Showing posts with label Laporan Pendahuluan (LP). Show all posts
Showing posts with label Laporan Pendahuluan (LP). Show all posts

Monday, December 11, 2017

LAPORAN PENDAHULUAN DIFTERIA

menjelaskan tentang pengertian penyakit difteri, tanda dan gejala

LATAR BELAKANG
Dewasa ini penyakit-penyakit di masyarakat sekarang banyak sekali macamnya dan tidak satu penyakit yang ditemukan tapi sangat beragam dari mulai penyakit yang ringan hingga penyakit yang berat dari yang akut hingga kronis, dalam pembahasan ini adalah penyakit difteri yang membahayakan dan umumnya di temukan pada usia anak-anak dan penyakit ini disebabkan oleh pola hidup masyarakat yang kurang sehat dan gaya hidup yang tidak terkontrol, oleh sebab itu kita haus mengetahui bagaimana cara pencegahannya jangan sampai kita mengobatai tapi cegahlah penyakit itu sebelum datang. Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan bagian atas, biasanya bagian tubuh yang diserang adalah tonsil, faring hingga laring yang merupakan saluran pernafasan bagian atas.

A. DEFINISI PENYAKIT DIFTERI
Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan bagian atas. Penyakit ini dominan menyerang anak anak, biasanya bagian tubuh yang diserang adalah tonsil, faring hingga laring yang merupakan saluran pernafasan bagian atas. Ciri yang khusus pada difteri ialah terbentuknya lapisan yang khas selaput lendir pada saluran nafas.

B. PENYEBAB PENYAKIT DIFTERI:
Penyebab penyakit difteri adalah jenis bacteri yang diberi nama Cornyebacterium diphteriae.

C. CARA PENULARAN PENYAKIT DIFTERI:
Difteri bisa menular dengan cara kontak langsung maupun tidak langsung. Air ludah yang berterbangan saat penderita berbicara, batuk atau bersin membawa serta kuman kuman difteri. Melalui pernafasan kuman masuk ke dalam tubuh orang disekitarnya, maka terjadilah penularan penyakit difteri dari seorang penderita kepada orang orang disekitarnya.

D. GEJALA PENYAKIT DIFTERI:
1. Demam, suhu tubuh meningkat sampai 38,9 derjat Celcius,
2. Batuk dan pilek yang ringan.
3. Sakit dan pembengkakan pada tenggorokan
4. Mual, muntah , sakit kepala.
5. Adanya pembentukan selaput di tenggorokan berwarna putih ke abu abuan kotor.
6. Kaku leher

E. AKIBAT PENYAKIT DIFTERI:
Setelah melalui masa inkubasi selama 2-4 hari kuman difteri membentuk racun atau toksin yang mengakibatkan timbulnya panas dan sakit tenggorokan. Kemudian berlanjut dengan terbentuknya selaput putih di tenggorokan akan menimbulkan gagal nafas, kerusakan jantung dan saraf.
Difteri ini akan berlanjut pada kerusakan kelenjar limfe, selaput putih mata, vagina. Komplikasi lain adalah kerusakan otot jantung dan ginjal.

F. PENGOBATAN PENYAKIT DIFTERI:
Pengobatan difteri tidak bisa dilaksanakan sendiri dirumah, segeralah di rawat dirumah sakit jangan sampai terlambat. Karena difteri sangat menular penderita perlu diisolasi. Istirahat total di tempat tidur mutlak diperlukan untuk mencegah timbulnya komplikasi yang lebih parah. Fisioterapi sangat diperlukan untuk penderita yang sarafnya mengalami gangguan sehingga mengakibatkan kelumpuhan. Tindakan trakeotomi diperlukan bagi penderita yang tersumbat jalan nafasnya, dengan membuat lubang pada batang tenggorokan.

G. PENCEGAHAN PENYAKIT DIFTERI
Difteri jenis penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Berikanlah imunisasi pada bayi umur dua bulan sebanyak tiga kali dengan selang satu bulan. Jenis imunisasi ini termasuk dalam Lima Imunisasi Dasar Lengkap. Biasanya imunisasi ini berbarengan dengan imunisasi polio, hepatitis B. Sedangkan imunisasi Difteri tergabung dalam Imunisasi D P T atau Difteri, Pertusis dan Tetanus. Untuk bayi umur sembilan bulan dilengkapi dengan imunisasi Campak (Morbili) . Segeralah imunisasi anak anda di Posyandu, Puksemas atau pelayanankesehatan lainnya.

PENATALAKSANAAN PERAWATAN
PENGKAJIAN
• Riwayat keperawatan : riwayat terkena penyakit infeksi, status immunisasi.
• Kaji tanda-tanda yang terjadi pada nasal, tonsil/faring, dan laring. 
• Lihat manifestasi klinis berdasarkan alur patofisiologi.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Tidak efektifnya bersihan jalan napas b/d obstruksi pada jalan napas
2. Resiko penyebarluasan infeksi b/d organisme
3. Resiko kurangnya volume cairan b/d proses penyakit ( metabolisme meningkat, intake cairan menurun )
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake nutrisi yang kurang.

NTERVENSI KEPERAWATAN
1. Meningkatkan jalan napas efektif
• Kaji status pernapasan, observasi irama dan bunyi pernapasan
• Atur posisi kepala dengan posisi ekstensi
• Suction jalan napas jika terdapat sumbatan
• Berikan oksigen sebelum dan sesudah dilakukan suction.
• Lakukan fisioterapi dada
• Persiapkan anak untuk dilakukan trakeostomi
• Lakukan pemeriksaan analisa gas darah
• Lakukan intubasi jika ada indikasi.

2. Resiko penyebaran infeksi
• Tempatkan anak pada ruangan khusus
• Pertahankan isolaso yang ketat di rumah sakit
• Gunakan prosedur perlindungan infeksi jika melakukan kontak dengan anak
• Berikan antibiotik sesuai order

3. Kekurangan volume cairan
• Memonitor intake output secara tepat, pertahankan intake cairan dan elektrolit yang tepat
• Kaji adanya tanda-tanda dehidrasi.
• Kolaborasi untuk pemberian cairan parenteral jika pemberian cairan melalui oral tidak memungkinkan.

4. Meningkatkan kebutuhan nutrisi
• Kaji ketidakmampuan anak untuk makan
• Memasang NGT untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak
• Kolaborasi untuk pemberian nutrisi parenteral
• Menilai indikator terpenuhinya nutrisi yang adekutan.

PERENCANAAN PEMULANGAN
• Jelaskan terapi yang diberikan: dosis, efek samping
• Melakukan imunisasi jika imunisasi belum lengkap
• Menekankan pentingnya kontrol ulang sesuai jadwal
• Informasikan jika terdapat tanda-tanda terjadinya kekambuhan

Wednesday, November 29, 2017

MENGENAL PENYAKIT STROKE

mengenal pengertian stroke tanda dan gejala serta perawatan pasien penderita stroke


Stroke telah menjadi penyebab kedua kematian di dunia. Setiap tahunnya tidak kurang dari 5 juta orang meninggal akibat stroke dan lebih dari 50 juta penderita stroke yang bertahan hidup menjadi cacat. Di negara berkembang, seperti Indonesia, insidens juga terus meningkat, karena ditunjang dengan perubahan gaya hidup, kegemukan, dan kebiasaan merokok yang masih bebas di Indonesia. Survey di Bogor (Misbach, 2001) menunjukkan insidens sebesar 234/100.000 penduduk dan di daerah pedesaan lebih rendah dibandingkan di perkotaan. Jumlah penderita stroke yang meninggal lebih banyak daripada yang tetap hidup karena fasilitas kesehatan di Indonesia masih kurang memadai. 

Data lain dari ASNA stroke epidemiology study menyebutkan bahwa 25% dari penderita stroke yang berobat ke rumah sakit ternyata pernah mengalami serangan stroke sebelumnya. Oleh karena itu, masyarakat perlu mendapat penjelasan bahwa sembuh dari suatu serangan stroke bukan berarti bebas, melainkan perlu pengendalian faktor risiko yang dapat mengancam timbulnya serangan kedua atau ketiga atau bahkan keberapa kalinya lagi. Serangan ulang tersebut biasanya lebih parah dan berbahaya. 

