingkatan III
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dan somnolen sampai koma,nadi kecil dan cepat, suhu badan meningkat, tensi menurun.
Komplikasi fatal dapat terjadi pada susunan saraf sebagai ensefalopati wemicke, dengan gejala nistagmus dan diplopia. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus adalah tanda adanya payah hati.

5. Komplikasi
Dehidrasi berat,ikterik, takikardi, suhu meningkat, alkalosis, kelaparan gangguan emosional yang berhubungan dengan kehamilan dan hubungan keluarga menarik diri dan depresi.

6. Diagnosa
Biasanya tidak sukar dan didasarkan atas mual dan muntah pada orang yang hamil muda. Radang usus dan hepatitis dan hamil harus dikesampingkan. Mual dan muntah pada trimester II dan III disebabkan oleh faktofaktor lain.

7. Pemeriksaan diagnostic
• USG (dengan menggunakan waktu yang tepat), mengkaji usia gestasi janin dan mendeteksi abnormalitas janin, melokalisasi plasenta.
• Urinalisis : kultur, mendeteksi bakteri, BUN
• Pemeriksaan fungsi hepar

8. Penatalaksanaan
Pencegahan perlu dilaksanakan pendidikan kesehatan terhadap ibu hamil bahwa persalinan merupakan proses fisiologi, memberikan keyakinan bahwa mual dan muntah akan menghilang setelah 4 bulan kehamilan. Menganjurkan mengubah makanan sehari-hari dengan makan dalam jumlah porsi kecil tapi sering. Waktu bangun pagi jagang segera turun dari tempat tidur tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biscuit dengan teh hangat. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan makanan dan minuman sebaiknya dihidangkan dalam keadaan panas atau dingin.
• Obat-obatan
Sedative yang sering digunakan adalah fenobarbital vitamin yang dianjurkan adalah vitamin B1 dan B6. Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetic seperti disiklomin hidroklorid atau khlorpromasin. Anti histamine ini juga dianjurkan seperti Dramamin, avomin.
• Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan peredaran udara yang baik. Tidak diberikan makan atau minum selama 24-28 jam kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.
• Terapi psikologi
Perlu diyakinkan bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan masalah dan konflik.
• Cairan parenteral
Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbonhidrat dan protein dengan glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter/hari. Bila ada kekurangan protein dapat diberiakn pula asam amino secara iv.
• Penghentian kehamilan
Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan mengadakan pemeriksaan medic dan psikiatrik bila keadaan memburuk. Delirium, kebutaan, takikardi, ikterus,anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organic. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain pihak tidak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada oragan vital.
• Diet
• Diet hiperemesis I diberiakan pada hiperemisis tingkat III makanannya hanya berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 2 jam setelah makanan ini kurang dalam semua zat-zat gizi kecuali vitamin c karena ini diberikan selama beberapa hari.
• Diet hiperemesis II diberikan bila mual dan muntah berkurang diberiakn makanan bergizi tinggi minuman tidak diberikan bersama makanan. Rendah makanan ini semua zat-zat gizi kecuali vitamin A dan B.
• Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberiakan bersama makanan dan cukup mengandung zat gizi kecuali kalsium

Sunday, October 15, 2017

KELUARGA BERENCANA (KB)


konsep keluarga berrencana beserta macam-macam kontrasepsi
Hallo Gank..... Dalam kesempatan kali ini saya mau berbagi mengenai KB/Keluarga berencana, tidak hanya itu saya juga akan menjelaskan mengenai jeni-jenis kontra sepsi, macam-macam kontrasepsi dan keuntungan serta keterbatasan alat kontrasepsi. ok langsung saja ya genk....

KONSEP KB
A. Pengertian kontrasepsi
Kontrasepsi merupakan suatu cara atau metode yang bertujuan untuk mencegah pembuahan sehingga tidak terjadi kehamilan. Negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki jumlah penduduk besar mendukung program kontraspesi untuk mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk dan untuk meningkatkan kesejahteraaan keluarga. Dalam hal ini pemerintah Indonesia menyelenggarakan program Keluarga Berencana atau KB melalui pengaturan kelahiran.

B. Jenis kontrasepsi
- Kontrasepsi dapat dilakukan tanpa alat bantu. Metode kontrasepsi tanpa alat bantu disebut juga KB sistem kalender atau abstinesia. Cara KB dengan sistem kalender adalah mengatur kehamilan dengan tidak melakukan hubungan seksual pada saat wanita dalam masa subur. Masa subur berkaitan dengan terjadinya siklus menstruasi atau datang bulan. Masa subur wanita adalah kurang lebih satu minggu sebelum menstruasi dan satu minggu sesudah menstruasi.
- Jenis kontrasepsi yang kedua adalah kontrasepsi dengan alat bantu. Dengan alat bantu kontrasepsi memungkinkan sperma dan sel telur tidak dapat bertemu walaupun terjadi ejakulasi di dalam vagina saat melakukan hubungan seksual. Pemakaian alat kontrasepsi masih menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat, terutama golongan agamawan. Namun saat ini masyarakat telah banyak memanfaatkan alat kontrasepsi untuk membantu mengatur kelahiran anak.