Stroke paling banyak menyebabkan orang cacat pada kelompok usia di atas 45 tahun. Banyak penderitanya yang menjadi cacat, invalid, tidak mampu lagi mencari nafkah seperti sediakala, menjadi tergantung kepada orang lain dan tidak jarang menjadi beban bagi keluarganya. Stroke dapat terjadi pada setiap usia, dari bayi baru lahir sampai pada usia sangat lanjut. Namun angka kejadian stroke meningkat dengan bertambahnya usia. Makin tinggi usia, makin banyak kemungkinannya untuk mendapatkan stroke. Dapat dikatakan bahwa angka kejadian (insiden) stroke adalah 200 per 100.000 penduduk. Dalam satu tahun, diantara 100.000 penduduk maka 200 orang akan mendapat stroke.

Stroke menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian ketiga setelah penyakit jantung dan kanker. Sedangkan data dari Yayasan Stroke Indonesia, 2004 mengungkapkan bahwa setiap tahunnya terjadi peningkatan serangan stroke sebesar 500.000 jiwa dan sekitar 25% atau 125.000 meninggal dan  sisanya cacat ringan maupun berat., diperkirakan bahwa dari 1000 jiwa yang berusia 55-64 tahun dalam setahun terdapat dua jiwa mengalami serangan stroke.(Metro Indonesia, 26 Januari 2004). Pada profil kesehatan Jawa Barat tahun 2001 melaporkan stroke merupakan peringkat ke sembilan yang menyebabkan kematian. (Dinas Kesehatan Jawa Barat, 2001).

APA ITU PENYAKIT STROKE?
Stroke adalah serangan yang terjadi secara tiba-tiba dan berakibat kematian atau kelumpuhan bagian tubuh.

Penyebab Stroke
Stroke disebabkan oleh :
1. Terjadinya sumbatan pada pembuluh darah otak karena bekuan darah atau pengapuran dinding pembuluh darah.
2. Terjadi kebocoran pada pembuluh darah di otak (perdarahan).

Hal tersebut diatas terjadi karena adanya factor pemicu, yaitu sebagai berikut :
1. Menderita hipertensi (tekanan darah tinggi).
2. Menderita penyakit gula (Diabetes Mellitus)
3. Menderita penyakit jantung
4. Hiperkolesterol
5. Merokok
6. Penyalahgunaan obat
7. Kegemukan
8. Mudah stress
9. Gaya hidup yang tidak sehat seperti makan berlebihan dan kebiasaan mengkonsumsi alcohol (minuman keras).

Tanda dan gejala Stroke
1. Tiba-tiba sakit kepala
2. Pusing, bingung
3. Penglihatan kabur
4. Kehilangan keseimbangan
5. Kelemahan / kelumpuhan tangan dan kaki
6. bicara tidak jelas
7. Konsentrasi menurun
8. sukar menelan
9. Tidak mampu mengontrol buang air besar atau buang air kecil
10. Terjadi penurunan sampai dengan hilangnya kesadaran

Dampak Stroke
• Lumpuh
• Perubahan mental
• Gangguan komunikasi
• Gangguan emosional

Perawatan penderita Stroke di rumah
1. Kamar dekat kamar mandi, ruang makan dan dapur
2. Bantu penderita untuk memenuhi kebutuhannya
3. Pujilah setiap usaha yang dilakukan
4. Bantu untuk menggerakkan anggota tubuh dan persendian untuk digerakkan
5. Bantu untuk mempertahankan dengan dunia luar
6. Luangkan waktu bersama penderita ajaklah berkomunikasi
7. Pahami kondisi klien yang mudah tersinggung dan sensitive
8. Biarkan klien melakukan aktivitas sesuai minat dan selalu ditemani

Cara Pencegahan Stroke
1. Kendalikan tekanan darah
2. Kendalikan kencing manis
3. Berhenti merokok
4. Batasi gula, kopi dan makanan berpengawet.
5. Kontrol secara teratur ke dokter atau Rumah Sakit

Diet Rendah Garam dan Menu Sehari
Tidak mudah memang merawat pasien penderita stroke, selain kesabaran kita juga harus memperhatikan asupan makanan yang di konsumsi setiap hari oleh pendirata stroke. Berikut ini contoh menu makanan yang harus dikonsumsi oleh penderita stroke.
Diet rendah garan terdiri dari 3 macam :
• Diet rendah garam I
Diberikan bila tekanan darah diastolnya lebih dari 115 mmHg
• Diet rendah garam II
Diberikan bila tekanan darah diastolnya lebih dari 100 mmHg
• Diet rendah garam III
Diberikan bila tekanan darah diastolnya kurang dari 100 mmHg

Menu sehari diet rendah garam
Menu pagi
• Nasi
• Telur dadar
• Tumis kacang panjang

Menu siang
• Nasi
• Ikan acar kuning
• Tahu bacem
• Sayur lodeh
• Pepaya

Menu Sore
• Nasi
• Daging pesmol
• Tempe keripik


Tuesday, November 28, 2017

5 CARA PENCEGAHAN TBC

5 tanda pecegahan tbc tanda dan gejala serta perawatannya

A. Pengertian TBC
TBC paru merupakan penakit infeksi paru-paru yang bersifat menahun, menular, dan disebabkan oleh kuman TBC.
TBC paru bukan merupakan kutukan, tetapi merupakan penyakit infeksi dan dapat mengenai siapa saja. TBC paru dapat disembuhkan, walau memang harus melalui program pengobatan dalam jangka waktu yang lama dan teratur (kurang lebih 6 Bulan).

B. Tanda Dan Gejala TBC Paru
1. Batuk berdahak yang tidak sembuh-sembuh selama kurang lebih 2 minggu
2. Kadang-kadang disertai batuk darah
3. Kadang sesak nafas dan dada terasa sakit
4. Demam
5. Nafsu makan berkurang/tidak selera
6. Berat badan menurun/kurus
7. Berkeringat pada malam hari

C. Cara Penularan TBC
a. Secara langsung
Bakteri TBC yang terdapat pada percikan ludah/cairan hidung penderita TBC paru yang berpindah ke orang lain yang sehat saat penderita bercakap-cakap, batuk, bersin/berciuman. Kuman yang tersembur tersebut terhisap dan masuk ke dalam paru-paru orang yang sehat.

b. Secara tidak langsung
Kadang penderita TBC paru meludah/membuang dahak di sembarang tempat. Bila tempat tersebut kebetulan dapat menjadi tempat kuman TBC bertahap hidup, maka sewaktu-waktu bila ludah mengering dan tertiup angin, maka dapat saja terhirup oleh orang yang kebetulan berada disekitar tempat tersebut.

D. Cara Pencegahan Penularan
1. Pastikan Balita Mendapatkan Imunisasi BCG
2. Hindari Kontak Langsung/berciuman dengan penderita TBC paru
3. Tingkatkan daya tahan tubuh dengan menjalankan program hidup sehat ( bersih pakaian, diri dan lingkungan, makan-makanan bergizi, olahraga teratur, istirahat sesuai kebutuhan, control kesehatan secara rutin, hindari meroko/minum minuman alcohol, dan bila perlu mengkonsumsi seplemen).
4. Bila ada anggota keluarga yang terkena TBC paru anurkan agar menjalani program pengobatan TBC secara teratur dan sampai selesai.
5. Tingkatkan pencahayaan tempat tinggal (cahaya matahari bisa masuk ke dalam rumah dengan baik sehingga ruangan tidak lembab) dan perbaiki pentilasi rumah.

E. Perawatan penderita TBC
1. Tingkatkan kondisi kesehatan tubuh
2. Jalani program pengobatan secara teratur, rutin, dan sampai selesai.
a. Paket A: diperuntukan untuk penderita baru yang dalam dahaknya ditemukan adanya kuman TBC/basil tahan asam (BTA +):
• Tahap awal, lama pengobatan kurang lebih 2 bulan dan obat diminum secara teratur dan rutin tiap hari.
• Tahap lanjutan, selama kurang lebih 4 bulan, obat diminum sebanyak 3 x seminggu.
b. Paket B: diperuntukan penderita kambuhan atau penderita yang gagal/tidak selesai dalam menjalani pengobatan paket A:
• Tahap awal, pengobatan selama 3 bulan
• Tahap lanjutan, dijalankan selama kurang lebih 5 bulan.
3. PerbaikAi kondisi kebersihan dan kesehatan lingkungan rumah dan sekitar tempat tinggal (perbaiki ventilasi, kebersihan, dan tingkatkan cahaya matahari yang masuk ke rumah, dll)
4. Motivasi penderita untuk menjalani pengobatan sampai selesai.

Friday, November 24, 2017

LAPORAN PENDAHULUAN PADA ANAK DENGAN MAR


laporan pendahuluan Malformasi anorectal pada anak

A. KONSEP DASAR

1. Pengertian
Malformasi anorectal (MAR) adalah bentuk imperforate anus yang berat. Biasanya dihubungkan dengan anomaly genitourinaria dan pelvis. Malformasi ini merupakan bentuk yang bisanya ditemukan pada kelainan congenital. Kelainan ini terjadi karena perkembangan janin yang abnormal. Insiden 1:4000-5000 kelahiran hidup. Kasus MAR lebih banyak dijumpai pada wanita. Pada MAR tidak terdapat lubang anus dan pada beberapa kasus ditemukan fistula dari bagian distal rectum sampai ke perineum atau system genitourinaria.

2. Patofisiologi
Selama perkembangan embrionik, kloaka biasanya menjadi saluran untuk perkembangan urinari, genital dan sistem rectal. Pada usia 6 minggu kehamilan, kloaka bercabang dua, yaitu ke dalam sinus urogenital anterior dan saluran intestinal posterior oleh septum urorectal. Selanjutnya, bagian sisi melipat menghubungkan septum urorectal, memisahkan segmen urinari dan rectal. Selanjutnya perbedaan tersebut menghasilkan sistem genitourinari dan saluran posterior anorektal. Gangguan pada perkembangan ini akan menyebabkan migrasi dari rectum tidak sempurna untuk menuju pada posisi perianal yang normal.

3. Klasifikasi
a. Imperforata anus tingkat tinggi (supra levator)? agenesis anorektal.
b. Imperferota anus tingkat menengah agenesis anal dan stenosis anorektal
c. Imperforata tingkat rendah, biasanya disertai dengan adanya fistula di urethra atau genitalia.

4. Gambaran klinis
a. Tidak adanya apertura anal/ lubang anus tidak ada.
b. Meconium tidak keluar 24 - 48 jam I (bila tidak ada fistula).
c. Bila ada fistula: urine berwarna kehijauan, keluar meconium melalui vagina.
d. Distensi abdomen
e. Muntah
f. Anak gelisah malas menyusui

5. Diagnostik evaluasi
Diagnosis MAR berdasarkan pemeriksaan fisik: lubang anus tidak terbuka dan pengeluaran mekonium. Disamping itu dilakukan pemeriksaan radiografik untuk melihat ketinggian defect. Pada bayi baru lahir, kegagalan dalam pengeluaran mekonium tidak selalu indikasi terhadap kepatenan anus, khususnya bagi bayi perempuan;kemungkinan meconium keluar melalui fistula. Stenosis anal mungkin belum terlihat hingga anak berusia 1 tahun atau pada usia yang lebih lanjut ketika anak mempunyai riwayat kesulitan defikasi, distensi abdomen, dan faeces berbentuk seperti pita. Fistula rectourinari perlu dicurigai bila pada urine terdapat mekonium. Pada anak laki-laki yang menderita MAR, mekonium keluar melalui fistula pada garis tengah dari orifisium. Pemeriksaan lain yang dapat digunakan : ultrasound abdomen (USG).

6. Managemen therapy
Pada kasus stenosis anal dilakukan dilatasi manual. Prosedur ini pertama kali dilakukan oleh dokter, diulangi secara teratur oleh perawat di RS dan dilanjutkan dengan perawatan di rumah oleh orang tua setelah mendapatkan penkes tentang teknik perawatan. Pada kasus imperforate anal membran dilakukan insisi & diikuti dilatasi perinal tiap hari

7. Tahapan operasi
a. Letak tinggi:
• Colostomi
• Posterior sagital anoplasty (PSA) setelah 6 bulan
• Reanastomose? 1 bulan setelah PSA
• Pemasangan busi? setelah 2 minggu PSA? busi no. 4-12 sampai lubang anus dilewati faeces
• Colostomy tutup.
b. Letak sedang:
• PSA
• Pemasangan Busi
c. Letak rendah: anaplasty

B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Data Subjektif : Ibu mengeluh anaknya tidak b.a.b. sudah 2 hari, Gelisah / rewel
Data objektif: sesuai dengan gambaran klinis

Kemungkinan diagnosa keperawatan
Pre Operasi
• Gangguan rasa nyaman s.d. distensi abdomen
• Potensial gangguan pemenuhan nutrisi s.d. distensi muntah
• Gangguan rasa aman: cemas pada keluarga s.d. kurang pengetahuan tentang penyakit dan prosedur operasi
 Post operasi
• Potensial infeksi s.d. luka colostomy
• Gangguan rasa nyaman: nyeri s.d. post op colostomy
• Kurang pengetahuan dan keterampilan ibu merawat anak s.d. pemasangan colostomy

2. Intervensi
Pre operasi
Dx1
Tujuan: distensi abdomen berkurang
Kriteria:
• Perut teraba tidak tegang
• Anak tenang/tidur
 Rencana tindakan:
• Ukur lingkar perut
• Pasang NGT
• Setiap habis menetek disendawakan
• Palpasi daerah perut

Dx 2
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria:
• BB meningkat sesuai umur
• Intake nutrisi adekuat
Rencana Tindakan:
• Pertahankan pemberian nutrisi (oral feeding sesuai kebutuhan)
• Hidrasi IV
• Timbang BB

Dx 3
Tujuan: keluarga tidak cemas
Kriteria :
• Pengetahuan tentang penyakit dan prosedur operasi meningkat
• Keluarga tenang, tidak banyak bertanya
• Keluarga memahami penjelasan
Rencana Tindakan:
• Kaji sejauh mana pengetahuan keluarga tentang penyakit dan prosedur operasi
• Beri penjelasan tentang kelainan yang diderita klien, penatalaksanaan (persiapan pre operasi, prosedur operasi dan perawatan post operasi.

Post Op
Dx1
Tujuan: tidak terjadi infeksi
Kriteria:
• Tidak ada tanda-tanda infeksi
• Leukosit normal
• Tanda-tanda vital normal
Intervensi:
• Perawatan colostomy
• Observasi tanda-tanda vital
• Observasi tanda-tanda infeksi
• Perawatan kulit sekitar stoma
• Perawatan area operasi (rectal area), cegah urin kontak dengan area tersebut saat klien posisi prone
• Pemberian antibiotik

Dx2
Tujuan: Rasa nyaman terpenuhi
Kriteria:
• Tanda-tanda vital normal
• Ekspresi klien tenang (tidak rewel,gelisah,menangis terus)
Intervensi:
• Berikan posisi yang nyaman:side lying/prone
• Pengukuran suhu per axilla (hindari per-rectal)
• Analgetik

Dx3
Tujuan: Pengetahuan keluarga ttg perawatan colostomy meningkat
Kriteria:
• Keluarga mengetahui tujuan colostomy
• Keluarga memahami penjelasan tentang perawatan colostomy
• Keluarga mampu mendemonstrasikan cara perawatan colostomy
Intervensi:
• Jelaskan tujuan colostomy
• Jelaskan cara perawatan colostomy dan ajarkan keluarga: persiapan alat/klien, teknik / prosedur tindakan, evaluasi

Monday, October 16, 2017

LAPORAN PENDAHULUAN / ASUHAN KEPERAWATAN POSTNATAL CARE (PNC)

laporan pendahuluan post partum

A. Defenisi Post Partum
Post partum atau puerpurium (masa nifas) adalah masa penyesuaian fisik dan fisiologis tubuh kembali mendekati sebelum hamil.
Masa puerpurium atau masa nifas dimulai setelah selesainya partus dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu atau 40 hari, pada periode ini tubuh terus mengalami perubahan dan pemulihan kembali ke keadaan sebelum hamil.

Periode dibagi menjadi 3 periode yaitu :
1. Immediately Post Partum : 4 jam pertama
2. Early Post Partum : minggu pertama
3. Late Post Partum : minggu kedua sampai dengan minggu keenam

Nifas juga dibagi dalam 3 periode yaitu :
1. Puerpurium dini
Kepulihan dimana telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2. Puerpurium intermedial
Kepulihan menyeluruh  alat-alat genitalia yang lamanya 6 – 8 minggu
3. Remote Puerpurium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu peralihan mempunyai komplikasi waktu untuk sehat sempurna bila berminggu-minggu, bulanan atau tahunan.

B. Tujuan
1. Memantau adaptasi fisiologis dan psikologis
2. Meningkatkan pemulihan punksi tubuh
3. Meningkatkan istirahat dan kenyamanan
4. Meningkatkan hubungan orang tua dan bayi
5. Meningkatkan peluang merawat bayi
6. Teaching self care dan bayi.
Dalam masa nifas alat-alat genitalia interna maupum eksterna akan berangsur -angsur pulih kembali. Perubahan-perubahan alat genitalia ini dalam keseluruhannya disebut Involusi. Disamping involusi ini juga terjadi perubahan-perubahan lainnya yakni hemokonsentrasi dan proses laktasi.