C. Macam-macam alat kontrasepsi
1. IUD (Intra Uterine Device)
IUD adalah alat kecil terdiri dari bahan plastik yang lentur yang dimasukkan ke dalam rongga rahim, dan harus diganti apabila sudah dipakai dalam masa tertentu. Kelebihan penggunaan IUD adalah sangat efektif untuk mencegah kehamilan. Sedangkan kekurangan penggunaan IUD adalah dapat menyebabkan pendarahan di luar siklus menstruasi yang dialami wanita.
Cara kerja IUD, banyak yang berpendapat bahwa cara kerja dari IUD ini adalah dengan menyulitkan bertemunya sperma dan sel telur. Namun beberapa dokter muslim menjelaskan bahwa sifat kerja IUD adalah  mencegah bersemainya sel telur yang telah dibuahi di dalam Rahim (telah  berbentuk zygot), sehingga dapat diartikan membunuh bayi diusia dini. Sehingga beberapa ulama berpendapat bahwa penggunaan IUD haram.
2. Kondom.
Kondom digunakan pada penis pria untuk mencegah sperma bertemu sel telur ketika terjadi ejakulasi. Kondom berupa sarung karet yang terbuat dari bahan lateks. Kelebihan penggunaan kondom adalah mudah digunakan dan tidak membutuhkan bantuan medis untuk memakai. Kekurangan penggunaan kondom adalah terjadinya kebocoran cairan mani dan alergi pada pemakaian bahan-bahan kondom tertentu.
3. KB Suntik.
KB Suntik dilakukan setiap 3 bulan sekali pada seorang wanita untuk mencegah terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur). Kelebihan menggunakan KB Suntik adalah efektif mencegah kehamilan tanpa perlu banyak tahap yang sulit. KB Suntik juga termasuk metode kontrasepsi yang terhitung murah untuk masyarakat Indonesia. Meski demikian, suntikan KB pada uji coba hewan bisa meningkatkan terjadi resiko kanker.
4. Pil KB.
Pil KB disebut juga kontrasepsi oral. Pil KB berisi hormon yang menghambat pengeluaran sel telur. Keunggulan menggunakan Pil KB adalah bisa mengatur kehamilan sekaligus efektif mencegah kanker ovarium dan endometrium. Sedangkan kelemahan penggunaan pil KB adalah harus diminum oleh wanita secara rutin. Bila tidak diminum secara rutin dan disiplin maka kemungkinan hamil tetap terjadi.
5. Implant
Metode kontrasepsi implant (susuk) ditempatkan di bawah kulit lengan wanita dan mengeluarkan hormon yang mencegah pelepasan ovum. Metode kontrasepsi ini terbilang efektif dan tidak memerlukan kedisiplinan tinggi seperti penggunaan Pil KB. Kekurangan penggunaan implant adalah bisa menyebabkan fase menstruasi tidak teratur. Selain itu, sejumlah kasus melaporkan implant yang tertanam tidak berdiam di lengan namun bergerak ke bagian tubuh terdekat lainnya.
Kontrasepsi Implant
• Efektif 5 tahun untuk norplan, 3 tahun untuk jadena, indoplant atau implanon.
• Nyaman
• Dapat di pakai oleh semua ibu dalam usia reproduksi
• Pemasangan dan pencabutan perlu pelatihan.
• Kesuburan segera kembali setelah implant di cabut.
• Efek samping utama berupa pendarahan tidak teratur, perdarahan bercak dan amenorea.
• Aman dipakai pada masa laktasi
Jenis
• Norplant.Terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan panjang 3,4 cm, dengan diameter 2,4 mm,yang diisi dengan 36 mg levonorgestrel
• Lama kerjanya 5 tahun.
• Implannon.Terdiri dari 1 batang putih lentur dengan panjang kira-kira      40 mm, diameter 2 mm yang diisi dengan 68 mg 3-keto-desogestrel dan lama kerjanya 3 tahun.
• Jadena dan indoplant terdiri dari 2 batang yang di isi dengan 75 mg levonogestrel dengan lama kerja 3 tahun.
Cara Kerja
• Lendir serviks menjadi kental.
• Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi
• Mengurangi tranfortasi sperma.
• Menekan Ovulasi
Efektifitas
Sangat efektif (0,2 – 1 kehamilan/100 perempuan).
Keuntungan kontrasepsi
- Daya guna tinggi
- Perlindungan jangka panjang (sampai 5 tahun)
- Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan
- Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
-  Bebas dari pengaruh estrogen
- Tidak mengganggu kegiatan senggama
- Tidak mengganggu ASI
- Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan
- Dapat di cabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan
Keuntungan non kontrasepsi
- Mengurangi nyeri haid
- Mengurangi jumlah darah Haid
- Mengurangi/memperbaiki anemia
- Melindungi terjadinya kanker endometrium
- Menurunkan angka kejadian kelaian jinak payu dara
- Melindungi diri dari beberapa penyebab penyakit radang panggul
- Menurunkan angka kejadian endometriosis
Keterbatasan
Pada kebanyakan klien dapat menyebabkan perubahan pola haid berupa perdarahan bercak (spotting), hipermnorea, atau meningkayna jumlah darah haid, serta amenorea.
Indikasi
- Usia reproduksi
- Telah memiliki anak atau yang belum
- Menghendaki kontrasepsi yang memiliki efektifitas tinggi dan menghendaki pencegahan kehamilan jangka panjang.
- Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi
- Pasca persalinan dan tidak menyusui
- Pasca keguguran
- Tidak menginginkan anak lagi, tetapi menolak sterilisasi
- Riwayat kehamil ektopi
- Tekanan darah <180/110 mmHg, dengan masalah pembekuan darah, atau anemia bulan sabit (Sickle Cell)
- Tidak boleh menggunakan kontrazsepsi hormonal yang mengandung estrogen
- Sering lupa menggunakan pil
Kontra indikasi
- Hamil atau diduga hamil
- Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
- Benjolan/kanker payu dara atau riwayat kanker payu dara
- Tidak dapat menerima perubahan pola haid yang terjadi
- Miom uterus dan kanker payu dara
- Gangguan toleransi glukosa
Petunjuk bagi klien
- Daerah insersi harus tetap dibiarkan kering dan bersih selama 48 jam pertama. Hal ini bertujuan untuk mencegah infeksi pada luka insisi
- Perlu dijelaskan bahwa mungkin terjadi sedikit rasa perih, pembengkakan, atau lebam pada daerah insisi. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan
- Pekerjaan rutin harian tetap dikerjakan, namun hindari benturan,gesekan, atau penekanan pada daerah insersi
- Balutan penekan jangan dibuka selama 48 jam, sedangkan plester dipertahankan hingga luka sembuh (biasanya 5 hari)
- Setelah luka sembuh, daerah tersebut dapat disentuh dan dicuci dengan tekanan yang wajar
- Bila ditemukan adanya tanda – tanda infeksi seperti demam, peradangan, atau bila rasa sakit menetap segera kembali ke klinik
- Efek kontrasepsi timbul beberapa jam setelah insersi dan berlangsung hingga 5 tahun bagi norplant dan 3 tahun bagi susuk imolanon, dan akan berakhir sesaat setelah pengangkatan
- Sering ditemukan gangguan pola haid, terutama pada 6 – 12 bulan pertama. Beberapa perempuan mungkin akan mengalami berhentinya haid sama sekali
- Obat – obat tuberculosis ataupun obat epilepsy dapat menurunkan efektivitas implant.
- Efek samping yang berhubungan dengan implant dapat berupa sakit kepala, penambahan berat badan, dan nyeri payu dara. Efek – efek samping ini tidak berbahaya dan  biasanya akan hilang dengan sendirinya.
- Norplan dicabut setelah 5 tahun pemakaian, susuk implanon dicabut setelah 3 tahun, dan bila dikehendaki dapat dicabut lebih awal.
- Bila norplan dicabut sebelum 5 tahun dan susuk implanon sebelum 3 tahun, kemungkinan hamil sangat besar dan meningkatkan resiko kehamilan ektopik.
- Berikan kepada klien kartu yang ditulis nama, tanggal insersi, tempat insersi dan nama klinik.
- Implant tidak melindungi klien dari IMS, termasuk AIDS. Biula passangannya memiliki risiko, perlu menggunakan kondom untuk melakukan hubungan seksual.
- Kembali ke klinik kesehatan apabila ditemukan
1) Amenorhea yang disertai nyeri perut bagian bawah
2) Perdarahan yang banyak dari kemaluan
3) Rasa nyeri pada lengan
4) Luka bekas insisi mengeluarkan darah atau nanah
5) Ekspulsi dari batang implant
6) Sakit kepala hebat atau penglihatan menjadi kabur   nmj
7) Nyeri dada hebat
8) Dugaan adanya kehamilan
6. Difragma
Diafragma atau cervical cap berguna untuk menutupi uterus sehingga mencegah sperma membuahi sel telur. Metode ini tidak biasa di Indonesia karena selain mahal, pemasangannya harus dengan tenaga medis dengan biaya yang mahal. Ditambah lagi angka kegagalan tinggi, peningkatan risiko infeksi, membutuhkan evaluasi dari tenaga kesehatan, ketidaknyamanan
7. Jeli, busa atau spons
Jeli termasuk alat kontrasepsi yang dipakai oleh wanita yang mengandung spermisida (zat yang membunuh sel sperma) sehingga sperma gagal memasuki uterus. Jeli saat ini jarang dipakai dalam metode kontrasepsi karena tidak efektif mencegah kehamilan dan menimbulkan alergi pada sebagian besar wanita yang memakai.