C. Involusi
Setelah bayi dihirkan kemudian placenta uterus menjadi keras karena kontraksi dan relaksasi otot-ototnya.

1. Tinggi fundus uteri

Involusi

Tinggi Fundus Uteri

Berat Uteri

Bayi lahir
Placenta lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu

Setinggi pusat
2 jari dibawah
pusat
Pertengahan pusat
simpisis
Tidak teraba diatas
simpisis
Bertambah kecil
Sebesar normal

1000 gram
750 gram
500 gram
350 gram
50 gram
80 gram

Uteri menyerupai suatu buah advokat gepeng berukuran panjang lebih kurang 15 cm, lebar lebih kurang 12 cm, dan tebal lebih kurang 10 cm, dinding uterus lebih kurang 5 cm. Bekas inplantasi placenta merupakan suatu luka yang kasar dan menonjol kedalam cavum uteri segera setelah pesalinan,  penonjolan tersebut diameternya ? 7,5 cm setelah 2 minggu diameter 3,5 cm dan pada 6 minggu mencapai 2,4 mm.
Pada keadaan normal berat uterus lebih kurang 30 gram, perubahan ini berhubungan erat dengan keadaan momentum yang mengalami perubahan yang bersifat proteolisis. Otot-otot jelas berkontraksi segera pada post partum, pembuluh-pembuluh darah yang berada diantara anyaman otot-otot uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan setelah plasenta lahir.

2. Serviks
Perubahan-perubahan yang terdapat pada serviks adalah  segera postpartum bentuk serviks agak menganga seperti corong, bentuk ni disebabkan oleh korpus uteri yang dapat  mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi sehingga seolah-olah dan pada perbatasan antara korpus dan serviks uteri terbentuk semacam cincin.
Warna serviks merah kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah, konsistensinya lunak.
• Setelah janin lahir     : dapat dimasukkan tangan pemeriksa
• Setelah 2 jam postpartum    : 2 – 3 jari pemeriksa
• Setelah 1 minggu        : 1 jari pemeriksa
Pada saat post partum pinggir ostium eksternum tidak rata tapi retak-retak karena robekan pada saat persalinan. Pada akhir minggu pertama lingkaran retraksi berhubungan bagian atas dari canalis servikalis, oleh karena hyperplasia dan retraksi serviks, robekan serviks menjadi sembuh, tapi masih terdapat retakan pada pinggir ostium eksternum. Vagina pada minggu ke-3 post partum mulai kembali normal.

3. Endometrium
Perubahan-perubahan yang terdapat pada endometrium ialah timbulnya trombosis, degenerasi dan nekrosis terutama ditempat implantasi placenta.
- Pada hari I tebalnya 2 – 5 mm, pemukaan kasar akibat pelepasan desidua dan selaput janin.
- Setelah 3 hari permukaan mulai rata akibat lepasnya sel-sel dan bagian yang mengalami degenerasi sebagian besar endometrium terlepas.
- Regenerasi endometrium terjadi dan sisa-sisa sel desidua basalis yang memakan waktu 2 – 3 minggu, jaringan-jaringan di tempat implantasi placenta mengalami proses yang sama ialah degenerasi dan kemudian terlepas. Pelepasan jaringan berdegenerasi ini berlangsung lengkap. Dengan demikian tidak ada pembentukan jaringan parut pada bekas impalntasi placenta.

4. Ligamentum-ligamentum, diafragma pelvis, fascia berangsur-angsur Cepat kembali seperti semula.
Tidak jarang ligamentum rotundum menjadi kendur mengakibatkan uterus jatuh ke belakang. Tidak jarang pula wanita mengeluh ‘ kandungannya turun’, setelah melahirkan oleh karena ligamentum fascia jaringan penunjang alat desidua tersebut juga otot-otot dinding perut dengan dasar panggul dianjurkan untuk melakukan latihan-latihan tertentu. Pada hari ke-2 post partum setelah dapat diberikan fisioterapi.

5. Luka-luka jalan lahir
Luka-luka jalan lahir seperti episiotomi yang telah dijahit, luka pada vagina dan serviks umumnya bila tidak seberapa luas akan sembuh permanent, kecuali bila terdapat infeksi, infeksi mungkin mengakibatkan salulitis yang dapat menjalar ke sentral terjadi keadaan sepsis.

D. Hemokonsentrasi
Pada masa hamil didapt hubungan pendek yang dikenal sebagai shunt antara sirkulasi ibu dan plasenta, setelah melahirkan, shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah pada ibu relative akan bertambah, keadaan ini menimbulkan beban pada jantung, sehingga dapat menimbulkan dekompensasi kordis pada penderita vitium kordis, keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan timbulnya hemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti sedia kala. Hal ini terjadi pada hari-hari ke-3 sampai 15 hari post partum.

E.     Laktasi
Sejak kehamilan muda, sudah terdapat persiapan-persiapan pada kelenjar-kelenjar mamma untuk menghadapi laktasi ini, perubahan yang terdapat pada kedua mammae antara lain sebagai berikut.
1. Proliferasi jaringan terutama kelenjar-kelenjar dan alveolus mammae dan lemak.
2. Pada duktus laktiferus terdapat cairan yang kadang-kadang dapat dikeluarkan berwarna kuning (kolostrum).
3. Hipervaskularisasi terdapat pada permukaan maupun pada bagian dalam mammae, pembuluh vena berdilatasi dan tampak dengan jelas.
4. Setelah partus, permukaan menekan estrogen dan progesterone terhadap hipofisis hilang, timbul pengaruh hormone-hormon hipofisis kembali, antara lain laktogenik hormone (prolaktin) yang akan mengakibatkan kelenjar-kelenjar terisi air susu pengaruh hormone oksitosin mengakibatkan miophthelium kelenjar-kelenjar susu berkontraksi sehingga terjadi pengeluaran susu.
Umumnya produksi air susu baru berlangsung benar pada hari ke-2 sampai ke-3 post partum. Pada hari-hari pertama air susu mengandung kolostrum yang merupakan cairan kuning lebih kental daripada air susu, mengandung banyak protein, albumin dan globulin dan benda-benda kolostrum dengan diameter 0,001 – 0,025 mm. Karena mengandung banyak protein dan mudah dicerna maka sebaiknya kolostrum jangan dibuang. Selain pengaruh hormonal tersebut, salah satu rangsangan terbaik untuk mengeluarkan air susu adalah dengan menyusui bagi ibu sendiri.
Kadar prolaktin akan meningkat dengan perangsangan fisik pada putting mammae sendiri dan gonadotropin menurun pada laktasi, tetapi meningkat lagi pada waktu frekuensi menetekkan.
Rangsangan psikis merupakan refleks dari mata ibu ke atas, mengakibatkan oksitosin dihasilkan sehingga air susu dapat dikeluarkan dan pula, sebagai efek sampingan.
Memperbaiki involusi uterus. Keuntungan lain menyusui bayi sendiri ialah akan menjelmanya rasa kasih saying sehingga bertumbuh suatu pertalian yang intim antara ibu dan anak. Air susu ibu (ASI) mempunyai sidat melindungi bayi terhadap infeksi seperti gastroenteritis, radang jalan pernapasan dan paru-paru, ototos media. Sambungan air susu ibu mengandung lactoferin, lysozyme, dan immuno globulin A.

F. Perubahan lain Saat Nifas
1. After pain atau mules-mules sesudah partus akibat kontraksi uterus, kadang-kadang sangat menganggu selama 2 -3 hari post partum, perasaan mules ini lebih terasa bila wanita tersebut sedang menyusui, perasaan sakit ibu pun timbul bila masih terdapat sisa-sisa dan selaput ketuban, sisa placenta atau gumpalan darah di dalam kavum uteri.
2 . Vital Sign
Suhu
• Saat partus lebih 37,2 ?C
• Sesudah partus naik 0,5 ?C
• 12 jari pertama suhu kembali normal
• suhu lebih 38 ?C mungkin ada infeksi.
Nadi
• 60 – 80 kali/menit
• segera setelah partus bradikardi.
Tekanan darah
Tekanan darah meningkat karena upaya persalinan dan keletihan, hal ini akan normal kembali dalam waktu 1 jam.
3. Pengeluaran per vaginam
Lokhea adalah cairan secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas.
Hari 1 – 3 : lokhea rubra
Terdiri atas darah segar bercampur sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, sisa-sisa verniks kaseosa, lanugo dan mekonium. Dalam keadaan abnormal ; bekuan banyak, bau agak busuk, mengganti pembalut terus menerus.
Hari 3 – 7 : lokhea sanguinolenta
Berwarna merah kuning, berisi darah dan lender.
Hari 7 – 14 : lokhea serosa
Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi.
Setelah 2 minggu : lokhea alba
Cairan putih, bau agak sedikit amis.
Keadaan abnormal dari pengeluaran lokhea yaitu :
• Perdarahan berkepanjangan
• Pengeluaran lokhea tertahan (lokheastatis)
• Lokhea purulenta, berisi nanah, dan berbau busuk
• Rasa nyeri yang berlebihan
• Dengan memperhatikan bentuk perubahan, dapat diduga
• Terdapat sisa plasenta yang merupakan sumber perdarahan
• Terjadi infeksi intrauteri.
4. Vital sign setelah kelahiran anak
Temperature
Selama 24 jam pertama mungkin kenaikan menjadi 38 ?C (100,4?F) disebabkan oleh efek dehidrasi dari persalinan, kerja otot yang berlebihan selama kala II dan fluktuasi hormone. Setelah 24 jam wanita keluara dari febris.
Nadi
Nadi panjang dengan stroke volume dan cardiac output, sisa kenaikan pada jam pertama atau demikian setelah melahirkan anak. Kemudian mulai berkurang rata-rata yang tidak diketahui. Dalam 8 sampai 10 minggu setelah kelahiran anak, harus turun ke rata-rata sebelum hamil.
Pernapasan
Pernapasan akan jauh ke dalam keadaan normal wanita sebelum persalinan.
Tekanan darah
Tekanan darah berubah rendah semua. Atosiatik hipotensi adalah indikasi merasa pusing atau pusing tiba-tiba setelah bangun, dapat terjadi 48 jam pertama dihasilkan oleh spraichnic engorgement yang mungkin terjadi setelah persalinan.

G. Perawatan Post Partum
1. Mobilisasi
Umumnya wanita sangat lelah setelah melahirkan. Ibu harus istirahat , tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan kemudian boleh miring-miring kekiri dan kekanan untuk mencegah adanya trombosis dan tromboemboli. Pada hari ke-2 diperbolehkan duduk dan latihan-latihan senam, hari ke-3 jalan-jalan, hari ke-4 atau 5 boleh dipulangkan. Mobolisasi diatas mempunyai variasi, bergantung pada komplikasi persalinan, nifas dan sembuhnya luka-luka.
2. Diet
Makanan harus bermutu tinggi, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya makan-makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan.
3. Miksi
Berkemih harus secepatnya dapat dilakukan sendiri. Kadang-kadang wanita mengalami sulit kencing karena sfingter uretra ditekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi m.sphincter ani selama persalinan, juga oleh karena adanya edema kandung kemih yang terjadi selama persalinan. Bila kandung kemih penuh dan wanita sulit kencing sebaiknya dilakukan kateterisasi.
4. Defekasi
Dorong air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila masih sulit buang air besar dan terjadi obstipasi apalagi  berak merah dapat diberikan obat laksans per oral atau per rectal. Bila masih belum bisa dilakukan klisma.
5. Perawatan Mammae
Kedua mammae harus sudah dirawat selama kehamilan, areolam mammae dan putting susu dicuci teratur dengan sabun dan diberi minyak atau cream, agar tetap lemas, jangan sampai mudah lecet atau pecah-pecah sebelum menyusui mamae harus dibuat lemas dengan melakukan massage secara menyeluruh. Setelah areola mammae dan putting susu dibersihkan, barulah bayi dususui, bila bayi meninggal, laktasi harus dihentikan dengan cara :
• Pembalutan mammae sampai tertekan
• Pemberian obat estrogen untuk supresi LH seperti tablet lynoral dan periodel, etomocryptin sehingga pengeluaran LH berlebihan

H. Pemeriksaan Post Natal
Ada kebiasaan atau kepercayaan bahwa wanita bersalin baru boleh keluar rumah setelah habis nifas yaitu 40 hari. Bagi wanita dengan persalinan normal ini baik dan dilakukan pemeriksaan kembali 6 minggu setelah persalinan normal bagi wanita dengan persalinan luar biasa harus kembali untuk control seminggu kemudian.
Pemeriksaan post natal antara lain meliputi :
a. Pemeriksaan umum : tekanan darah, nadi, keluhan dan sebagainya.
b. Keadaan umum : suhu badan, selera makan, dan lain-lain.
c. Payudara : ASI dan putting susu.
d. Dinding perut apakah ada hernia
e. Keadaan perineum
f. Kandung kemih, apakah ada sistokel dan uretrokel.
g. Rectum, apakah ada rektrokel dan pemeriksaan tonus muskulus spingter ani
h. Adanya flour albus
i. Keadaan serviks, uterus dan adneksa.
Nasehat untuk ibu post natal :
a. Fisioterapi postnatal sangat baik bila diberikan
b. Sebaiknya bayi disusui
c. Kerjakan gymnastic (senam nifas)
d. Untuk kesehatan ibu, bayi dan keluarga sebaiknya melakukan KB untuk menjarangkan anak.
e.  Bawalah bayi anda untuk memperoleh informasi.

I. Adaptasi Psikososial Pada Postpartum
Fase-fase transisi :
- Fase antisipasi kehamilan
Fase antisipasi menjadi orang tua, membuat keputusan dan harapan membagi pekerjaaan dalam keluarga.
- Fase bulan madu (periode post partum)
Kontak lebih lama dan rutin, menggali keadaan anggota keluarga yang baru
Menurut Rubin, fase adaptasi ibu     :
1. Taking In
- Dependent, kelelahan
- Pasif
- Focus pada diri sendiri
- Perlu tidur dan makan
taking in ini timbul pada jam pertama kelahiran sampai 1-2 hari
2. Taking Hold
- Dependent
- Independence
- Focus melibatkan bayi
- Melakukan perawatan diri sendiri
- Waktu yang baik untuk penyuluhan
- Dapat menerima tanggung jawab
3. Letting Go
- Independent pada pecan yang baru
- Letting go terganti pada hari-hari terakhir pada minggu pertama persalinan

J. Diagnosa Keperawatan Intervensi dan Rasional
1. Nyeri berhubungan dengan episiotomi, trauma jalan lahir, after pain, ketidanyamanan payudara.
Tujuan : Nyeri hilang/berkurang
Intervensi :
a. Kaji adanya lokasi dan sifat nyeri
R/ mengidentifikasi kebutuhan khusus dan intervensi yang tepat.
b. Inspeksi perbaikan perineum dan episiotomi, perhatikan edema, ekimosis, nyeri tekan local, eksudat purulent.
R/ dapat menunjukkan trauma berlebihan pada jaringan perineal dan atau terjadinya komunikasi yang memerlukan evaluasi/intervensi lanjut.
c. Anjurkan duduk dengan otot gluteal terkontraksi diatas perbaikan episiotomi.
R/ penggunaan pengencangan gluteal saat duduk menurunkan stress dan tekanan langsung pada perineum.
d. Kaji nyeri tekan uterus, tentukan adanya dan frekuensi/intensitas afterpaint.
R/ selama 12 jam pertama post partum kontraksi uterus kuat dan regular, dan ini berlanjut selama 2 – 3 hari selanjutnya, meskipun frekuensi dan intensitasnya berkurang.
e. Anjurkan klien berbaring tengkurap dengan kontak dibawah abdomen dan melakukan aktivitas persalinan.
R/ meningkatkan kenyamanan, meningkatkan rasa control dan kembali memfokuskan perhatian.
f. Inspeksi payudara dan jaringan putting, kaji adanya pembesaran dan atau putting pecah-pecah.
R/ pada 24 jam post partum, payudara harus lunak dan tidak penuh, dan puting harus bebas dari pecah-pecah atau area kemerahan, pembesaran payudara, nyeri tekan putting atau adanya pecah-pecah pada putting dapat terjadi hari ke-2 sampai ke-3 postpartum.
g. Anjurkan menggunakan penyokong
R/ mengangkat payudara ke dalam dan kedepan mengakibatkan posisi lebih nyaman.
h. Berikan analgetik 30 – 60 menit sebelum menyusui
R/ memberikan kenyamanan, khususnya selama laktasi, bila afterpaint paling hebat karena pelepasan oksitosin, bila klien bebas dari ketidaknyamanan ia dapat memfokuskan pada perawatannya sendiri dan bayinya dan pada pelaksanaan tugas –tugas mengenai ibu.