D. KELUARGA BERENCANA ALAMIAH (KBA)
Keluarga berencana alamiah adalah pasangan secara sukarela menghindari senggama pada masa subur ibu atau senggama pada masa subur untuk mencapai kehamilan.
1. Syarat KBA
• Ibu harus belajar mengetahui kapan masa suburnya berlangsung
• Efektif bila dipakai dengan tertib
• Tidak ada efek samping
2. Cara Kerja
Metode lendir serviks atau lebih dikenal dengan metode ovulasi billing (MOB) atau metode dua hari mukosa serviksdan metode simptomtermal adalah yang paling efektif. Cara yang kurang efektif misalnya cara kalender atau pantang berkala dan metode suhu basal.
3. Mekanisme Kerja
• Untuk kontrasepsi, senggama dihindari pada masa subur yaitu pada siklus mentruasi yaitu dimana kemungkinan terjadi konsepsi atau kehamilan
• Untuk konsepsi/mencapai kehamilan, senggama direncanakan pada masa subur dekat dengan pertengahan siklus (biasannya pada hari ke-10 samai ke-15) atau terdapat tanda0tanda kesuburan, ketika kemungkinan besar terjadi konsepsi.
4. Manfaat
• Untuk kontrasepsi, dapat digunakan untuk menghindari atau mencapai kehamilan, tidak ada resiko kesehatan yang berhubungan dengan kontrasepsi, tidak ada efek samping sistemik, murah atau tanpa biaya
• Untuk non kontrasepsi, meningkatkan keterlibatan suami dalam keluarga berencana, menambah pengetahuan tentang sistem reproduksi oleh suami dan istri, memungkinkan meningkatkan atau mengeratkan hubungan melalui peningkatan komunikasi antara suami istri atau pasangan
5. Keterbatasan
• Kefektifan tergantungan dari kemauan dan disiplin pasangan untuk mengikuti instruksi
• Perlu pelatihan sebagai persyaratan untuk menggunakan jenis KBA yang paling efektif secara benar
• Dibutuhkan pelatih/guru KBA (bukan tenaga medis)
• Mempunyai angka kegagalan yang cukup tinggi
• Perlu pantang selama masa subur untuk menghindari kehamilan
• Perlu pencatatan setiap hari
• Infeksi vagina membuat lendir serviks sulit dinilai
• Termometer basal diperlukan untuk metode tertentu
• Tidak terlindungi dari IMS termasuk virus Hepatitis B dan HIV/AIDS
6. Indikasi Pengguna KBA
• Perempuan kurus atau gemuk
• Perempuan yang merokok
• Perempuan yang tidak dapat menggunakan metode lain
• Perempuan dengan siklus haid yang teretut ataupun tidak teratur
• Pasangan dengan alasan agama atau filosofi untuk tidak menggunakan metode lain
• Pasangan yang ingin pantang senggama lebih dari seminggu pada setiap siklus haid
• Pasangan yang ingin dan termotivasi untuk mengobservasi, mencatat dan menilai tanda dan gejala kesuburan
7. Kontraindikasi Pengguna KBA
• Perempuan yang daris egi umur, paritas atau masalah kesehatannya membuat kehamilan menjadi suatu resiko tinggi
• Perempuan sebelum mendapat haid kecuali MOB
• Perempuan dengan siklus haid yang tidak teratur kecuali MOB
• Perempuan yang pasangannya tidak mau berpantang selama waktu tertentu dalam siklus haid