2. Menyusui tak efektif berhubungan dengan isapan bayi kurang, tingkat pengetahuan pengalaman.
Tujuan : Menyusui menjadi efektif
a. Kaji pengetahuan dan pengalamam klien tentang menyusui sebelumnya
R/ membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan saat ini dan mengembangkan rencana perawatan.
b. Berikan informasi, verbal dan tertulis, mengenal fisiologi dan keuntungan menyusui, perawatan putting dan payudara, kebutuhan diet khusus, dan factor-faktor yang memudahkan atau mengganggu keberhasilan menyusui.
R/ membantu menjamin kandungan susu adekuat, mencegah putting pecah dan luka, memberikan kenyamanan dan membuat peran ibu menyusui.
c. Demonstrasikan dan tinjau ulang teknik-teknik menyusui
R/ posisi yang tepat biasanya mencegah luka putting tanpa memperhatikan lamanya menyusui.
d. Kaji putting klien ; anjurkan klien melihat putting setiap habis menyusui
R/ identifikasi dan intervensi dini dapat mencegah / membatasi terjadinya luka atau pecah putting, yang dapat merusak proses menyusui
e. Anjurkan klien untuk mengeringkan putting dengan udara selama 20 – 30 menit, instruksikan klien menghindari penggunaan sabun atau penggunaan bantalan bra berlapis elastic dan mengganti pembalut bila bosan atau lembab.
R/ pemajanan pada udara atau panas membantu mengencangkan putting, sedangkan sabun dapat menyebabkan kering.
f. Anjurkan penggunaan kompres es sebelum menyusui dan taruhan putting dengan memutar diantara ibu jari dan jari tengah dan menggunakan teknik hoffman.
R/ latihan dan kompres es membantu membuat putting lebih ereksi, teknik hoffman melepaskan perlengketan yang menyebabkan inverse putting.

3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan dan atau kerusakaan kulit, penurunan HB, prosedur invasive dan atau peningkatan pemajanan lingkungan .
Tujuan : Infeksi tidak terjadi
Intervensi :
a. Pantau suhu dan nadi dengan rutin ; catat tanda-tanda menggigil, anoreksia atau malaise.
R/ peningkatan suhu sampai 38,3?C dalam 24 jam pertama menandakan infeksi.
b. Kaji lokasi dan kontraktilitas uterus ; perhatikan perubahan involusional atau adanya nyeri tekan uterus eksterm.
R/ fundus yang pada awalnya 2 cm dibawah umbilicus meningkat 1 -2 cm/hari. Kegagalan miometrium untuk involusi pada kecepatan ini, atau terjadinya nyeri tekan eksterm, menandakan kemungkinan tertahannya jaringan plasenta atau imflamasi.
c. Catat jumlah dan bau rabas lakhial atau perubahan pada kehilangan normal dan rubra menjadi serosa
R/ lokhea secara normal mempunyai bau amis/daging, namun pada endometritis, rabas mungkin purulen dan bau busuk, mungkin gagal untuk menunjukkan kemajuan normal dari rubra menjadi serosa sampai alba.
d. Anjurkan perawatan perineal dan mandi setiap hari dan ganti pembalut perineal sedikitnya setiap 2 jam dari depan ke belakang.
R/ pembersihan sering dari depan ke belakang (simfisis pubis kearah anal) membantu mencegah kontaminasi rectal memasuki vaginan atau uretra.
e. Anjurkan dan gunakan teknik mencuci tangan cermat dan pembuangan pembalut yang kotor.
R/ membantu mencegah atau menghalangi penyebaran infeksi.

4. Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan  efek-efek hormonal (perpindahan cairan/peningkatan aliran plasma ginjal), trauma mekanis, edema jaringan, efek-efek anastesia.
Tujuan : Eliminasi urin menjadi normal
Intervensi :
a. Kaji masukan cairan dan haluaran urin terakhir
R/ pada periode pasca natal awal, kira-kira 4 kg cairan hilang, melalui haluaran urin dan kehilangan tidak kasat mata termasuk dioforesis.
b. Anjurkan berkemih dalam 5 – 8 jam post partum, alirkan air hangat diatas perineum.
R/ kandung kemih penuh mengganggu motilitas dan involusi uterus dan meningkatkan lokhea, distensi berlebihan kandung kemih dalam waktu lama dapat merusak dinding kandung kemih.
c. Anjurkan minum 6 sampai 8 gelas  cairan perhari
R/ membantu mencegah static dan dehidrasi dan mengganti cairan yang hilang waktu melahirkan.
d. Pasang kateter urin sesuai indikasi
R/ untuk mengurangi distensi kandung kemih, untuk memungkinkan involusi uterus dan mencegah atoni kandung kemih karena distensi belebihan.

5. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan penurunan masukan/pergantian tidak adekuat, kehilangan cairan berlebihan (diaforesia, hemoragi, peningkatan haluaran urin, muntah.)
Tujuan : Kekurangan volume cairan tidak terjadi
Intervensi :
a. Kaji tanda-tanda vital
R/ takikardia dapat terjadi memaksimalkan sirkulasi cairan, pada kejadiandehidrasi atau hemoragi, peningkatan TD larema obat-obat vasopressor oksitosin, penurunan TD merupakan tanda lanjut dan kehilangan cairan berlebihan.
b. Perhatikan adanya rasa haus berikan cairan sesuai toleransi
R/ rasa haus mungkin diperlukan cara homeostasis dari pergantian cairan melalui peningkatan rasa haus.
c. Evaluasi masukan cairan dan haluaran urin selama diberikan infuse i.v atau sampai pola berkemih menjadi normal.
R/ membantu dalam analisa keseimbangan cairan dan derajat kekurangan.
d. Pantau pengisian payudara dan suplai ASI bila menyusui
R/ klien dehidrasi tidak mampu menghasilkan ASI adekuat
e. Berikan cairan i.v yang mengandung elektrolit
R/ membantu menciptakan volume dasar sirkulasi dan menggantikan kehilangan korona dan kelahiran dan diaforesis

6. Resiko tinggi kelebihan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan setelah kelahiran plasenta, ketidakadekuatan pergantian cairan, efek-efek infuse oksitosin.
Tujuan : Kelebihan voleume cairan tidak terjadi.
Intervensi :
a. Pantau TD. Nadi, auskultasi bunyi napas, perhatikan batuk berdahak, bising (rales) atau ronkhi, perhatikan adanya dispnea atau stridor.
R/ kelebihan sirkulasi dimanifestasikan dengan pengingkatan TD dan nadi dan akumulasi cairan pada paru-paru   
b. Kaji adanya, lokasi dan luasnya edema
R/ bahaya eklamsia atau kejang ada selama 72 jam, tetapi dapat terjadi secara actual selambat-lambatnya 5 hari setelah kelahiran
c. Evaluasi keadaan neurologis klien, perhatikan hiperrefleksia, peka rangsang atau perubahan kepribadian
R/ intoksikasi cerebral adalah indicator awal dari kelalahan retensi cairan.
d. Pasang kateter indwelling sesuai indikasi
R/ untuk memantau haluaran urin setiap hari bila dibutuhkan oleh kondisi klien.
e. Berikan furosemid (lasix) sesuai indikasi
R/ furosemid bekerja pada ansa henle untuk meningkatkan haluaran urin dan menghilangkan edema pulmonal

7. Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot, efek-efek progesterone, dehidrasi, kelebihan analgetik atau anstesia, diare prapersalinan, kurang masukan, nyeri perineal.
Tujuan :  Proses defekasi menjadi normal
Intervensi :
a. Auskultasi adanya bising usus ; perhatikan kebiasaan pengosongan normal atau diastosis rekti.
R/ mengevaluasi fungsi usus. Adanya diastosis rekti berat menurunkan tonus otot abdomen yang diperlukan untuk upaya mengejan selama pengosongan.
b. Berikan informasi diet yang tepat tentang pentingnya makanan kasar, peningkatan cairan dan upaya untuk membuat pola pengosongan normal.
R/ makanan kasar (mis, buah-buahan dan sayuran khususnya dengan biji dan kulit dan peningkatan cairan menghasilkan builk dan merangsang eliminasi.
c. Anjurkan peningkatan tingkat aktivitas dan ambulasi,sesuai toleransi.
R/ membantu meningkatkan peristaltic gastrointestinal
d. Kaji episiotomi ; perhatikan adanya laserasi dan derajat keterlibatan cairan.
R/ edema berlebihan atau trauma perineal dengan laserasi derajat ketiga dan keempat dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan mencegah klien dan merelaksasi perineum selama pengosongan karena takut untuk terjadi oedema selanjutnya.
e. Berikan laksatif, pelunak feses, supositoria atau enema.
R/ untuk meningkatkan kembali kebebasan defekasi normal dan mencegah mengejan atau stress perianal selama pengosongan.