Keadaan yang memerlukan perhatian
Keadaan : Pengeluaran cairan vagina secara menetap
Anjuran : Jelaskan pada klien bahwa akan menjadi lebih sulit untuk memprediksi kesuburan dengan menggunakan lender serviks, jika klien kehendaki, bantu memilih metode lain.
Keadaan : Menyusui
Anjuran : Jelaskan kepada klien bahwa akan menjadi lebih sulit untuk memprediksi kesuburan dengan menggunakan lender serviks. Jika klien kehendaki, bantu memilih metode lain.
8. Senggama Terputus
Senggama terputus adalah metode keluarga berencana tradisional, dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi.
1. Cara kerja
Alat kelamin atau penis dikeluarkan sebelum ejakulasim sehingga sperma tidak masuk kedalam vagina dan kehamilan dapat dicegah
2. Manfaat
• Efektif bila digunakan dengan benar
• Tidak mengganggu produksi ASI
• Dapat digunakan sebagai pendukung metode lainnya
• Tidak ada efek samping
• Dapat digunakan setiap waktu
• Tidak membutuhkan biaya
• Meningkatkan keterlibatan suami dalam keluarga berencana
• Memungkinkan pasangan menjadi lebih dekat dan pengertian yang sangat dalam
3. Keterbatasan
• Efektifitas bergantung pada kesediaan pasangan untuk melakukan senggama terputus setiap melaksanakannya
• Efektifitas akan jauh menurun apabila sperma dalam 24 jam sejak ejakulasi masih melekat pada penis
• Memutus kenikmatan dalam berhubungan seksual
4. Indikasi pengguna
• Suami yang ingin berpartisipasi aktif dalam keluarga berencana
• Pasangan yang taat beragama atau mempunyai alasan filosofi untuk tidak menggunakan metode lain
• Pasangan yang memerlukan kontrasepsi dengan segera
• Pasangan yang memerlukan metode sementara
• Pasangan yang membutuhkan metode pendukung
• Pasangan yang melakukan hubungan seksual tidak teratur
5. Kontraindikasi pengguna
• Suami dengan pengalaman ejekulasi dini
• Suami yang sulit melakukan senggama terputus
• Suami yang memiliki kelainan fisik atau psikologis
• Ibu yang mempunyai pasangan yang sulit bekerjasama
• Pasangan yang kurang dapat saling berkomunikasi
• Pasangan yang tidak bersedia melakukan senggama terputus

Daftar Pustaka
Abdul Bari, 2004. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta
Anna Glasier, 2006. Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Ed. 4, Jakarta EGC
Gary Cunningham, et.al, 2006. Obstetri Williams, Jakarta. EGC

Friday, October 13, 2017

KONSEP DASAR KEPERAWATAN MATERNITAS

Konsep dasar dalam keperawatan maternitas


KONSEP DASAR DALAM KEPERAWATAN MATERNITAS

A. PENGERTIAN
Keperawatan Maternitas merupakan persiapan persalinan serta kwalitas pelayanan kesehatan yang dilakukan dan difokuskan kepada kebutuhan bio-fisik dan psikososial dari klien, keluarga , dan bayi baru lahir (May & Mahlmeister, 1990).
Keperawatan Maternitas merupakan pelayanan professional berkwalitas yang difokuskan pada kebutuhan adaptasi fisik dan psikososial ibu selama proses konsepsi / kehamilan, melahirkan, nifas, keluarga, dan bayi baru lahir dengan menekankan pada pendekatan keluarga sebagai sentra pelayanan ( Reede, 1997 ).
Keperawatan Maternitas merupakan pelayanan keperawatan profesional yang ditujukan kepada wanita usia subur (WUS) yang berkaitan dengan masa diluar kehamilan, masa kehamilan, masa melahirkan, masa nifas sampai enam minggu, dan bayi yang dilahirkan sampai berusia 40 hari beserta keluarganya. Pelayanan berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar dalam melakukan adaptasi fisik dan psikososial dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan (CHS/KIKI, 1993).

B. PERAN PERAWAT MATERNITAS
1. Pelaksana
2. Pendidik
3. Konselor
4. Role model bagi para ibu
5. Role model bagi teman sejawat
6. Perumus masalah
7. Ahli keperawatan

C. PENDEKATAN PELAYANAN KEPERAWATAN MATERNITAS
1. Holistik
2. Penghargaan terhadap pasien
3. Peningkatan kemampuan pasien Kemandirian
4. Pemanfaatan & peningkatan sumber daya yang diperlukan
5. Proses keperawatan
6. Berpusat pada keluarga= FCMC (Family Centered Maternity Care)
7. Caring

D. MODEL KEPERAWATAN
1. Family Centered Maternitas Care
• Melaksanakan kelas untuk pendidikan prenatal orang tua.
• Mengikut serta keluarga dalam perawatan kehamilan, persalinan, dan nifas.
• Mengikut sertakan keluarga dalam operasi.
• Mengatur kamar bersalin sepeti suasana rumah.
• Menetapkan peraturan yang flexibel.
• Menjalankan system kunjungan tidak ketat.
• Mengadakan kontrak dini bayi dan orang tua.
• Menjalankan rooming-in (Ruang rawat gabung untuk ibu hamil).
• Mengikut sertakan anak-anak dalam proses perawatan.
• Melibatkan keluarga dalam perawatan NICU.
• Pemulangan secepat mungkin dengan diikuti Follow-up.
2. Traditional Care
• Memisahkan ibu dari keluarga selama proses persalinan.
• Memindahkan klien: dari ruang penerimaan ke ruang persalinan.
• Melarang ibu beraktifitas selama proses persalinan.
• Melakukan tindakan rutin: episitomi, obat-obatan.
• Tidak ada keluarga ikut dalam proses persalinan & operasi.
• Kontak orang tua & anak kurang.
• Pemberian susu bayi dibatasi.
• Waktu berkunjung dibatasi.
• Rooming-in dibatasi.
• Tidak ada Follow-up ke rumah.
• Kontrol postpartum rutin pada hari minggu ke enam.
3. Self  Care Orem
• Penekanan pada aktifitas mandiri kemudian mencapai kesejahteraan ibu & bayi.
• Pada Maternal: mampu mandiri dalam perawatan diri.
• Melihat dari kemampuan.
• Berdasarkan kondisi.
4. Model Adaptasi
• Mempunyai kemampuan adaptasi dalam rangka mencapai kebutuhan.
• Manusia selalu konstan berinteraksi dengan lingkungan (selalu berubah).
• Maternal sepanjang proses konsepsi sampai postpartum terjadi perubahan fisik, psikologis, dan social
5. Model I King
• Personal.
• Interpersonal.
• Social (Dinamik, interaksi mudah diberikan informasi & memberikan informasi)

E. PERSPEKTIF KEPERAWATAN MATERNITAS
1. Tujuan
• Membantu wanita usia subur & keluarga dalam masalah
• produksi & menghadapi kehamilan.
• Membantu PUS untuk memahami kehamilan, persalinan, & nifas adalah normal.
• Memberi dukungan agar ibu memandang kehamilan, persalinan, & nifas adalah pengalaman positif &  menyenamgkan.
• Membantu mendeteksi penyimpangan secara dini.
• Memberi informasi tentang kebutuhan calon orang tua.
• Memahami keadaan social & ekonomi ibu.
2. Karakteristik
• Fokus kebutuhan dasar = Sejahtera
• Pendekatan keluarga = FCMC
• Tindakan khusus dengan peran perawat.
• Terjadi interaksi = Strategi Pelayanan
• Kerja dalam Tim = Semua yang terkait.

F. RUANG LINGKUP PRAKTEK KEPERAWATAN MATERNITAS
• Perawat membantu anak & orang tuanya untuk meningkatkan & mempertahankan kesehatan yang optimal.
• Perawat membantu keluarga untuk mencapai & mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan personal dari anggota keluarga & fungsi keluarga yang optimal.
• Perawat memberikan pelayanan kepada klien yang membutuhkan, dan keluarga yang mempunyai resiko untuk mencegah masalah aktual & potensial dalam kesehatan.
• Perawat meningkatkan lingkungan yang tidak membahayakan tumbuh kembang & sistem reproduksi.
• Perawat mendeteksi perubahan status kesehatan & deviasi dari perkembangan yang optimum.
• Perawat memberikan intervensi yang tepat & pengobatan untuk meningkatkan kesehatan & memulihkan penyakit.
• Perawat membantu klien & keluarganya untuk mengerti & memakai koping yang baik dengan trauma/benturan dalam perkembangan selama sakit, masa tumbang, & anak-anak.
• Perawat mempunyai strategi yang aktif & positif untuk menggunakan sumber-sumber dalam member pelayanan.
• Perawat meningkatkan praktek keperawatan ibu & anak melalui penilaian praktek, pendidikan, & penelitian.

ADAPTASI FISIOLOGI IBU HAMIL

Adaptasi fisiologis ibu hamil

ADAPTASI FISIOLOGI IBU HAMIL


A. PENGERTIAN
Pengertian ibu hamil adalah Suatu proses fisiologis yang normal, terjadi bila ada pertemuan dan persenyawaan antara ovum dan sperma yang dalam pembuahan tersebut menghasilkan zigot yang dalam perjalanannya mengalami pembelahan melalui beberapa stadium.
Keadaan kesehatan fisik dan mental ibu sebelum dan selama hamil berpengaruh terhadap keadaan jasmani dan waktu melahirkan. Banyaknya perubahan-perubahan pada waktu kehamilan muda dan rangka mempersiapkan kebutuhan untuk mempersiapkan pertumbuhan janin.

B. PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA IBU HAMIL
1. Sistem reproduksi
a. Suplai darah : meningkat disebabkan oleh peningkatan kadar hormon steroid seksual.
b. Vaskulasi tersebut memberikan suplai darah yang banyak bagi perkembangan janin, tanda-tanda khas pada organ dan berbagai gejala pada wanita.
c. Serviks : lebih lunak (tanda Goodell’s) dan dipenuhi dengan mukus (operkulum) berubah menjadi bentuk oval setelah kehamilan pertama.
d. Uterus : perubahan yang sangat dalam bentuk, ukuran, dan kekebalan dinding disokong oleh Ligamen yang menahan ditempatnya, melemah pada minggu ke-8 (tanda Hegar’s)
e. Vagina : bercak keunguan (tanda chadwick) pada minggu ke-8 disebabkan oleh, meningkatnya Vaskularisasi, sebagai Leukorrhea kehamilan dan meningkatkan rangsangan seksual.
2. Sistem Integumen
a. Payudara : nyeri tekan, membesar, kolostrum, areola menjadi lebih gelap
b. Kulit
1). Striae gravidarum : peregangan jaringan yang menyebabkan rasa gatal dan meninggalkan bekas
2). Pigmentasi : terjadi penumpukan sementara pada midline abdomen (linea nigra), pada wajah (chloasma), dan pada areola
3). Sekresi kelenjar lemak dan perspirasi meningkat selama kehamilan, memerlukan mandi lebih sering
3. Sistem Endokrin
a. Ovarium dan Plasenta : Korpus luteum membentuk estrogen dan progresteron, plasenta membentuk juga hCG, hPL dan hCT.
b. Kelenjar tiroid : membesar selama kehamilan, tetapi jumlah tiroksin tetap konstan.
c. Pankreas : pembentukan Insulin meningkat selama kehamilan, tetapi jumlah glikogen terbatas.
d. Kelenjar Pituitari : FSH ditekan oleh hCG yang dihasilkan plasenta, prolaktin meningkat selama kehamilan dan laktasi, oksitosin meningkat dan menstimuli kontraksi otot uterus.
e. Kelenjar adrenal : kortin meningkat tetapi epineprin tetap konstan.
4. Sistem Kardiovaskuler
Volume darah meningkat 30% sampai 50% tetapi tekanan darah tidak berubah. Pembentukan sel-sel darah merah meningkat tetapi karena terjadi hemodilalussi, maka berkembang psedoanemia : penekanan pada Vena kava menyebabkan gejala sindrom supine hipotensi : stasis Vena dan Vibrin meningkat membuat wanita lebih mudah mengalami trombosit.
5. Sistem Muskulo Skeletal
a. Gigi, tulang dan sendi – kebutuhan kalium dan natrium
b. Meningkat : karies gigi tidak disebabkan oleh dekolsifikasi
c. Otot-otot yang kram merupakan masalah umum
6. Sistem Pernafasan
a. Paru : dan pernafasan – letak diafragma berubah karena pertumbuhan janin : tidal meningkat, meningkat O2 dalam darah
b. Membran mukosa-pembengkakan umum terjadi, menyebabkan hidung tersumbat, serak, disprea.
7. Sistem Gastrointestinal
Asam lambung menurun : mual muntah merupakan hal umum pada awal kehamilan; melambatnya peristaltik menyebabkan lambung , konstipasi dan nyeri ulu hati umum terjadi
8. Sistem Perkemihan
a. Ginjal yang normal mampu mengatasi kerja tambahan tanpa menyebabkan masalah tekanan karena pertumbuhan janin menyebabkan stosis urin
b. Sering berkemih pada awal masa kehamilan disebabkan karena penekanan uterus pada kandung kemih
9. Sistem Persyarafan
a. Saraf perifer
b. Tidak terdapat perubahan.
c. Otak
d. Tidak terdapat perubahan fisik, tetapi dipertimbangkan penyesuaian psikis
10. Penambahan BB (berat badan)
Berat badan bertambah 25-40- pon