8. Resiko tinggi terhadap perubahan menjadi orang tua berhubungan dengan kurang dukungan dari orang terdekat, kurang pengetahuan, stressor.
Tujuan :
Intervensi :
a. Kaji  kekuatan, kelemahan, usia, status perkawinan, ketersediaan sumber pendukung dan latar belakang budaya.
R/ mengidentifikasi factor-faktor resiko potensial dan sumber-sumber pendukung yang mempengaruhi kemampuan klien/pasangan untuk menerima tantangan peran menjadi orang tua.
b. Perhatikan respons klien/pasangan terhadap keahlian dan peran menjadi orang tua.
R/ kemampuan klien untuk beradaptasi secara positif untuk menjadi orang tua mungkin dipengaruhi oleh reaksi ayah yang kuat.
c. Kaji ketrampilan komunikasi interpersonal pasangan dan hubungan mereka satu sama lain.
R/ hubungan yang kuat diartikan dengan komunikasi yang jujur dan ketrampilan mendengan dan interpersonal yang baik membantu mengembangkan pertumbuhan.
d. Berikan ‘rawat bersama’/ruang fisik dan privasi untuk kontak diantara ibu, ayah dan bayi.
R/ memudahkan kedekatan, membantu mengembangkan proses pengenalan.
e. Anjurkan pasangan/sibung untuk mengunjungi dan menggendong bayi dan konstipasi pada aktivitas perawatan bayi secara rutin
R/ membantu meningkatkan ikatan dan mencegah perasaan putus asa. Menentukan realitas keadaan bayi

9. Resiko tinggi terhadap koping individual tak efektif berhubungan dengan krisis maturasional dari kehamilan/mengasuh anak dan melakukan peran ibu dan menjadi orang tua, kecemasan personal, ketidakadekuatan system pendukung, persepsi tidak realistis.
Tujuan :
Koping individual tak efekti ftak terjadi
Intervensi :
a. Kaji terhadpa gejala depresi yang fana (perasaan sedih post partum) pada hari  ke-2 sampai ke-3 mis; ansietas, menangis, kesedihan, konsentrasi yang buruk.
R/ ibu-ibu mengalami depresi sementara atau perasaan emosi kecewa serelah melahirkan mungkin berhubungan dengan factor-faktor genetic, sosial atau lingkungan atau respons endokrin fisiologis
b. Berikan dukungan emosional dan bimbingan antisipasi untuk membantu klien mempelajari peran baru dan strategis untuk koping terhadap bayi baru lahir.
R/ ketrampilan menjadi ibu/orang tua bukan secara insting tetapi harus dipelajari. Penanganan tidur terganggu dan pemenuhan kebutuhan bayi selama 24 jam mungkin sulit dan strategi koping harus dikembangkan
c. Anjurkan pengungkapan rasa bersalah, kegagalan pribadi, atau keragu-raguan tentang kemampuan menjadi orang tua, khususnya bila keluarga beresiko tinggi terhadap masalah-masalah menjadi orang tua
R/ membantu pasangan kekuatan dan area masalah secara realistis dan mengenali kebutuhan terhadap bantuan profesional yang tepat.

10. Gangguan pola tidur berhubungan dengan repsons hormonal dan psikologis, nyeri/ketidaknyamanan, proses persalinan dan kelahiran melahirkan.
Tujuan : gangguan pola tidur teratasi
Intervensi :
a. Kaji tingkat keleahan dan kebutuhan untuk istirahat, catat lama persalinan dan jenis kelahiran.
R/ persalinan atau kelahitran yang lama dan askit khususnya bila ini terjadi malam meningkatkan tingkat kelelahan
b. Kaji factor-faktor,bila ada yang mempengaruhi istirahat, minimalkan gangguan dan beri istirahat serta periode tidur yang eksatra, berikan lingkungan yang tenang.
R/ membantu meninfkatkan istirahat tidur dan relaksasi dan menurunkan rangsang
c Berikan informasi tentang efek-efek kelelahan dan ansietas pada suplai ASI..
R/ kelelahan dapat mempengaruhi penilaian psikologis, suplai ASI dan penurunan refleks secara psikologis
d. Berikan informasi tentang kebutuhan untuk tidur/istirahat setelah kembali ke rumah.
R/ rencana yang kreatif yang membolehkan untuk tidur dengan bayi lebih awal serta tidur siang membantu untuk memenuhi kebutuhan tubuh serta mengatasi kelelahan yang berlebihan
e. Berikan obat-obatan (analgetik)
R/ mungkin diperlukan untuk meningkatkan relaksasi dan tidur sesuai kebutuhan

11. Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan perawatan bayi berhubungan dengan kurang mengingat,  kesalahan interpretasi, tidak mengenal sumber-sumber (informasi).
Tujuan :
Klien dapat mengungkapkan pemahaman self care
Intervensi :
a. Kaji persepsi klien tentang persalinan dan kelahiran, lama persalinan dan tingkat kelelahan klien.
R/ makin lama persalinan,makin negative persepsi klien tentang kinerja persalinan dan semakin lama hal tersebut membuat lien memikul tanggung jawab terhadap perawatan dan mensintesa informasi baru serta peran-peran baru.
b. Berikan informasi tentang peran program latihan post partum progresif
R/ latihan membantu tonus otot, meningkatkan srkulasi, menghasilkan tubuh yang seimbang dan meningkatkan perasaan sejahtera secara umum
c. Berikan informasi tentang perawatan diri, termasuk perawatan perineal dan hygiene.
R/ membantu mencegah infeksi, mempercepat pemulihan dan penyembuhan dan berperan pada adaptasi yang positif  dari perubahan fisik dan emosional
d. Berikan informasi tentang ketersediaan metode termasuk keuntungan dan kerugian
R/ pasangan mungkin memerlukan kejelasan mengenal ketersediaan metoda kontrasepsi dan kenyataan bahwa kehamilan dapat terjadi.
e. Diskusikan perubahan fisik dan psikologis yang normal dan kebutuhan-kebutuhan yang berkenaan dengan periode kecepatan
R/ status emosional klien mungkin kadang-kadang labil pada saat ini dan sering dipengaruhi oleh kesejahteraan fisik. Antisipasi perubahan ini dapat menurunkan stress.

Sunday, October 15, 2017

LAPORAN PENDAHULUAN DYSPEPSIA


laporan pendahuluan dispepsia meliputi pengertian dan rencana keperawatan
A. DEFINISI
Dispepsia berasal dari bahasa Yunani (Dys) berarti sulit dan Pepse berarti pencernaan. Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan (Mansjoer A edisi III, 2000 hal : 488). Pengertian dyspepsia  terbagi dua : (Mansjoer Arif, 2001)
a. Dyspepsia organic, bila telah di ketahui adanya kelainan organic sebagai penyebabnya.
b. Dyspepsia non organic atau dyspepsia fungsional, atau dyspepsia non ulkus,  bila tidak jelas penyebabnya.
Dyspepsia mengacu pada rasa kenyang yang tidak mengenyangkan sesudah makan, yang berhubungan dengan mual, sendawa, nyeri ulu hati dan mungkin kram dan begah perut. Sering kali diperberat oleh makanan yang berbumbu, berlemak atau makanan berserat tinggi, dan oleh asupan kafein yang berlebihan, dyspepsia tanpa kelainan lain menunjukkan adanya gangguan fungsi pencernaan (Williams & Wilkins, 2011)
Dyspepsia merupakan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari nyeri ulu hati, mual, kembung, muntah, rasa penuh, atau cepat  kenyang, sendawa (Dharmika, 2001).

B. ETIOLOGI
Seringnya, dyspepsia disebabkan oleh ulkus lambung atau penyakit acid reflux. Hal ini menyebabkan nyeri di dada. Beberapa perubahan yang terjadi pada saluran cerna atas akibat proses penuaan, terutama pada ketahanan mukosa lambung (Wibawa, 2006). Kadar lambung lansia biasanya mengalami penurunan hingga 85%. Beberapa obat-obatan, seperti obat anti-inflammatory, dapat menyebabkan dispepsia.  Terkadang penyebab dyspepsia belum dapat ditemukan.
Penyebab dyspepsia secara rinci adalah:
1. Menelan udara (aero fagi)
2. Regurgitasi (alir balik, refluks) asam dari  lambung
3. Iritasi lambung (gastritis)
4. Ulkus gastri kumat atau ulkus duodenalis
5. Kanker lambung
6. Peradangan kandung empedu (kolesistitis)
7. Intoleransi laktosa (ketidak mampuan mencerna susu dan produknya)
8. Kelainan gerakan usus
9. Stress psikologis, kecemasan, atau depresi
10.Infeksi Helicobacter pylory
11. Perubahan pola makan
12. Pengaruh obat-obatan yang dimakan secara berlebihan dan dalam waktu yang lama
13. Alkohol dan nikotin  rokok

C. PATOFISIOLOGI
Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang tidak jelas, zat-zat seperti nikotin dan alcohol serta adanya kondisi kejiwaan stress. Pemasukan makanan menjadi kurang dapat mengakibatkan erosi pada lambung akibat gesek anantara dinding-dinding lambung. Kondisi Demikian dapat mengakibatkan peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya kondisi asam pada lambung, sehingga rangsangan di medulla oblongata membawa impuls muntah sehingga intake tidak adekuat baik makanan maupun cairan.
patofis dispepsia

D. GAMBARAN KLINIK
1. Nyeri perut (abdominal discomfort)
2. Rasa perih di ulu hati
3. Mual, kadang-kadang sampai muntah
4. Nafsu makan berkurang
5. Rasa lekas kenyang
6. Perut kembung
7. Rasa panas di dada dan perut
8. Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba)

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan untuk penanganan dispepsia terbagi beberapa bagian, yaitu:
1. Pemeriksaan laboratorium biasanya meliputi hitung jenis se ldarah yang lengkap dan pemeriksaan darah dalam tinja dan urine.  Lebih banyak ditekankan untuk menyingkirkan penyebab organic lainnya antara lain pancreatitis kronis, DM. Pada dyspepsia biasanya hasil laboratorium dalam batas normal.
2. Barium enema untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus halus dapat dilakukan pada orang yang mengalami kesulitan menelan atau muntah, penurunan berat badan atau mengalami nyeri yang membaik atau memburuk bila penderita makan (Mansjoer, 2007).
3. Endoskopi  bias digunakan untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus kecil untuk mendapatkan contoh jaringan untuk biopsy dari lapisan lambung. Contoh tersebut kemudian diperiksa dibawah mikroskop untuk mengetahui apakah lambung terinfeksi oleh Helicobacter pylori.
4. Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan radiologi, yatu OMD dengan kontras ganda, serologi Helicobacter pylori, dan urea breath test (belum tersedia di Indonesia) (Mansjoer, 2007

F. KOMPLIKASI
Penderita sindroma dispepsia selama bertahun-tahun dapat memicu adanya komplikasi yang tidak ringan. Adapun komplikasi dari dispepsia antara lain:
a. Perdarahan
b. Kangker lambung
c. Muntah darah
d. Ulkus peptikum

G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan dyspepsia dibagi atas dua yaitu non farmakologi dan farmakologi : (MonsjoerArif, 2001)
1. Penatalaksanaan non farmokologi
a. Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung
b. Menghindarai factor resiko seperti alkohol, makanan yang pedas, obat-obatan yang berlebihan, nikotin, rokok, dan stress.
c. Atur pola makan
2. Penatalaksanaan farmakologi
Sampai sekarang belum regimen pengobatan yang memuaskan terutama dalam mengantisipasi kekambuhan. Hal ini dapat di mengerti karena froses fatofisiologi pun belum jelas.
Obat-obatan yang di berikan pada klien dyspepsia meliputi :
a. antasid (menetralkan asam lambung).
b. Golongan anti koli nergi (menghambat pengeluaran asam lambung), dan
c. prognetik (mencegah terjadinya muntah)

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeriuluhatiberhubungandenganiritasidaninflamasipadalapisanmukosa, submukosa, danlapisanototlambung
b. Nutrisikurangdarikebutuhantubuhberhubungandengandisfagia, esofagitisdan anorexia.
c. Ketidakseimbangancairanberhubungandengan gastroenteritis
d. Intoleransiaktivitasberhubungandengankelemahanfisik

I. INTERVENSI KEPERAWATAN
a. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung.
Tujuan : Terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri.
Kriteria hasil: klien melaporkan terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri.

INTERVENSI

RASIONAL

1.     Kaji tingkat nyeri, beratnya (skala 0 – 10)
2.     Berikan istirahat dengan posisi semifowler
3.     Anjurkan klien untuk menghindari makanan yang dapat
meningkatkan kerja asam lambung
.
4.     Anjurkan klien untuk tetap mengatur waktu makannya.
5.     Observasi TTV
6.     Diskusikan dan ajarkan teknik relaksasi
7.     Kolaborasi dengan pemberian obat analgesik

1.     Berguna dalam pengawasan kefektifan obat, kemajuan penyembuhan
2.     Dengan posisi semi-fowler dapat menghilangkan tegangan abdomen
yang bertambah dengan posisi telentang
3.     dapat menghilangkan nyeri akut/hebat dan menurunkan aktivitas
peristaltik
4.     mencegah terjadinya perih pada ulu hati/epigastrium
5.     sebagai indikator untuk melanjutkan intervensi berikutnya
6.     Mengurangi rasa nyeri atau dapat terkontrol
7.     Menghilangkan rasa nyeri dan mempermudah kerjasama dengan
intervensi terapi lain
b. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah makan, esofagitis dan anoreksia.
Tujuan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang diharapkan individu
Kriteria hasil: klien menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi

INTERVENSI

RASIONAL

1.     Pantau dan dokumentasikan dan haluaran tiap jam secara adekuat
2.     Timbang BB klien
3.     Berikan makanan sedikit tapi sering
4.     Catat status nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat
badan, integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus,
riwayat mual/rnuntah atau diare.
5.     Kaji pola diet klien yang disukai/tidak disukai.
6.     Monitor intake dan output secara periodik.
7.     Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada
hubungannya dengan medikasi. 
Awasi frekuensi,
volume, konsistensi Buang Air Besar (BAB).

1.       Untuk mengidentifikasi indikasi / perkembangan dari hasil yang
diharapkan
2.       Membantu menentukan keseimbangan cairan yang tepat
3.       Meminimalkan anoreksia, dan mengurangi iritasi gaster
4.       Berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi
yang tepat 
Berguna dalam pengawasan
kefektifan obat, kemajuan penyembuhan
.
5.       Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan
intake diet klien.
6.       Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan.
7.       Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan
masalah untuk meningkatkan intake nutrisi.

c. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual, muntah dan diare
Tujuan : Menyatakan pemahaman faktor penyebab dan prilaku yang perlu untuk memperbaiki defisit cairan.
Kriteria hasil: klien mempertahankan/menunjukkan perubahan keseimbangan cairan, dibuktikan stabil, membran mukosa lembab, turgor kulit baik.

INTERVENSI

RASIONAL

1.
Awasi tekanan darah dan nadi, pengisian kapiler, status membrane
mukosa, turgor kulit.
2.
Awasi jumlah dan tipe masukan cairan, ukur haluaran urine
dengan akurat.
3.
Diskusikan strategi untuk menghentikan muntah dan penggunaan laksatif/diuretik.
4.
Identifikasi rencana untuk meningkatkan/mempertahankan keseimbangan
cairan optimal misalnya jadwal masukan cairan.
5.
Berikan/awasi hiperalimentasi IV

1.
Indikator
keadekuatan volume sirkulasi perifer dan hidrasi seluler.
2.
Klien
tidak mengkomsumsi cairan sama sekali mengakibatkan dehidrasi atau mengganti cairan
untuk masukan kalori yang berdampak pada keseimbangan elektrolit.
3.
Membantu
klien menerima perasaan bahwa akibat muntah dan atau penggunaan laksatif/diuretic
mencegah kehilangan cairan lanjut.
4.
Melibatkan
klien dalam rencana untuk memperbaiki keseimbanga nuntuk berhasil.
5.
Tindakan
darurat untuk memperbaiki ketidak seimbangan cairan elektroli
d. Intoleransiaktivitasberhubungandengankelemahanfisik
Tujuan: menunjukkan kemampuan beraktivitas
Kriteria hasil: klien menyatakan mampu menggerakkan tubuh

INTERVENSI

RASIONAL

1.
Kaji
kemampuan klien untuk melakukan aktivitas dan catat laporan kelelahan.
2.
awasi
vital sign: TD, nadi, pernapasan sebelum dan sesudah aktivitas.
3.
Beri
bantuan dalam melakukan aktivitas

1.  
Untuk
melakukan intervensi selanjutnya
2.  
Untuk
mengetahui kondisi klien
3.  
Menjaga
keamanan klien, dan menghemat energy klien