C. PERUBAHAN PSIKOLOGIS PADA IBU HAMIL
1. Menerima kehamilan
a. Kesiapan menyambut kehamilan
Wanita yang siap menerima suatu kehamilan akan dipicu gejala-gejala awal untuk mencari validansi medis tentang kehamilannya. Beberapa wanita yang memiliki perasaan kuat, seperti ”tidak senang”, bukan saya dan tidak yakin, mungkin menunda mencari pengawasan dan perawatan. Namun, beberapa wanita menunda validasi medis karena akses keperawatan terbatas, merasa malu, atau karena alasan budaya, kehamilan dipandang sebagai suatu peristiwa alami, sehingga tidak perlu mencari validasi medis dini.
Setelah kehamilan dipastikan, respons emosi wanita dapat bervariasi, dari perasaan sangat gembira sampai syok, tidak yakin dan putus asa. Reaksi yang diperhatikan banyak wanita ialah respons ”suatu hari nanti, tetapi tidak sekarang”.
b. Respon emosional
Wanita yang bahagia dan senang dengan kehamilannya sering memandang hal tersebut sebagai pemenuhan biologis dan merupakan bagian dari rencana hidupnya. Rasa senang yang timbul karena memikirkan anak yang lahir dan perasaan dekat dengan anak membantu Ibu menyesuaikan diri terhadap rasa tidak nyaman.
c. Respon terhadap perubahan citra tubuh
Selama trimester pertama bentuk tubuh sedikit berubah. Sikap wanita terhadap tubuhnya diduga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang diyakininya dan sifat pribadinya. Sikap ini sering berubah seiring kemajuan kehamilan. Pada kebanyakan wanita perasaan suka atau tidak suka terhadap tubuh mereka dalam keadaan hamil bersifat sementara dan tidak menyebabkan perubahan persepsi yang permanen tentang diri mereka.
d. Ambivalensi selama masa hamil
Ambivalensi didefinisikan sebagai konflik perasaan yang simultan, seperti cinta dan benci terhadap seseorang, sesuatu atau suatu keadaan. Ambivalensi adalah respon normal yang dialami individu yang mempersiapkan diri untuk suatu peran baru. Kebanyakan wanita memiliki sedikit perasaan ambivalen selama kehamilan.
e. Upacara tanda kedewasaan
Kehamilan berfungsi sebagai upacara tanda kedewasaan tanda bahwa seseorang mencapai maturitas dalam suatu masyarakat yang tidak memiliki upacara lain.
2. Mengenal peran ibu
Proses mengidentifikasi peran ibu dimulai pada awal setiap kehidupan seorang wanita, yakni melalui memori-memori dan ketika ia sebagai anak, diasuh oleh ibunya. Banyak wanita selalu menginginkan seorang bayi, menyukai anak-anak, dan menanti untuk menjadi orang tua. Hal ini mempengaruhi penerimaan mereka terhadap kehamilan dan akhirnya terhadap adaptasi prenatal dan adaptasi menjadi orang tua.
3. Hubungan ibu-anak perempuan
Hubungan antara wanita dan ibunya terbukti signifikan dalam adaptasi terhadap kehamilan dan menjadi Ibu. Keberadaan Ibu disisi anak perempuannya selama selama masa kanak-kanak sering kali berarti ibu juga akan hadir dan mendukung selama anaknya hamil. Dengan ikatan keibuan yang sama dan sikap siap membantu satu sama lain, subjek yang sering dideskripsikan sebagai, keakraban timbul dan memfasilitasi perkembangan dan adaptasi kedua individu.
4. Hubungan dengan pasangan
a. Hubungan seksual
Ekspresi seksual selama masa hamil bersifat individual. Beberapa pasangan menyatakan puas dengan hubungan seksual mereka, sedangkan yang lain mengatakan sebaliknya. Perasaan yang berbeda dipengaruhi oleh faktor-faktor fisik emosi dan interaksi, termasuk takhayul tentang seks masa hamil, masalah disfungsi seksual dan perubahan fisik pada wanita.
b. Kekhawatiran tentang janin
Kekhawatiran pertama timbul pada trimester I dan berkaitan dengan kemungkinan terjadinya keguguran. Ketika janin semakin menjadi jelas, yang terlihat dengan adanya gerakan dan denyut jantung, kecemasan orang tua yang terutama ialah kemungkinan cacat pada anaknya.

C. TANDA-TANDA DUGAAN KEHAMILAN

1. Amenorea (terlambat datang bulan)
a. Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi pembentukan folikel degraf dan ovulasi
b. Mengetahui tanggal haid terakhir ditentukan perkiraan persalinan
2. Mual (Nausea) dan muntah (emesis)
a. Pengaruh estrogen dan progesteron terjadi pengeluaran asam lambung yang berlebih
b. Menimbulkan mual dan muntah terutama pagi hari (Morning Sickness)
c. Dalam batas yang fisiologis keadaan ini dapat diatasi
d. Akibat mual muntah nafsu makan berlebihan
3. Ngidam
Wanita hamil sering menginginkan makanan tertentu, keinginan yang demikian disebut Ngidam
4. Sinkope atau Pingsan
a. Terjadinya gangguan sirkulasi ke darah kepala (sentral) menyebabkan iskemia susunan saraf pusat dan menimbulkan sinkop / pingsan
b. Keadaan ini menghilang setelah umur kehamilan 16 minggu
5. Payudara tegang
a. Pengaruh estrogen-progresteron dan somatotropin menimbulkan lemak, air dan garam payudara
b. Payudara membesar dan tegang
c. Ujung syaraf tertekan menyebabkan rasa sakit terutama pada hamil pertama
6. Sering miksi
a. Desakan rahim ke depan menyebabkan kandung kemih cepat terasa penuh dan sering miksi
b. Pada triwulan ke-2 sudah hilang
7. Konstipasi atau obstipasi
Pengaruh progresteron dapat menghambat peristaltik usus menyebabkan kesulitan buang air besar
8. Pigmentasi kulit
a. Sekitar pipi : Chloasoma gravidarum
b. Keluarnya ”Melaphorne Stimulating Hormone” hipofisis anterior menyebabkan pigmentasi kulit pada kulit.
9. Dinding perut
a. Striae lividae
b. Striae nigra
c. Linea alba makin hitam
10. Sekitar payudara
a. Hiperpigmentasi areola mamae
b. Puting susu makin menonjol
c. Kelenjar montgomery menonjol pembuluh darah manifes sekitar payudara
9. Epulsi
Hipertrofi gusi (epulsi) dapat terjadi bila hamil
12. Varices / penampakan pembuluh darah vena
a. Karena pengaruh dari estrogen dan progresteron terjadi penampakan pembuluh darah vena, terutama bagi mereka yang mempunyai bakat
b. Penampakan pembuluh darah itu terjadi di sekitar genetalia eksterna, kaki, betis dan payudara
c. Penampakan pembuluh darah ini menghilang setelah persalinan

D. TANDA KEHAMILAN TIDAK PASTI
1. Rahim membesar, sesuai dengan tuanya kehamilan
2. Pada Px dalam dijumpai :
a. Tanda Hegar
b. Tanda Chadwicks
c. Tanda piscaseck
d. Kontraksi Braxron Hicks
e. Teraba ballotement
3. Pemeriksaan tes biologi kehamilan positif , Sebagian kemungkinan positif palsu

E. TANDA KEHAMILAN PASTI
Tanda-tanda kehamilan dapat ditentukan dengan jalan :
1. Gerakan janin dalam rahim
a. Terlihat / teraba gerakan janin
b. Teraba bagian-bagian janin
2. Denyut Jantung Janin
a. Auskultasi : Stetoskop laenec, alat kardiotokografi, Doppler
b. Ulstrasonografi :
1). Gastation sac                              
2). Fetal Plate
c. Abdominal foto :  Kerangka janin terlihat

KETUBAN PECAH DINI (KPD)



Askep Ketuban pecah dini

                                                    KETUBAN PECAH DINI (KPD)

A. Pengertian
Ketuban pecah dini (Early Rupture Of The Membrane) terdapat bermacam-macam batasan teori/definisi. Ada teori yang menghitung berapa jam sebelum in partu, misalnya 2, 4 atau 6 jam sebelum in partu. Ada juga yang menyatakan dalam ukuran pembukaan serviks pada kala I,  misalnya ketuban yang pecah sebelum pembukaan serviks 3 cm atau 5 cm, dan sebagainya. Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa airdari vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan berlangsung. ( saifudin, 2002 ).
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan mulai dan ditunggu satu jam sebelum dimulainya tanda persalinan. Waktu sejak pecah ketuban sampai terjadi kontraksi rahim ( periode laten ). ( manuaba, 2001 ).
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu yaitu bila pembukaan pada primipara kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. ( Mochtar, 1998 ).
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terjadi proses persalinan berlangsung. (Prawirohardjo, 2002 ).
Jadi Prinsipnya adalah ketuban yang pecah “sebelum waktunya”. 
Kapan normalnya ketuban tu pecah..? Normal selaput ketuban pecah pada akhir kala I atau awal kala II persalinan. Bisa juga belum pecah sampai saat mengedan, sehingga kadang perlu dipecahkan (amniotomi).

B. Etilogi
Penyebab dari ketuban pecah dini masih belum jelas dan tidak dapat dipastikan apa penyebabnya, akan tetapi penyebab ketuban pecah dini mempunyai dimensi multifaktor dijabarkan sebagai berikut:
1. Servik inkompeten
Servik dengan suatu kelainan anatomi yang nyata, disebabkan laserasi sebelumnya melalui ostium uteri internum atau pada servik yang terjadinya dilatasi berlebihan tanpa perasaan nyeri dan mules dan diikuti dengan penonjolan dan robekan selaput janin dalam masa kehamilan trimester dua dan tiga ( Prawirohardji, 2002 )
2. Infeksi
Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan kulit ketuban dapat pecah, misalnya aminonitis atau kasioaminionitis, infeksi genetalia, ( Manuaba, 1998).
3. Ketegangan rahim berlebihan
Ketegangan rahim berlebihan seperti kehamilan ganda dan hidramion. Peningkatan tekanan distensi pada kulit ketuban diatas ostium uteri internum pada servik yang sudah terbuka atau peningkatan tekanan pada intra uterin yang meninggi secara mendadak (Manuaba, 1998 ).
4. Kelainan letak janin dalam rahim
Kelainan letak berarti tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap membrane bagian bawah. (Manuaba, 1998)
5. Kelainan bawaan dari selaput ketuban
Kelainan bawaah dari selaput ketuban misalnya pada selaput ketuban yang terlalu tipis sehingga sangat mudah pecah.
6. Kemungkinan kesempitan panggul
Ini sering terjadi padaperut gantung bagian terendah belum masuk pintu atas panggul (PAP), safalopelvik disproporsi, dimana tidak dapat menghalangi tekanan terhadap membrane bagian bawah, atau tidak dapat tertutup secara sempurna.

C. Patofisiologi
1. Terjadi pembukaan premature serviks
2. Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi.
3. Bila terjadi pembukaan serviks, maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dan terjadi pengeluaran air ketuban.
4. Melemahnya daya tahan ketuban dapat dipercepat dengan infeksi yang mengeluarkan enzim : Enzim proteolitik dan Enzim kolegenase.

D. Manifestasi kelinik
1. Keluar air ketuban warna putih keruh, jernih, kuning, hijau atau kecoklatan. Dapat keluar sedikit-sedikit atau sekaligus banyak.
2. Dapat disertai demam bila sudah ada infeksi.
3. Janin mudah diraba.
4. Pada pemeriksaan dalam kasus KPD yang perlu dikaji adalah
? Untuk mengetahui bagaimana keadaan vagina
? Penipisan serviks
? Konsistensi serviks
? Kulit ketuban
? Penurunan kepala
? Denominator dan apakah ada bagian yang menumbung
? Bagian terbawah dari janin
? Point of direction
5. Pada pemeriksaan dengan inspekulo tampak air ketuban mengalir atau selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudah kering.

E. Pemeriksaan Diagnostik
1. Ultrasonografi (USG)
USG dapat mengidentifikasi kehamilan ganda, anomaly janin, atau melokalisasi kantong cairan amnion pada amniosintesis.
2. Pemantauan Janin
Membantu dalam mengevaluasi janin, dapat dilakukan dengan evaluasi DJJ menggunakan funduskop.
3. Protein C-Reaktif
Peningkatan protein C-Reaktif serum menunjukkan peningkatan korioamnionitis.
4. Tes Lakmus (tes nitrazin)
Jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya cairan ketuban (alkalis). Darah dan infeksi vagina dapat mengahasilkan tes positif palsu.
5. Tes Pakis
Dengan meneteskan cairan ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopis mununjukkan kristal cairan amnion dan gambaran daun pakis.
6. Pemeriksaan inspekulo
Nilai apakah cairan ketuban diforniks posterior dan mengambil sample cairan untuk pemeriksaan bakteriologis.

F. Komplikasi KPD
1. Infeksi intrapartum Disebut jg korioamnionitis ascendens dari vagina ke intrauterin
2. Persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan preterm
3. Prolaps tali pusat, bisa sampai gawat janin dan kematian janin akibat hipoksia (sering terjadi pada presentasi bokong atau letak lintang).
4. Oligohidramnion, bahkan sering partus kering (dry labor) karena air ketuban habis.

G. Penatalaksanaan Medis
1. Konsevatif
• Rawat rumah sakit dengan tirah baring, bila tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin, umur kehamilan kurang 37 minggu.
• Antibiotik profilaksis dengan amoksisilin 3 x 500 mg selama 5 hari.
• Memberikan tokolitik bila ada kontraksi uterus dan memberikan kortikosteroid untuk mematangkan fungsi paru janin.
• Jangan melakukan periksan dalam telalu sering kecuali ada tanda-tanda persalinan.
• Melakukan terminasi kehamilan bila ada tanda-tanda infeksi atau gawat janin.
• Bila dalam 3 x 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada kontraksi uterus maka lakukan mobilisasi bertahap. Apabila pelepasan air berlangsung terus, lakukan terminasi kehamilan.
2. Aktif
Bila didapatkan infeksi berat maka berikan antibiotik dosis tinggi. Bila ditemukan tanda-tanda inpartu, infeksi dan gawat janin maka lakukan terminasi kehamilan.
• Induksi atau akselerasi persalinan.
• Lakukan seksiosesaria bila induksi atau akselerasi persalinan mengalami kegagalan.
• Lakukan seksio histerektomi bila tanda-tanda infeksi uterus berat ditemukan.

H. Hal-hal yang harus diperhatikan saat pecah ketuban
Yang harus segera dilakukan : Pakai pembalut/handuk, dan Lakukan nafas. Yang tidak boleh dilakukan: Tidak boleh berendam dalam bath tub, karena bayi ada resiko terinfeksi kuman. Jangan bergerak mondar-mandir/berjalan atau berlari , karena air ketuban akan terus keluar. Berbaringlah dengan pinggang diganjal supaya lebih tinggi.

I. Diagnosa Keperawatan yang mungkin Muncul
Diagnosa keperawatan yang muncul pada Ibu
1. Hipertermia berhubungan dengan infeksi kerena paparan kuman pathogen.
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan jalan lahir kontak terlalu lama dengan ekstrauteri.
3. Ansietas berhubungan dengan partus lama
4. Nyeri berhubungan dengan berkurangnya cairan amnion (oligohidramnion).
Diagnosa keperawatan yang muncul pada bayi
1. Kerusakan  pertukaran gas berhubungan dengan sesak napas yang diakibatkan berkurangnya pemenuhan O2.
2. Resiko tinggi cedera terhadap janin berhubungan dengan distress janin, hipoksia jaringan.
3. Hipotermia berhubungan dengan tidak stabilnya suhu tubuh karena lemak bawah kulit berkurang.